Ritus Suroan, Berebut Gunungan dan Menanam Kepala Sapi di Lereng Gunung Semeru

Bersyukur atas hasil bumi selama setahun, warga Desa Sumbermujur di lereng Gunung Semeru mengarak gunungan dan menanam kepala sapi.

Ritus Suroan, Berebut Gunungan dan Menanam Kepala Sapi di Lereng Gunung Semeru
Warga lereng Gunung Semeru di Lumajang, Jawa Timur, turun temurun menggelar ritual tanam kepala sapi saat 1 Sura. (Foto: Liputan6.com/Dian Kurniawan)

Inibaru.id – Bulan Sura dimaknai orang Jawa sebagai bulan sakral. Karena itu, kedatangannya dirayakan dengan pelbagai acara ritual, yang berbeda antara tempat satu dan lainnya. Di Lumajang, Jawa Timur, masyarakat yang tinggal di sekitar lereng Gunung Semeru, merayakan 1 Sura dengan mengarak gunungan hasil bumi dan menanam kepala sapi di sekitar sumber air.

Seperti dilansir Liputan6.com, ribuan warga lereng Gunung Semeru memperingati 1 Sura dengan mengarak gunungan hasil bumi mengelilingi desa setempat, Kamis siang, 21 September 2017. Selain mengarak hasil bumi, warga Desa Sumbermujur, Kecamatan Candipuro, Kabupaten Lumajang melakukan ritus penanaman kepala sapi di hutan bambu dekat sumber mata air.

Baca juga: Menilik Kesakralan Tradisi Malam Satu Sura

Ritus mengarak gunungan hasil bumi dan menanam kepala sapi atau yang dikenal sebagai Maheso Suroan itu sudah dilangsungkan turun-menurun. Acara dimulai dengan mengumpulkan sesaji yang berisi tumpeng nasi kuning, hasil perkebunan dan pertanian, dan seekor kepala sapi yang di Balai Desa Sumbermujur.

Prosesi dimulai dari kantor Balai Desa tersebut. Warga mengarak gunungan dan kepala sapi yang akan ditanam di hutan bambu yang berjarak sekitar tiga kilometer dari balai desa. Sesampainya di lokasi, gunungan ditata dan doa-doa dibacakan oleh tokoh adat. Selanjutnya, warga berebut hasil bumi dari gunungan sebelum ritus terakhir, penanaman kelapa sapi dilakukan.

Acara rebutan gunungan itu menjadi atraksi yang menarik. Tak heran, banyak wisatawan datang untuk melihat acara di Desa Sumbermujur itu.

Baca juga: Akulturasi Itu Bernama Ruwatan

“Acara ini adalah acara adat setiap 1 Sura dan diadakan di hutan bambu. Warga Sumbermujur menampilkan banyak hasil pertanian yang dibentuk gunungan sebagai bentuk syukur bisa menikmati hasil pertanian yang tumbuh di Sumbermujur,” tutur Kepala Desa Sumbermujur, Syafii kepada Liputan6.com.

Warga menyambut acara ritual tersebut dengan antusias. Selain sebagai tradisi turun-menurun yang mengungkapkan rasa syukur, mereka berharap kepada Tuhan agar seluruh masyarakat di lereng Gunung Semeru mendapat berkah pada tahun mendatang dan dijauhkan dari segala bencana, terutama dari bencana erupsi gunung tersebut.

“Semoga petaninya lebih sukses dan semoga selamat," ujar Sri Safari, salah seorang warga. (PA/SA)