Robo-Robo, Makan Bareng Simbol Pemersatu

Robo-robo selain sebagai peringatan kedatanganpenyebar Islam juga jadi siimbol pemersatu masyarakat di Mempawah, Kalbar.

Robo-Robo, Makan Bareng Simbol Pemersatu
Robo-Robo di Sungai Mempawah. (Wikimedia)

Inibaru.id – Tak akan ada habisnya bila kita berbicara mengenai kekayaan budaya Nusantara, termasuk di dalamnya tradisi-tradisi yang dijalankan masyarakat. Satu lagi tradisi khas datang dari wilayah Kalimantan Barat (Kalbar), tepatnya di Mempawah. Namanya Robo-robo.

Tradisi tersebut bisa dijadikan atraksi wisata. Seperti ditulis  Julian Alsen di GNFI (3/10/2017), tradisi Robo-robo terdekat bakal diselenggarakan warga Desa Peniti di aliran Sungai Mempawah pada 15 November 2017 mendatang.

Kalau berminat datang dan melihat langsung simak dulu apa sebenarnya Robo-robo itu.

Dikutip dari wikiwand.com, Robo-robo adalah upacara tolak bala oleh masyarakat Kota Mempawah, Kalbar. Upacara ini digelar pada hari Rabu pekan terakhir bulan Safar berdasarkan almanak Hijriah, yang tahun ini jatuh pada bulan November.

Baca juga: Simbol-simbol Kehidupan dalam Benang Bintik

Pada awalnya acara ini digelar untuk menyambut Opu Daeng Menambon dari Kerajaan Matan (Martapura) di Kabupaten Ketapang ke Kerajaan Mempawah di Kabupaten Pontianak pada 1737 M atau 1448 H. Opu Daeng Menambon adalah keturunan Kerajaan Luwu, Sulawesi Selatan yang datang ke Mempawah untuk menyebarkan Islam.  Selain menyebarkan agama Islam, dia juga membangun Mempawah dengan menjadi seorang raja di Kerajaan di Mempawah.

Ritus Robo-robo dimulai saat Opu Daeng Menambon beserta keluarga, serta penggawa dan pengawal berangkat dari Desa Benteng, Mempawah menggunakan perahu bidar.  Perahu bidar adalah perahu kerajaan dari Istana Amantubillah. Perahu tersebut berlayar menuju muara sungai Mempawah yang berada di Desa Kuala, Mempawah dengan jarak tempuh sekitar satu jam perjalanan. Pelayaran keluarga kerajaan ini diiringi dengan 40 perahu.

Saat masuk Muara Kuala Mempawah, rombongan tersebut disambut gembira oleh masyarakat Mempawah. Sambutan tersebut dilakukan dengan memasang berbagai kain warna-warni dan kertas di rumah penduduk yang berada di pinggir sungai. Karena kedatangan rombongan tersebut bertepatan dengan bulan Safar, maka masyarakat Mempawah memperingatinya sebagi upacara tolak bala, karena masyarakat Mempawah yakin pada bulan Safar banyak diturunkan bala.

Baca juga: Temukan Kerukunan Antar-Umat Beragama dan Budaya di Rumah Panjang

Setelah azan dan membaca doa tolak bala, masyarkat melakukan ritus buang-buang  sesaji, biasanya selepas zuhur.

Sesajian terdiri atas beras kuning, setanggi, dan bertih (beras yang disanggrai).  Bertih melambangkan kemakmuran dan kesejahteraan dan setanggi melambangkan keberkahan. Ritus buang-buang adalah bentuk penghormatan dan pengakuan terhadap sungai dan laut sebagai sumber kehidupan. Setelah itu, warga makan saprahan atau makan bersama di halaman depan Istana Amantubillah.

Sekarang, Robo-robo selain digelar untuk menolak bala, juga untuk mengenang hari wafatnya Opu Daeng Menambon. Sebagai pemeriah acara, warga menggelar hiburan tradisional seperti jepin, tundang atau pantun berdendang, dan lomba perahu bidar.  Warga keturunan Bugis di Kalbar bisanya memperingati Robo-robo dengan makan bersama keluarga di halaman rumah. (PA/SA)