Bersua Para Pembuat Kulit Lunpia di Kampung yang Nggak Pernah Terlelap

Berada di sebuah lorong di Kelurahan Kranggan, Kecamatan Semarang Tengah, Kota Semarang, kampung ini tak pernah terlelap, beroperasi 24 jam untuk memproduksi kulit lunpia.

Inibaru.id - Kalau kamu mengeluh lantaran telah bekerja seharian, mungkin kamu perlu sejenak "berlibur" ke Kampung Kulit Lunpia. Yap, di mana lagi kalau bukan di Kota Semarang yang dikenal sebagai tempat asal penganan lunpia, semacam gorengan berisi olahan rebung, telur, dan udang.  

Berlokasi di Kelurahan Kranggan, Kecamatan Semarang Tengah, sentra pembuatan kulit lunpia di Semarang ini dikenal sebagai kampung yang nggak pernah terlelap. Di sini, orang-orang bekerja setiap hari, dan malam, memenuhi kebutuhan kulit lunpia di Kota ATLAS, bahkan di pelbagai wilayah lain. 

Kampung ini berlokasi nggak jauh dari pusat kota, hanya berjarak sekitar empat kilometer dari Tugu Muda dan mungkin nggak ada satu kilometer dari Kota Lama. Di sini, produksi kulit lunpia dilakukan dari pagi hingga pagi keesokan harinya.

Biasanya, pukul 05.00 WIB para pekerja akan mulai mengolah bahan kulit lunpia yang terdiri atas tepung terigu, garam, dan air. Pengolahanya sederhana, hanya dengan mengaduk semua bahan selama 15 menit, maka jadilah adonan awal.

Para pekerja dengan cekatan mengambil adonan, lalu dimasukkannya ke atas wajah panas dengan tangan kosong. Adonan dibuat tipis melingkar. Sangat tipis. Nggak kurang dari satu menit, adonan yang sudah mengeras bisa langsung diangkat dan siap untuk dijual.

Ketika matahari mulai tenggelam, para perempuan yang kebagian kerja pagi digantikan para lelaki. Mereka akan memproduksi kulit lunpia hingga malam, bahkan hingga menjelang pagi.

Dalam sehari, biasanya mereka bisa memproduksi sekitar 6.000 kulit lunpia, lalu dijual ke berbagai tempat di Kota Semarang dan sekitarnya.

Di tengah pandemi, penjualan kulit lunpia sempat mengalami penurunan. Namun, perlahan roda ekonomi di kampung para pembuat kulit lunpia itu mulai berputar. Semoga terus berputar dan lebih kencang!

Maka, kalau kamu masih mengeluh karena pekerjaanmu terlalu berat, mungkin kamu memang betul-betul harus ke tempat ini dan menyaksikan betapa nggak kenal lelah mereka bekerja. Eits, tapi kerja memang butuh jeda ya! Ha-ha. (Triawanda Tirta Aditya/E03)