Nasib Film Religi, Antara Kuasa Penonton dan Kapitalis

Warga muslim di Indonesia memang terkenal mayoritas, namun hal tersebut nampaknya tidak begitu berimplikasi terhadap perfilman Indonesia. Pasalnya, meski muslim mayoritas dengan pasar muslim telah terbentuk ternyata belum dapat memegang kendali jumlah penonton film religi.

Nasib Film Religi, Antara Kuasa Penonton dan Kapitalis
Ketika cinta bertasbih (Foto : mobogenie.com)
793
View
Komentar

inibaru.id - Warga muslim di Indonesia memang terkenal mayoritas, namun hal tersebut nampaknya tidak begitu berimplikasi terhadap perfilman Indonesia. Pasalnya, meski muslim mayoritas dengan pasar muslim telah terbentuk ternyata belum dapat memegang kendali jumlah penonton film religi. Contohnya, berdasarkan dilansir dari beberapa media daring, film religi bertema keislaman masih jauh jumlah penontonnya ketimbang film bertema komedi maupun film bertema cinta lainnya.

Bahkan berdasarkan survei, dalam deretan sepuluh besar film dengan penonton terbanyak, film bergenre religi hanya satu yang sanggup bertengger didalamnya yakni Ayat-Ayat Cinta. Film “Ayat Ayat Cinta” merupakan salah satu film religi Indonesia terbaik dan paling fenomenal, dimana sejak kemunculannya pada tahun 2013 silam sukses mencuri perhatian penonton di Indonesia. Tercatat sebanyak 3.654.777 penonton yang turut meramaikan khasanah film religi satu ini. Sehingga film Ayat-Ayat Cinta ini menduduki chart ke lima sebagai film terlaris sepanjang masa.

Baca Juga :

Kendati demikian, kesuksesan tersebut nampaknya belum bisa diikuti oleh film-film religi berikutnya. Puluhan film religi yang diantaranya juga merupakan karya novelis kondang seperti Asma Nadia, Helvy Tiana Rosa, Habiburrohman El Shirazy satu persatu dirilis. Namun dari sekian banyak film religi tersebut belum ada yang mampu menembus penonton terbanyak, setidaknya sepuluh besar.

Berdasarkan data yang dilansir dari penghargaan Indonesian Box Office Movie Awards (IBOMA 2017), film Warkop DKI Reborn: Jangkrik Bos! Part I menempati posisi pertama dengan jumlah penonton 6.858.616. Sebelumnya, film inspirasi Laskar Pelangi sempat bertengger selama beberapa tahun karena belum ada yang menggeser posisinya sebagai film terlaris dengan 4.719.453 penonton.

Membincang terkait kualitas, sebenarnya beberapa film religi yang dirilis seperti film Mencari Halal 2015, Tanda Tanya 2011, 99 Cahaya di Langit Eropa 2013, Sang Pencerah 2010, Sang Kyai 2013 dan lain sebagainya adalah film yang layak untuk ditonton. Di dalamnya memuat banyak pesan dan nilai yang dapat diambil. Misalnya terkait pembelajaran perbedaan tradisi, agama hingga pola pikir.

Tak hanya itu, dalam beberapa film tersebut juga menampilkan contoh keadaan sosial yang terjadi saat ini dan bagaimana peran agama di kehidupan sosial dengan isu-isu terbaru. selain itu juga ada yang beberapa film yang membincang terkait sejarah islam di Indonesia hingga dunia barat yang semestinya hal tersebut mampu menambah wawasan bagi penonton.

Contoh lain pada 2016, film Bulan Terbelah di Langit Amerika 2 meraih 582.487 penonton. Film tersebut berada di peringkat 13 dari 15 film Indonesia peringkat teratas. Padahal dalam film tersebut memuat kisah dan pelajaran menarik dari kehidupan para muslim di negara adidaya tersebut, isu terorisme, sampai adegan diskriminasi dimana golongan nonmuslim yang menolak adanya pembangunan masjid di daerah mereka.

Namun ternyata hal tersebut tidak terlalu mendapat apresiasi dari masyarakat. Tercatat dari beberapa film tersebut hanya mampu menembus paling banyak 2,5 juta penonton. Berbeda dengan film yang bergenre romantik apalagi komedi yang saat ini lebih digandrungi masyarakat.

Berdasarkan data itu, selera pasar sangat menentukan, meski para pembuat film telah mengerahkan segala jurusnya untuk membuat film yang bagus agar bisa ditonton banyak orang. Penonton adalah raja yang sulit untuk diintervensi. Mereka bebas menentukan film yang mereka tonton.

Hal tersebut menjadi pelajaran berharga bagi para film maker yang harus lebih keras lagi dalam membuat film. Tema keislaman yang mereka angkat pun harus digodok secara matang, juga tak sekadar bersifat hal yang menimbulkan kontroversial atau pun tema cinta.

Selain itu, masalah lain dalam minimnya jumlah penonton film religi ini adalah faktor kapitalisme. Ketika kapitalisme ikut masuk ke dunia perfilman, maka bisa dikatakan film yang memiliki modal besar dengan sponsor yang jor-joran akan menguasai bioskop-bioskop di tanah air. Bahkan film buruk pun jika ditopang dengan modal besar dan sponsor-sponsor besar akan dapat mengalahkan film yang lebih bermutu namun dengan modal minim.

Contoh saja film Warkop DKI Reborn: Jangkrik Bos! Part I, tak mengherankan jika film ini menempati posisi pertama dengan jumlah penonton 6.858.616. Mengapa demikian? Pasalnya demi promosi film tersebut, pihak produksi kabarnya rela merogoh kocek hingga 15 miliar rupiah. Angka tersebut jauh lebih besar dari pembuatan film itu sendiri yang hanya 10 miliar rupiah.

Sebenarnya, hal seperti ini tidak hanya menimpa film-film religi saja, film-film lain nonreligi yang kualitasnya lebih baik juga terancam tergerus dengan sistem ini. Namun kembali lagi pada kemampuan dan kesadaran individu dalam memilih dan memilih film yang akan ditonton. Hal tersebut lain demi menyelamatkan dan sebagai bentuk apresiasi masyarakat terhadap film-film yang berkualitas di tanah air. Hal itu perlu agar film berkualitas terutama bertema Islam tak terperosok dalam "minimnya jumlah penonton". (NA)