Selama Pandemi, 67 Persen Masyarakat Mengalami Depresi

Selama Pandemi, 67 Persen Masyarakat Mengalami Depresi
Pandemi bikin orang depresi. (Pexels/ Medcom)

Psikiater RSJ Soeharto Heerdjan Jakarta dan RSI Cempaka Putih, Agung Frijantomelakukan survei prisokolosi masyarakat selama pandemi melanda. Hasilnya, 67 persen mengalami depresi.

Inibaru.id - Psikiater RSJ Soeharto Heerdjan Jakarta dan RSI Cempaka Putih, Agung Frijanto mengemukakan hasil survei 5 bulan setelah pandemi, bahwa 67 persen orang mengalami depresi dan 75 persen trauma.

"Hasil survei itu menunjukkan, masalah psikologis terbanyak pada usia 17 sampai 29 tahun. Jadi, memang usia produktif yang terbanyak," ujar Agung di acara Online Talkshow dengan Tema Anti Depresi di Kala Pandemi Kamis (24/12).

Agung menjelaskan, analisis survei 4010 pun, ada yang cukup mencengangkan. Karena 1 dari 5 orang memiliki pikiran bunuh diri. Pikiran kematian terbanyak itu, menghinggapi usia 18 sampai 29 tahun. Jadi, lagi-lagi masih usia produktif.

Memang fenomena bunuh diri ini sudah terjadi di dunia. Bahkan setiap 40 detik di dunia ada yang bunuh diri.

Stres dalam hasil survei ketika pandemi disebabkan adanya arus informasi tentang Covid-19. Maka dia minta kepada semua orang agar bijak dalam membaca berita.

"Apalagi kan sekarang hoaks berseliweran dimana-mana, ini memicu stres," katanya.

Depresi selama pandemi juga disebabkan karena arus informasi tentang covid-19. (Netdoctor.com/ Medcom)<br>
Depresi selama pandemi juga disebabkan karena arus informasi tentang covid-19. (Netdoctor.com/ Medcom)

Gejala Stres

Agung Frijianto juga mengungkapkan depresi dipengaruhi oleh tiga faktor. Yakni, biologis, psikologis, dan spiritual. Faktor psikologis ada hubungannya dengan faktor sosial bagaimana pola asuh. Sementara faktor spiritual punya pengaruh pada nilai-nilai religi.

"Selain reaksi fisik dan psikologis. Psikosomatik juga. Kayak Baper, gampang marah, susah tidur hati-hati gejala depresi," katanya.

Agung menjelaskan,  10 gejala psikosomatik paling sering terjadi pada pasien depresi dan cemas. Yakni, jantung berdebar-debar, perasaan tidak nyaman atau nyeri lambung, kelelahan atau merasa kurang tenaga, nyeri dan rasa tegang di leher dan bahu, sering merasa pusing, kelelahan walaupun tidak sedang bekerja, kembung dan merasa banyak gas di lambung, rasa nyeri di dada atau sekitar jantung, rasa gemetar,  dan ada suara berdengung di telinga atau kepala.

Tips Mengelola Stress

Agung bagi tips supaya kita lebih pintar mengelola stress. Yakni yang harus dilakukan adalah informasi, relaksasi, manajemen aktivitas dengan membuat jadwal, terhubung dengan sekitar, berbicara tentang perasaan anda pada orang yang dipercaya. "Hubungi layanan kesehatan kalau mulai merasakan stres dan gunakan aplikasi," katanya.

Untuk muslim, lakukan kegiatan spiritual seperti mengaji dan salat. Selain itu bisa melakukan Yoga juga sambil mendengarkan musik.

Menjaga kesehatan jiwa di tengah pandemi, kata dia, sangat penting dilakukan. Karena, stres mempengaruhi kesehatan dan imunitas tubuh. 

Semoga kita semua selalu waras ya, Millens. (IB28/E05)