Sedekah Bumi dan Makan Bersama dalam Garebeg Suran

Tak hanya tradisi memendam kepala kambing saja yang menarik dalam budaya ini, tradisi makan bersamanya juga unik.

Sedekah Bumi dan Makan Bersama dalam Garebeg Suran
Berebut isi gunungan dalam Garebeg Suran di Banyumas. (Youtube)

Inibaru.id – Banyak cara unik dilakukan masyarakat Jawa dalam menyambut tahun baru Muharram atau dalam budaya Jawa disebut Suro (Sura). Satu di antaranya adalah Garebeg Suran atau Garebeg Sura. Tradisi Banyumas ini menjadi budaya turun-temurun yang kehadirannya begitu dinantikan warga.

Dilansir dari Suara Merdeka, Kamis (19/10/2017), kesibukan warga Grumbul Kalitanjung, Desa Tambaknegara, Kecamatan Rawalo, Banyumas sudah terlihat sejak Senin (16/10) lalu. Mereka membersihkan desa dan makam, serta memasang sejumlah ornamen dari janur di jalan desa.

Upaya bersih-bersih ini rutin dilakukan menjelang hajatan besar seperti Garebeg Suran. Semuanya turut serta dalam menyiapkan acara. Sementara, pada Lapangan Desa Tambaknegara, panggung kecil telah disiapkan untuk suguhan kesenian bagi tamu undangan dan warga.

Baca juga:
Penyembelihan Pengantin Bekakak dalam Pawai Saparan
Gandaria: Maskot di Jabar, Nama Daerah di Jakarta

“Sebenarnya tidak hanya untuk Garebeg Suran saja. Semua warga ikut turun membantu persiapan,” kata pegiat Kelompok Sadar Wisata Desa Tambaknegara, Sumarno, Selasa (17/10).

Prosesi peringatan bulan Sura dimulai dengan gelaran wayang ruwatan di halaman kediaman Kepala Desa Tambaknegara, Kartam. Sehari sebelumnya, puluhan anggota masyarakat Kasepuhan Adat Kalitanjung menggelar tradisi selamatan dan kidungan di pendopo setempat.

Puncak tradisi Garebeg Suran digelar Selasa (17/10) pagi. Puluhan tumpeng dan nasi penggel serta takir (piring daun pisang) yang dibawa dengan menggunakan tenong berdatangan. Seluruh warga selanjutnya akan makan bersama.

Sebelumnya, beberapa tetua Kasepuhan akan menunaikan tradisi sedekah bumi dengan menanam kepala kambing serta bahan makanan seperti beras, sayur, dan lauk pada satu sudut perempatan. Mereka kemudian memimpin doa.

Baca juga:
Gamelan Berkumandang di Moskwa
Jepara Gelar Odolan untuk Lestarikan Budaya

“Sedekah bumi adalah perlambang harapan, agar tanah desa dapat menyediakan makanan yang mencukupi kebutuhan warga Kalitanjung,” ucap Romo Kyai Karta, sesepuh adat saat memimpin doa.

Ketua Kasepuhan Adat Kalitanjung, Muharto, mengatakan, Garebeg Suran merupakan kesempatan bagi masyarakat untuk kembali menjadi manusia seutuhnya.

 “Ini bukan sekadar perayaan. Ada banyak simbol dan filosofi,” ungkapnya.

Warga kemudian makan bersama. Seusai menuntaskan acara tersebut, mereka kemudian menuju ke lapangan desa. Di tempat itu, mereka menikmati sajian kesenian Gandalia, Lengger Lanang, dan Tari Janturan. (GIL/SA)