Budaya Indonesia-Jepang di Kanvas Pelepah Pisang

Melukis tak harus dilakukan di atas kanvas. Sebagian pelukis bahkan sengaja bereksplorasi dengan “mencorat-coret” kuas di berbagai media lain selain kanvas.

Budaya Indonesia-Jepang di Kanvas Pelepah Pisang
Lukisan di atas pelepah pisang karya pelukis Jun Sakata di Galeri Cipta II TIM, Cikini, Jakarta Pusat.(Foto:Kompas.com)

Inibaru.id - Melukis tak harus dilakukan di atas kanvas. Sebagian pelukis bahkan sengaja bereksplorasi dengan “mencorat-coret” kuas di berbagai media lain selain kanvas.

Adalah Jun Sakata yang baru-baru ini menggelar pameran lukisan dengan alas lukis yang terbilang cukup unik, yakni di atas kertas pelepah pisang.

Sebagaimana dilaporkan Kompas.com, pelukis asal Jepang tersebut menggelar pameran lukisan pada 3-12 Juli 2017 di Galeri Cipta II Taman Ismail Marzuki (TIM), Cikini, Jakarta Selatan. Sebanyak 50 karya seni rupa dipamerkan dalam kegiatan tersebut.

Sakata mengaku telah menunggu momen menggelar pameran tersebut sedari lama. "Membuat pameran di Jakarta adalah impian saya. Saya ingin semua orang bersenang-senang dan bergembira di sini," ungkapnya ketika membuka acara.

Meski orang Jepang, Sakata memang tampak begitu mencintai Indonesia. Ketertarikan melukis di atas media pelepah pisang tercetus manakala ia berkunjung ke Ubud, Bali, pada 1999 lalu. Kurang lebih setahun berselang, ia menemukan kertas yang terbuat dari pelepah pisang.

Mulai saat itu hingga 15 tahun kemudian, Sakata konsisten melukis di atas pelepah pisang. Ia juga mengumpulkan berbagai lukisan yang dibuatnya.

Melukis di atas pelepah pisang membuat Sakata senang. Bertemakan alam dan budaya Indonesia-Jepang, ia seakan ingin mengungkapkan energi dan ilham dari alam melalui karya seni dari kertas pisang.

Pria 69 tahun yang semula merupakan perancang bunga di Jepang itu sengaja membagi waktunya, masing-masing enam bulan di Ubud dan enam bulan di Yokohama, untuk menyelesaikan lukisan-lukisannya.

Untuk lukisan skala ringan, Sakata bisa menghabiskan waktu dua sampai tiga minggu. Sementara untuk lukisan yang cukup berat, ia bisa menghabiskan waktu lebih dari satu bulan.

Sakata berharap, pameran dan karyanya bisa menjadi semacam pertukaran budaya antara Indonesia dengan Jepang.

Aktris watak Jajang C Noer yang didaulat membuka acara tersebut mengaku takjub dengan hasil karya Sakata. Menurutnya, karya di atas pelepah pisang itu telah menghadirkan ketenangan di hatinya.

“Ada yang bilang sekelebat juga anak kecil bisa, tapi enggak, ada sesuatu yang besar di belakangnya," ungkap bintang layar lebar senior yang dikenal cukup menaruh perhatian pada seni lukis tersebut kepada Kompas.com.

Jajang berpendapat, lukisan-lukisan sarat nilai artistik itu tidak akan bisa jadi jika si pembuat tidak tulus dalam berkesenian.

"Itu tidak bisa dibuat kalau tidak dengan hati. Dari hati dan dengan hati, itu tidak sembarangan. Nah kalau pun ada yang kosong, itu ada artinya. Jadi karya seni adalah karya yang kalau kita lihat atau kita nikmati ada sesuatu di belakangnya. Sesuatu yang lebih jauh dari apa yang kita liat, nah itu karya seni," kata dia.

Sebelum dipamerkan di TIM, lukisan-lukisan Sakata sudah lebih dulu dipamerkan di berbagai kota di Jepang. Sedangkan untuk Indonesia, sebelum di TIM, karya Sakata sudah lebih dulu mampid di ffandi Art Museum, Yogyakarta. (OS/IB)