Simbol Kejantanan, Lelaki Manggarai Duel Tari Cambuk

Melalui bekas luka dari Tari Cambuk ini, laki-laki Suku Manggarai dianggap sudah matang dan berubah menjadi pria dewasa serta mendapatkan penghormatan, baik dari tetua adat maupun kaum hawanya.

Simbol Kejantanan, Lelaki Manggarai Duel Tari Cambuk
Tari Cambuk (Foto: http://www.negerikuindonesia.com)
1k
View
Komentar

Inibaru.id - Masyarakat Suku Manggarai, Flores, Nusa tenggara Timur (NTT), memiliki sebuah tarian unik yang mungkin bagi sebagian orang mengerikan. Masyarakat suku Manggarai seringkali menyebutnya Tari Caci. Tari ini merupakan kesenian tradisional sejenis tarian perang yang begitu masyur di Flores.

Dilansir dari Beritagar.id, pelaku tarian ini terdiri dari dua orang laki-laki yang bertarung menggunakan cambuk berbahan kulit dan perisai yang berbalut kulit kerbau. Saat keduanya berlaga, musik tak henti bertabuh.

Tarian ini dilakukan pada acara khusus, misalnya musim panen (hang woja), ritual tahun baru (penti), serta dalam beberapa upacara adat lainnya.

"Ca" berarti satu, sedangkan "Ci" bermakna uji. Sehingga dengan demikian, tarian ini pun berfungsi menentukan tingkat kematangan seorang laki-laki di masyarakat tersebut melalui uji ketangkasan dalam sebuah pertarungan duel.

"Tarian ini hanya boleh dilakukan di waktu-waktu tertentu saja, seperti upacara adat, panen, maupun hal lainnya yang menyangkut acara adat Manggarai," terang Samuel Rabenak (45), warga Kampung Cunca Lolos, Manggarai, Flores, beberapa waktu lalu, sebagaimana dikutip dari Beritagar.id.

Baca juga:
Ada-Ada Saja! 9 Anak Bajang Ini Ajukan Permintaan Unik sebelum Potong Rambut Gimbal
Raja dan Permaisuri dari Seluruh Indonesia Warnai Dieng Culture Festival 2017

Di mata masyarakat Manggarai, laki-laki yang sudah pernah melakukan tarian ini berubah menjadi pria dewasa dan mendapatkan penghormatan, baik dari tetua adat maupun kaum hawanya.

Yang menarik, kebanggaan mereka justru terletak pada banyaknya luka bekas cambuk pada kulit. Semakin banyak, kian tinggilah derajat lelaki itu. Maka, tari ini juga disebut sebagai ajang pembuktian kejantanan.

Tarian ini memiliki tiga makna, yakni Naring, Hiang, dan Mengkes. Naring artinya memuji, Hiang artinya menghormati dan Mengkes artinya bergembira.

Jadi tarian ini adalah sebuah tarian yang dilakukan dengan perasaan gembira untuk menghormati lawan sekaligus menyampaikan rasa syukur kepada Tuhan.

Seperti dipapar laman Wisata NTT, tarian ini juga mengombinasikan antara Lomes, Bokak, dan Lime. Lomes merupakan perpaduan keindahan gerak tubuh dan busana yang dipakai para petarung. Sedangkan Bokak adalah keindahan seni vokal yang dilakukan petarung dan pengiring sekitarnya. Sementara Lime berarti ketangkasan dalam mencambuk atau menangkis cambukan lawan.

Baca juga:
Hanya buat Anda yang Berani, Ayo Ikut Perang Antar Suku di Papua Ini
5 Kesenian Tradisional Beraroma Mistis di Indonesia

Sebelum duel, kedua penari akan melakukan pemanasan dengan menari sembari menyuarakan tantangan yang diringi lagu-lagu adat. Kemudian, lantaran berpotensi mencederai fisik, para petarung hanya boleh mencambuk bagian tubuh atas lawannya seperti lengan, punggung, atau dada.

Para petarung pun akan menggunakan kostum layaknya prajurit yang akan maju ke medan perang. Mereka bertelanjang dada, hanya menggunakan penutup kepala dan topeng yang terbuat dari kulit kerbau untuk melindungi bagian vital pada muka.

Pakaian bawah yang dikenakan pun terdiri atas celana panjang sebetis dengan kelengkapan sarung khas dari Manggarai berwarna hitam.

Lalu, sebagai aksesori tambahan, para petarung mengenakan gelang giring-giring pada kaki yang berbunyi mengikuti gerakan tarian dalam pertarungan. Salah satu pemain akan dinyatakan kalah jika terkena cambuk pada bagian mata atau kepala.

Usai permainan, kedua petarung dan kelompok pendukungnya dikumpulkan untuk berjabat tangan, sebagai simbol tak ada dendam di antara mereka. (OS/IB)