Silariang; Drama Cinta Tanpa Restu Bercitarasa Budaya Bugis dan Wisata Sulsel

"Kami ingin menunjukkan kepada publik keindahan Makassar dan Sulawesi Selatan yang kami ekspose secara maksimal di film ini."

Silariang; Drama Cinta Tanpa Restu Bercitarasa Budaya Bugis dan Wisata Sulsel
Adegan dalam Silariang; Menggapai Keabadian Cinta. (Foto: Indonesia Sinema Persada)

Inibaru.id - Memasukkan unsur lokalitas ke dalam film agaknya bakal menjadi tren baru di kalangan sineas Tanah Air saat ini. Budaya, seni, adat, hingga tradisi setempat menjadi sentuhan yang membuat film jadi begitu berasa Indonesia. Penikmat film pun menyukainya.

Tak hanya “laku” di tingkatan lokal, film yang mengangkat unsur lokal berbagai daerah di Indonesia juga seringkali menjadi primadona di festival-festival internasional.

Masih lekang dalam ingatan ketika Sang Penari (2011) begitu dielu-elukan di ranah nasional dan internasional hingga beberapa tahun usai penayangannya. Mengangkat tema budaya dan tradisi lokal ngibing di Banyumas, film ini sukses melambungkan nama Prisia Nasution yang berperan sebagai penari bernama Srintil.

Tahun 2017 ini, produser Ichwan Persada mencoba peruntungannya dengan menggarap film drama berunsurkan budaya lokal berjudul Silariang: Menggapai Keabadian Cinta. Dalam bahasa Bugis, “silariang” berarti kawin lari. Ya, film ini memang tak jauh dari kisah tersebut.

Film itu tampak menjanjikan lantaran menampilkan unsur budaya dan tradisi Sulawesi Selatan yang cukup kental. Bergenre drama, Silariang: Menggapai Keabadian Cinta akan mengangkat cerita sepasang kekasih yang memilih kawin lari karena tidak memperoleh restu orang tua.

Dalam film dikisahkan, Yusuf (Bisma Karisma) dan Zulaikha (Andania Suri) adalah sepasang kekasih yang menjalani percintaan mereka dengan penuh perjuangan. Pada akhirnya, Zulaikha memilih silariang dengan Yusuf lantaran cinta keduanya tidak direstui orang tua.

Dalam trailer yang baru saja diunggah Minggu (10/9) lalu, film besutan Rere Art2tonic itu agaknya tak hanya akan mengangkat tradisi Bugis, tapi juga keindahan destinasi wisata Sulsel, Rammang-Rammang.

Dilansir dari Beritagar, Rammang-Rammang adalah sebuah landscape gugusan pegunungan karst (kapur) di Desa Salenrang, 40 kilometer sebelah utara Kota Makassar.

Kata “rammang berasal dari bahasa Makassar yang berarti awan atau kabut. Jika cuaca cerah, wisatawan bisa menikmati pemandangan matahari terbit di antara sela-sela pegunungan kapur.

Hampir seluruh wisatanya berupa alam, dari taman hutan batu kapur, Telaga Bidadari, Gua Bulu' Barakka, Gua Telapak Tangan, Gua Pasaung, Sungai Pute, dan Kampung Berua. Beberapa area juga dapat digunakan untuk dijelajahi para turis yang hobi berpetualang (trekking) di alam bebas.

“Kami ingin menunjukkan kepada publik keindahan Makassar dan Sulawesi Selatan yang kami ekspose secara maksimal di film ini,” ungkap produser Ichwan Persada dalam rilis resminya, Senin (11/9).

Pria yang juga menulis skenario Silariang menjelaskan, selain kecantikan landscape Sulsel, filmnya juga bakal mengangkat isu-isu yang relevan saat ini, terutama kepada masyarakat lokal.

"Ada sejumlah nilai budaya Bugis yang baik untuk bisa ditiru,” jelas Ichwan.

Sebagai putra daerah, Ichwan memang mengaku ingin mengangkat nilai-nilai budaya dari kampung halamannya, Makassar.

"Indonesia bukan hanya Jakarta atau Jawa. Saya percaya kearifan lokal bakal menjadi kekuatan baru di perfilman Indonesia," paparnya.

Silariang direncanakan akan mulai tayang di bioskaop negeri ini mulai November 2017 mendatang. Selain Bisma dan Andania, film ini juga akan dibintangi aktris senior Indonesia, Dewi Irawan, yang tampil menawan sebagai pemain pembantu di film Sang Penari.

Sejumlah pemain lokal Makassar juga akan turut andil dalam film ini, di antaranya Nurlela M Ipa, Muhary Wahyu Nurba, Sese Lawing, Cipta Perdana, Fhail Firmansyah, dan lain sebagainya. (OS/IB)