Publik Ekuador Kepincut Film "Keris” dan “Wayang"

Kreasi budaya adilihung Nusantara bergaung di Amerika Latin. Ini cerita tentang publik Ekuador yang kepincut pada keris dan wayang.

Publik Ekuador Kepincut Film "Keris” dan “Wayang"
Eksotika keris (cnnindonesia.com)

Inibaru.id – Kabar bagus kembali beredar dari dunia film. Lebih istimewa lagi, pemutaran film ini ada kaitannya dengan kebudayaan dan pariwisata kita.

Dilansir Antaranews (23/10/2017), dua film dokumenter pariwisata Indonesia bertajuk Keris dan Wayang menjadi primadona dan menarik perhatian pengunjung festival yang sebagian besar pelajar dan mahasiswa Kota Cuenca dalam Festival Film Internasional Seni dan Budaya Populer ke-4 di Kota Cuenca, Ekuador, 17 - 20 Oktober 2017. Festival film itu merupakan rangkaian dari Festival de Artesanias de Americana ke-15 yang diadakan CIDAP atau The American Center of Crafts and Folk Arts.

Baca juga: “Pengabdi Setan” Akan Melanglang ke Amerika Latin

Dalam pemutaran dua film itu Dubes RI di Quito Diennaryati Tjokrosuprihatono hadir bersama puluhaan mahasiswa dan pelajar dari Univeritas Cuenca dan beberapa sekolah menengah di Cuenca. Pada hari yang sama juga dilakukan pemutaran kedua film di Auditorium CIDAP yang juga dihadiri puluhan penonton.

Festival film itu diikuti film dokumenter seni dan budaya dari Ekuador, Peru, Chile, Venezuela, Jepang, dan Indonesia yang tahun ini menjadi tamu dalam Festival de Artesanias de Americana ke-15 yang akan dibuka secara resmi tanggal 1 November 2017.

Selain diputar di Fakultas Seni Universitas Cuenca dan Auditorium CIDAP, film-film peserta festival juga diputar di Gedung Kesenian El Alfarero milik Pemerintah Kota Cuenca. Selanjutnya di awal Desember akan di gelar di FLASCO, Latin American University of Social Sciences, universitas terkemuka di Kota Quito, Ibukota Republik Ekuador.

Rangkaian Festival de Artesanias de Americana atau festival seni Amerika ini akan diikuti dengan pameran benda seni budaya Indonesia dari beragam daerah dan khususnya Bandung di Museum CIDAP pada tanggal 1 November - 1 Desember 2017.

Pada puncak kegiatan festival tanggal 1-5 November 2017 juga akan ditampilkan beragam tampilan seni budaya Indonesia, seperti tari, musik, kuliner, demo batik dan ukir kayu dari Pemalang, Jawa Tengah, dan juga bazaar produk kerajinan tangan.

Pada festival tahun lalu tercatat 250.000 pengunjung selama puncak festival yang berlangsung selama sepekan dan tahun ini diharapkan akan dihadiri 400.000 pengunjung.

Baca juga: “Hujan Bulan Juni”, Tak Semata Kisah Romantis

Selain pengunjung biasa, juga terdaftar sejumlah pengusaha bergerak di bidang seni dan budaya dari Amerika Serikat, Kanada dan di kawasan Amerika Selatan.

“Partisipasi Indonesia untuk kali pertama dalam festival ini merupakan kesempatan memperkenalkan potensi seni kreatif, budaya dan pariwisata Indonesia tidak saja kepada masyarakat Ekuador tetapi juga lebih luas kepada masyarakat di kawasan Amerika,” ujar Dubes Diennaryati Tjokrosuprihatono. (EBC/SA)