Prediksi Pakar: Indonesia Bakal Jadi Negara Terakhir yang Mengatasi Pandemi Covid-19

Prediksi Pakar: Indonesia Bakal Jadi Negara Terakhir yang Mengatasi Pandemi Covid-19
Pandemi Covid-19 di Indonesia masih belum terkendali. (Inibaru.id/Triawanda Tirta Aditya)

Pakar epidemi Dicky Budiman dari Griffith University Australia menyebut kebijakan pemerintah yang setengah-setengah membuat Indonesia diprediksi jadi negara terakhir yang mengatasi pandemi Covid-19. Duh!

Inibaru.id – Bisa dikatakan, penanganan pandemi Covid-19 di Indonesia masih belum benar-benar baik. Banyak pakar yang bahkan menyebut penanganannya setengah-setengah karena penuh dengan kompromi politik dan ekonomi. Padahal, masalah utamanya adalah di bidang kesehatan. Hasilnya, Indonesia diperkirakan bakal jadi negara terakhir yang mengatasi pandemi.

Salah seorang yang mempertanyakan berbagai kebijakan yang dikeluarkan pemerintah adalah Dicky Budiman, Epidemilog dari Griffith University Australia. Baginya, kebijakan PPKM hingga berbagai level sampai 2 Agustus 2021 ini masih nggak mementingkan sisi kesehatan.

Di samping itu, selama ini pemerintah juga terkesan hanya mengganti-ganti nama kebijakan sehingga membuat bingung. Sebagai contoh, pada Maret 2020, kebijakannya adalah Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB), lalu diganti dengan Pelaksanaan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) sejak Januari 2021. Ada juga kebijakan PPKM Mikro yang intinya diberlakukan hingga tingkat RT/RW. Lalu ada juga PPKM Darurat Jawa-Bali.

Meski terkesan ada pembatasan kebijakan, realitanya di lapangan kebijakan ini nggak benar-benar diterapkan dengan serius. Dari pihak pemerintah sendiri juga ada tindakan yang nggak sesuai dengan pembatasan tersebut. Sebagai contoh, pada Desember 2020 lalu, pakar kesehatan menolak Pilkada Serentak.

Selain itu, Dicky menilai pelaksanaan pengetesan, pelacakan, serta perawatan masih sangat lemah. Nggak percaya? Pelacakan kontak erat orang yang terpapar Covid-19 di Indonesia masih di rasio 1 banding 1, jauh lebih rendah dari standar WHO yang menyaratkan 1 banding 30.

Alhasil, banyak orang yang sebenarnya sudah terpapar atau menjadi orang tanpa gejala (OTG) yang nggak terlacak dan bisa menyebarkan virus ke orang lain.

Kemungkinan masih banyak masyarakat yang terpapar virus namun nggak terlacak. (Inibaru.id/Triawanda Tirta Aditya)
Kemungkinan masih banyak masyarakat yang terpapar virus namun nggak terlacak. (Inibaru.id/Triawanda Tirta Aditya)

“Di tahun pertama, pemerintah meremehkan pandemi dan keputusan yang diambil tidak berbasis sains. Tahun kedua, mau jalan di dua kaki yaitu kesehatan dan ekonomi tapi tidak seimbang. Kesehatan berada di kaki yang lemah. Testing rendah, tracing sekadarnya, dilakukan pembatasan tapi sangat longgar,” keluh Dicky, Selasa (27/7/2021).

Dicky nggak hanya menyoroti lemahnya pelacakan, dia juga menyoroti tingginya kasus penularan dan kematian akibat Covid-19 di Indonesia. Kalau nggak ada perubahan kebijakan strategis yang sangat luar biasa, dia pun memperkirakan Indonesia bakal jadi negara terakhir yang bisa mengakhiri pandemi.

Dia pun menyarankan pemerintah untuk melacak orang sampai 3 juta orang per hari. Vaksinasi juga harus dipercepat. Selain itu, Dicky menyarankan karantina wilayah alias lockdown, sesuatu yang ditentang banyak pihak sejak awal pandemi di Indonesia.

Kalau menurut pakar kebijakan publik dari Universitas Indonesia (UI) Zuliansyah, masyarakat bahkan sudah sangat jenuh dengan kondisi saat ini. Tingkat kepercayaan kepada pemerintah juga semakin menurun.

Satu hal yang pasti, kebijakan karantina wilayah nggak bakal dilakukan pemerintah. Hal ini diungkap Sekretaris Eksekutif I Komite Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional Raden Pardede. Dia menyebut pemerintah nggak punya dana untuk itu.

Kalau menurut kamu, kapan pandemi Covid-19 di Indonesia bakal berakhir, Millens? (Bbc/IB09/E05)