Lencoh, Kopi Liar yang Dibawa Belanda pada ke Indonesia pada Masa Kolonial

Kopi Lencoh di Desa Lencoh, Boyolali merupakan kopi dengan aroma dan rasa yang khas. Ternyata, penjajah Belanda-lah yang kali pertama membawa tanaman ini ke desa di ketinggian 1.600 mdpl itu. Bagaimana kisah di balik kopi ini?

Lencoh, Kopi Liar yang Dibawa Belanda pada ke Indonesia pada Masa Kolonial
Kopi Lencoh. (Titiktemu)

Inibaru.id – Dukuh Plalangan di Desa Lencoh, Kecamatan Selo, Boyolali, memiliki kopi khas yang disebut kopi Lencoh. Kopi ini memiliki rasa yang khas karena ditanam di dataran dengan ketinggian 1.600 mdpl.

Biasanya, kopi ditanam di ketinggian 1.200 mdpl. Inilah yang membedakan kopi Lencoh dengan kopi-kopi lain.

Penjajah Belanda membawa biji kopi ke Dukuh Plalangan sekitar 1935. Warga setempat mengelolanya dengan baik sehingga produksi kopi Lencoh meningkat. Sayang, produksi yang melimpah nggak bikin warga bisa menikmati hasilnya. Harga kopi ini juga murah saat dijual di Eropa.

http://3.bp.blogspot.com/-KAHVw3lCzTA/U6pl6qAycJI/AAAAAAAACIk/ufJHzTSAcwk/s1600/P6210152.jpg

Kopi Lencoh. (Iqbalkautsar)

Akibat kebijakan itu, warga kemudian menebang sebagian besar kopi Lencoh. Saat penjajahan berakhir, warga nggak fokus merawat kopi itu lagi. Tanaman setinggi enam meter ini baru mendapatkan perhatian kembali saat seorang petani bernama Wondo merawat dan mengembangbiakkannya.

Dibandingkan kopi Arabika dengan varietas Kartika Katimur, kopi Lencoh memiliki biji yang ukurannya lebih besar. Ranting dan jumlah bijinya juga lebih sedikit. Menurut Wondo, setiap cabang kopi Lencoh rata-rata memiliki empat ranting. Kalau jumlah rantingnya lebih banyak, ini juga berpengaruh pada rasa kopi.

O ya, kopi Lencoh sudah dijual ke pelbagai wilayah, lo. Kalau pengin mendapatkan kopi ini, kamu juga bisa membelinya secara daring. Hm, kalau sudah datang, ambil cangkir dan seduh, yuk! (IB15/E03)