Kampung Tarung, Tanah Adat di Tengah Modernitas

Selain karena merupakan salah satu kampung tertua di Sumba Barat, masyarakat yang tinggal di lahan sepanjang satu kilometer ini juga masih menjaga adat istiadat para leluhur.

Kampung Tarung, Tanah Adat di Tengah Modernitas
Foto: Kampung Tarung (Foto: viva.co.id)

Inibaru.id - Bukit kecil dengan ketinggian sekitar 100 meter di atas permukaan daratan Kota Waikabubak, ibu kota Kabupaten Sumba Barat, Nusa Tenggara Timur, diyakini sebagai tempat tinggal pertama leluhur Sumba, Sudi Wonanyoba.

Dia menjaga pasangannya yang disebut Tarung. Di bukit tersebut, berdiri sebuah kampung kecil. Orang-orang sekitar menyebutnya Kampung Adat Tarung. Sudah sejak lama kampung itu menjadi daya tarik wisatawan.

Selain karena merupakan salah satu kampung tertua di Sumba Barat, masyarakat yang tinggal di lahan sepanjang satu kilometer ini juga masih menjaga adat istiadat para leluhur.

Dilansir dari Viva, di Kampung Tarung sendiri sedikitnya terdapat 100 rumah menara yang dihuni oleh 400 warga. Setiap rumah, diisi oleh tiga generasi. Rumah menara sendiri ialah rumah adat khas Sumba Barat yang memiliki filosofi dan fungsi bagi masyarakat Kampung Tarung.

Baca juga:
Rindu Tanah Air, Orang Indonesia Bikin Pasar Hamburg
Dilupakan di Negeri Sendiri, Wayang Kancil Justru Tenar di Luar Negeri

"Kami itu ada tiga tingkat, di atas itu, tingkat pertama untuk hewan ternak (babi, anjing dan kerbau), tingkat kedua untuk tempat tinggal, tingkat ketiga baru lumbung padi," ungkap Rato Amalede, salah satu tetua di Kampung Tarung, kepada VIVA di Sumba Barat, NTT.

Setiap lumbung padi di tiap rumah, lanjut Rato, mampu menampung beras hingga kurang lebih satu ton. Semua itu tergantung dari hasil panen tiap keluarga.

Menariknya, meski memiliki jumlah cadangan beras yang tak bisa dibilang sedikit, masyarakat Kampung Tarung, masih membeli beras untuk kebutuhan sehari-hari. Sedangkan beras di lumbung padi biasa digunakan untuk acara-acara besar, seperti pernikahan atau juga pekuburan, yang juga kerap digelar di tempat itu.

Selain terdiri dari tiga tingkat, struktur rumah menara sendiri terbuat dari kayu dengan atap dari jerami. Kayu yang dipilih pun kayu kualitas terbaik, yang dipercaya anti rayap.

Selain rumah menara, di Kampung Tarung juga terdapat pekuburan yang terbuat dari tumpukan bebatuan.

Baca juga:
Meminta Hujan, Warga Probolinggo Melakukan Tarung Ojung Sabet Rotan
Menilik Kesakralan Tradisi Malam Satu Sura

Namun, apabila berkunjung ke sana, sebaiknya perlu berhati-hati dalam melangkah atau mengabadikan foto. Sebaiknya terlebih dahulu meminta izin setiap ke tempat yang ingin dilewati.

Hal ini karena di Kampung Tarung ada tempat terlarang yang tidak boleh dilewati atau sekadar duduk untuk mengabadikan momen. Jika melanggar, pengunjung akan dikenai sanksi berdasarkan adat masyarakat setempat.

Sebagai informasi,  untuk masuk ke Kampung Tarung sendiri, pengunjung diwajibkan mengisi buku tamu dengan memberikan sejumlah uang yang tidak dipatok.

Di pintu gerbang menuju kampung tersebut terdapat pos jaga, tetapi tidak ada penjaganya. Pos itu dibangun pemerintah daerah setempat untuk tempat pengumpulan uang retribusi masuk kampung adat Tarung. (GIL/IB)