Lawan Stunting di Sonimanu, Anastasia: Mereka Seperti Anak Saya Sendiri!

Perjuangan Anastasia yang sudah mengabdi selama sembilan tahun di Puskemas Sonimanu kini terbantu dengan lehadiran internet. Kecepatan informasi membuatnya optimistis, angka stunting bisa diturunkan.

Inibaru.id –Menjadi daerah terselatan Indonesia, Kabupaten Rote Ndao dihadapkan dengan berbagai permasalahan kesehatan. Salah satunya adalah masalah stunting yang terjadi pada bayi dan balita. Dan, inilah kisah Anastasia B Dego, ahli gizi yang mengabdikan diri di Puskesmas Sonimanu untuk memawan stunting.

Sonimanu merupakan sebuah desa di Kecamatan Pantai Baru, Kabupaten Rote Ndao. Selama sembilan tahun, Anastasia mengabdi di puskesmas yang melayani tujuh desa di sekitar puskesmas. Menurutnya, stunting menjadi masalah yang cukup besar di sana.

Kini, ada sekitar 199 anak dan balita stunting yang terdata di Puskesmas Sonimanu. Hal ini disebabkan oleh berbagai faktor, antara lain masalah asupan gizi, pola asuh, ASI eksklusif, vitamin saat kehamilan, air bersih, hingga santasi.

Mengetahui bayi diberi minum dengan air gula sebelum waktunya dan bersantap dengan garam membuat Anastasia miris. Mengetahui hal itu, dirinya berupaya untuk terus melakuakn penyuluhan dan pendistribusian makanan sehat terhadap bayi dan ibu hamil.

“Kami melakukan penyuluhan dan memberikan makanan berupa telur dan abon ikan,” ungkap perempuan tiga anak ini.

Namun, meski giat memberikan penyuluhan, dirinya kerap kecewa lantaran para peserta nggak mempraktikannya saat tiba di rumah.

“Kecewa juga ada. Terus-terus lakukan penyuluhan, tapi hasilnya seperti itu,” keluhnya. Raut kesedihan memenuhi wajahnya.

Berawal dari Pengalaman

Perhatiannya pada kasus stunting ini berawal saat dirinya dapat pencerahan sewaktu merawat buah hatinya yang pertama, Farel. Anastasia mengakui, dia nggak memberikan ASI eksklusif yang kemudian tahu bahwa hal tersebut dapat memicu stunting dan gizi buruk pada anak.

“Jadi, mulai anak kedua, saya terapkan ASI ekslusif. Begitu juga dengan Mario (anak ketiga). Dan, beri dia makanan-makanan bergizi,” ungkapnya.

Mulai saat itulah, dirinya fokus untuk mengabdikan dirinya untuk mencegah stunting pada 1.000 hari kehidupan pertama anak. Pelayanan tersebut dia lakukan semenjak kehamilan ibu.

Berbagai upaya dia lakukan, salah satunya kerja sama untuk mendapatkan abon ikan yang selanjutnya didistribusikan untuk lauk para balita.  

Internet Percepat Layanan

Anastasia sempat mengalami kendala saat melakukan pencatatan data untuk dilaporkan pada TPG gizi. Dalam sela-sela tugasnya, dia kadang harus berjuang untuk mendapatkan sinyal telepon. Bahkan, dirinya harus memanjat pohon agar mendapat sinyal untuk berkoordinasi.

Pencatatan data tersebut meliputi sistem pencatatan, pelayanan gizi di dalam dan luar ruangan, koordinasi sarana logistik berupa alat antropometris maupun suplemen gizi yang harus dipakai di lapangan.

Meski beberapa pencatatan masih menggunakan sistem manual, sebagian besar sudah berupa pencatatan daring yang memerlukan sinyal internet.

Kehadiran BAKTI dengan tower bersinyal kuat membawa perubahan besar yang berarti bagi pelayanan kesehatan di Puskesmas Sonimanu.

“Manfaatnya cukup banyak dan ada kemajuan besar. Ini menjadikan percepatan pelayanan maupun tindakan untuk melayani stunting yang lebih cepat,” ungkap Welhelmus Mooy Kepala Dinas Kominfo Kabupaten Rote Ndao.

Kini, dengan kemudahan akses internet, Anastasia berharap, stunting di Sonimanu dapat dengan mudah teratasi. Ya, Anastasia bertekad akan berada di tempatnya dilahirkan tersebut sampai kapan pun untuk melawan stunting.

“Saya tetap ada di Sonimanu sampai kapan pun. Saya melihat anak di sonimanu seperti anak sendiri,” tutup Anastasia. (IB27/E03)