Cerita di Balik Dapur Roasting Strada Caffe

Kopi yang berkualitas lahir dari proses yang berkualitas pula. Untuk mencapai kenikmatan kopi yang memadai, pemanggangan biji kopi yang baik adalah salah satu kuncinya, nggak terkecuali di Strada Caffe.

Cerita di Balik Dapur Roasting Strada Caffe
Kopi hasil roasting Taro di Strada Caffe (Inibaru.id/Mayang Istnaini)

Inibaru.id – Ada yang bilang, penikmat kopi nggak akan pernah berdebat tentang biji kopi apa yang paling enak, atau mana yang lebih nikmat antara latte dengan espresso. Ini perihal selera. Namun, penikmat kopi yang baik akan selalu memerhatikan, seberapa pas biji kopi itu dipanggang. Yap, karena kualitas secangkir kopi memang sangat ditentukan oleh proses pemanggangan atau roasting-nya.

Proses pengolahan kopi memang panjang dan rumit, Millens. Dari penanaman hingga secangkir kopi terhidang di hadapan kita, semua proses itu harus dilakukan dengan baik. Salah satu tahapan paling krusial untuk menghasilkan kopi berkualitas adalah roasting. Yap, proses pemanggangan biji kopi dari green bean sampai matang tersebut punya peran penting.

Belum lama ini, roaster Strada Caffe Semarang, Jawa Tengah, yang akrab disapa Taro, berbagi cerita kepada Inibaru.id tentang proses roasting di sana. FYI, Strada Caffe adalah salah satu kedai kopi di Kota Lunpia yang me-roasting biji kopinya sendiri. Bahkan, biji kopi hasil roasting mereka menjadi pasokan untuk sejumlah kedai kopi dan hotel di Semarang.

Taro menuturkan, proses roasting umumnya dimulai dengan mengatur suhu mesin hingga pas. Nggak ada aturan khusus sih, tergantung si roaster ingin memakai suhu berapa. Namun, dia biasa mengatur suhu mesin hingga 160 derajat Celsius untuk memanggang kopi. Proses roasting-nya memakan waktu antara 9-12 menit. Namun demikian, kamu juga bisa mengatur kecepatan roasting-nya. 

Mesin Probat yang digunakan di Strada Caffe. (Inibaru.id/Mayang Istnaini)

Untuk memanggang kopi, Strada Caffe memercayakan pilihan mereka pada mesin roasting jenama Probat yang kualitasnya memang nggak diragukan lagi. Biji kopi dikatakan matang kalau kadar airnya sudah hilang. Ini ditandai dengan warna biji kopi yang berubah menjadi kecokelatan. Kalau warnanya masih hijau atau kuning, tandanya masih ada kandungan airnya, Millens.

Oya, tanda kematangan kopi dinamai dengan first crack. Jadi, biji kopi bakal retak dan meletup kayak berondong jagung. First crack juga bakal menghasilkan bunyi persis berondong jagung saat matang.

Taro menjelaskan, terdapat sejumlah istilah tingkat kematangan dalam kopi  Namun, yang paling umum, yakni light, medium, dan dark roasted. Ketiganya punya spesifikasi yang berbeda. Jadi, kalau kamu mau beli biji kopi, jangan lupa untuk menanyakan tingkat kematangan biji kopi tersebut.

Setelah matang, biji kopi didinginkan kira-kira empat menit. Lalu, biji kopi dipindahkan ke dalam wadah dan didiamkan selama kurang lebih 24 jam. Proses ini dinamakan resting. Tujuannya agar gas dalam kopi berkurang. Nah, di proses inilah rasa dan aroma kopi mulai keluar.

Taro di balik ruangan kerjanya. (Inibaru.id/Mayang Istnaini)

“Seorang roaster harus jeli soal visual dan penciuman. Soalnya proses roasting terasa lebih kompleks saat menentukan bau, rasa, dan tingkat kematangan kopi,” ujar Taro.

Yap, kepekaan seorang roaster memang harus terlatih banget ya. Sebab dia harus bisa membedakan biji kopi yang sudah matang sesuai dengan kualitasnya kan?

Roaster yang belajar roasting sejak 2014 itu juga menjelaskan bahwa masa simpan biji kopi di suhu ruangan kurang lebih dua bulan. Lewat dari itu, tentu rasa dan kualitasnya bakal berubah.

Nah, nggak sekadar menyeruput secangkir kopi, kamu kini juga bisa jadi tahu gimana proses panjang di balik kopi yang kamu minum. (Mayang Istnaini/E03)