Ini Dia Makna Dibalik Lomba-Lomba Agustusan

Ternyata lomba-lomba khas yang selalu ada di tiap perayaan Agustusan punya makna filosofi. Penasaran kan?

Ini Dia Makna Dibalik Lomba-Lomba Agustusan
Lomba tarik tambang hampir selalu ada di tiap perayaan hari kemerdekaan Indonesia. (Foto : porosjakarta)

Inibaru.id - 17 Agustus selalu menjadi hari istimewa bagi warga negeri ini. Ya, hari itu adalah peringatan kedaulatan Indonesia. Pada tahun 1945 lalu Nusantara merdeka, menjadi negara sendiri: Republik Indonesia.

Selain acara tasyakuran yang acap digelar pada malam 17 Agustus, berbagai lomba juga selalu menarik bagi penduduk negeri ini, terutama di kalangan anak-anak. Berbagai lomba seru tersaji, yang tak jarang mengundang gelak tawa.

Sebutlah misalnya lomba balap karung, makan kerupuk, tarik tambang, atau panjat pinang. Semua lomba itu kebanyakan merupakan “pesta rakyat” yang bisa diikuti semua orang tanpa memandang kasta atau jabatan.

Sejarawan cum budayawan Indonesia JJ Rizal mengatakan, tradisi lomba ini diperkirakan muncul pada tahun 1950-an.

"Masyarakat sendiri yang memunculkan lomba-lomba itu sejak perayaan HUT  Kemerdekaan RI yang ke-5. Sebelumnya tidak ada lomba," ujarnya, sebagaimana dilansir dari Merdeka.com.

Kendati demikian, di balik kemeriahan lomba-lomba tradisional di Indonesia, sejatinya terdapat unsur filosofis yang terkandung di dalamnya, di antaranya:

Lomba Egrang

Sebagaimana dituturkan Rizal, lomba ini bermakna menghina atau mengejak kolonialisme Belanda yang tubuhnya tinggi (jangkung). Mereka main egrang untuk mengejek orang jangkung (Belanda).

Lomba Balap Karung

Lomba balap karung mengingatkan rakyat Indonesia pada masa-masa sulit ketika dijajah Jepang. "Saat Indonesia dijajah Jepang, mayoritas rakyat ketika itu pakaiannya adalah karung goni," ungkap Rizal.

Lomba Makan Kerupuk

Lomba makan kerupuk merupakan simbol keprihatinan warga Indonesia di era penjajahan. Kerupuk adalah simbol pangan tak bergizi. Itu pun makannya masih harus dipersulit dengan tangan diikat sementara kerupuk digantung.

Lomba Tarik Tambang

Tarik tambang adalah simbol gotong-royong dan kebersamaan. Selain itu, solidaritas masyarakat Indonesia juga menjadi semangat lomba ini.

Lomba Panjat Pinang

Lomba ini sebenarnya merupakan olok-olok yang dilakukan penjajah Belanda terhadap rakyat pribumi. Digelar dalam acara besar seperti hajatan dan pernikahan, para pribumi yang bahu-membahu memperebutkan “barang mewah” di puncak pinang itu adalah bahan tertawaan bagi mereka.

Dahulu, barang mewah yang digantung di puncak pinang adalah bahan makanan seperti keju, gula, dan pakaian kemeja. Namun kini, “hadiah” tersebut telah bergeser menjadi barang-barang non-konsumsi seperti sandangan, sepeda, televisi, ponsel, bahkan televisi atau yang lebih mewah dari itu. (GIL/IB)