Bar(s)ista Gisza: Lakoni Profesi Sepenuh Hati!

Berawal dari mencari pengalaman dan kesibukan di sela kuliah, gadis berkacamata ini bekerja paruh waktu di kedai kopi. Kegigihan kemudian membawanya ke balik bar menjadi peracik kopi a.k.a barista. Kenalan, yuk!

Bar(s)ista  Gisza: Lakoni Profesi Sepenuh Hati!
Salah satu barista perempuan di Tekodeko, Cirila Gisza Andwiyant. (inibaru.id/Hayyina Hilal)

Inibaru.id – Kalau kamu pernah ngopi ke Tekodeko Koffiehuis, kamu mungkin akan bertemu gadis berkacamata ini. Cirila Gisza Andwiyant, namanya. Bekerja di balik bar sebagai barista, perempuan kelahiran Semarang, 6 Juni 1996 ini adalah salah satu jiwa di kedai kopi yang ada di Kota Lama Semarang, Jawa Tengah tersebut. Dengan cekatan dia meracik kopi untuk tiap pelanggan yang datang.

Menjadi barista adalah pengalaman baru bagi Gisza, panggilan akrabnya. Pekerjaan yang semula didominasi laki-laki itu nggak pernah membuatnya minder sama sekali. Dengan penuh percaya diri, profesi barista dijalaninya sepenuh hati. Dia menyukai pekerjaannya yang sekarang. 

Sebelum menjadi barista, Gisza adalah waiter di tempat tersebut. Keinginan mendapatkan penghasilan sendiri di sela waktu kuliahnya mengantarkan mahasiswa Jurusan Administrasi Kebijakan Publik Universitas Diponegoro Semarang itu ke Tekodeko. Dia enggan terus mengandalkan uang saku dari orang tuanya.

“Daripada luntang-lantung di tengah tugas kuliah yang nggak begitu padat, ya coba kerja, punya penghasilan, nggak harus minta orang tua,” tutur Gisza kepada Inibaru.id di tempat kerjanya, belum lama ini.

Belum setahun bekerja, dia ditantang salah seorang owner kedai tersebut untuk bekerja di balik bar sebagai barista. Peluang itu nggak serta merta mantap diterimanya lantaran ragu. Dia sama sekali belum pernah menggunakan mesin espresso maker sebelumnya.

Namun, keinginan untuk belajar mengalahkan keraguan itu. Sepenuh hati Gisza belajar meracik kopi, dan berhasil.

Gisza berpose di tempat dia biasa beraksi untuk meracik kopi. (inibaru.id/Hayyina Hilal)

Kelas Barista

Nggak ada dalam pikiran Gisza untuk menjadi barista sebelumnya. Namun, dia bersyukur peluang itu menghampirinya. Untuk mendalami profesi tersebut, dia pun terus mencoba belajar dari banyak barista lain. Salah seorang "guru" baristanya adalah Zaenal, barista yang juga bekerja di Tekodeko. Dia juga mengikuti kelas barista di Boskaf Coffee Roaster Semarang.

Hasil "berguru" itu langsung dipraktikkan Gisza dengan membuat kopi manual brewing. Nggak berhenti di situ, gadis penyuka fotografi itu juga banyak belajar dari membaca artikel mengenai kopi serta menonton tutorial manual brewing di kanal Youtube. Hm, maksimal nih usahanya!

Proses membuat kopi dengan metode aeropress ala Gisza. (Inibaru.id/Hayyina Hilal)

Quality Time

Ada hal yang menarik yang menjadi prinsip Gisza nih, Millens. Kamu boleh menirunya! Kesibukannya kuliah cum menjadi barista nggak lantas membuat gadis berambut sebahu ini kehilangan quality time bersama keluarganya. Sebisa mungkin, hari libur dihabiskannya bersama orang-orang terdekatnya.

“Orang tua yang selalu mendoakan aku, masak dilupakan?" ungkapnya.

Menurut Gisza, doa orang tua penting. Sebagaimana diajarkan orang tuanya, dia juga nggak lupa untuk selalu berdoa dan bersyukur. Inilah kunci utama baginya.

"Ya, kita hidup harus bersyukur. Kita juga harus berusaha untuk mengembangkan potensi yang kita punya, juga berdoa,” pungkas Gisza.

Nah, Millens, sudah tergerak untuk mencoba hal baru? Kegigihan dari Gisza patut kita contoh nih. Teruslah berkreasi dan mengembangkan potensi diri ya. Thank you, Bar(s)ista Gisza! (Hayyina Hilal/E03)