Ujaran Kebencian Terhadap Media, Bukti Netizen Kurang Bijak

Inilah bukti kalau netizen kurang bijak terhadap media

Ujaran Kebencian Terhadap Media, Bukti Netizen Kurang Bijak
social media and materialism (Foto : sites.psu.edu)

 

inibaru.id - Kecaman negatif, ujaran kebencian, bully bahkan ancaman boikot terhadap media merupakan bentuk sikap yang kurang bijak seorang netizen dalam merespon pemberitaan di media sosial. Apalagi jika sikap tersebut berkembang menjadi sikap antipati dan berpotensi pada penghakiman terhadap suatu media massa.

Hal tersebut yang terjadi pada media-media besar di Indonesia, baik media mainstream maupun daring. Diantaranya stasiun televisi nasional Metro TV, Kompas TV, dan daring sindonews.com. Beberapa media tersebut hingga kini masih menjadi sasaran empuk para netizen dalam menghujat dan mengucapkan sumpah serapah mereka.

Sentimen negatif bernada kecaman, ujaran kebencian, bully dan ancaman boikot yang terjadi belakangan ini  bermula dari pemberitaan terkait isu terorisme, pilkada DKI 2017, hingga disusul kasus penodaan agama yang mejerat Gubernur non aktif Basuki Tjahya Purnama alias Ahok. Menurut netizen, media-media tersebut dianggap memuat unsur ketidakberimbangan dan tengah memframing kepentingan tertentu.

Tidak dapat dimungkiri, terkadang media mainstream membangun citra. Akan tetapi sebagai insan pers, media-media tersebut tentu masih memperhatikan kode etik jurnalisme yang dimiliki. Ironisnya, hal tersebut terkadang justru dimanfaatkan oleh oknum yang tidak bertanggungjawab untuk memelintir keadaan sehingga makin memperkeruh keadaan.

Bahkan lebih parahnya berawal dari hal tersebut kini netizen seolah meraport merah setiap pemberitaan yang disuguhkan oleh media-media yang menurutnya berseberangan dengan ideologi, visi maupun visi tanpa melihat isi konten berita tersebut.

Dilihat dari jumlah presentase, Metro TV menempati urutan pertama yang menuai sentimen negatif para netizen di sosial media. Salah satu contohnya dapat dilihat dari kicauan netizen di Twitter pasca Metro TV menayangkan berita kemenangan pasangan Gubernur dan Wakil Gubernur Anies-Sandi. Seperti tak kehabisan ide untuk membully, netizen terus saja melontarkan komentar nyinyir.

“Tumben waras nih chanel metro tivu:D :D :D Ayo kawal terus jangan sampai lengah saudaraku yang di Jakarta” ujar @3ty_Fairah  seorang netizen dalam akun Twitter yang menyebutkan keyword "metro tivu".

Pemberitaan lain sempat dibanjiri hujatan yakni dalam postingan Instagram Metro TV terkait pertemuan Presiden Joko Widodo dengan beberapa tokoh lintas agama menyangkut kasus pembubaran HTI Selasa, (16/5).

Dalam kolom komentarnya banyak netizen yang meneriakkan bahwa Metro TV adalah penyebar fitnah. Adapula yang mengatakan bahwa Metro TV menyebarkan berita hoax. Padahal jika diperhatikan, pemberitaan tersebut tidak hanya dimuat oleh Metro TV, tapi oleh beberapa media daring lain seperti kompas.com, detik.com, tribunnews.com. Dari hal tersebut, dapat dipastikan jika berita yang disuguhkan oleh Metro TV merupakan fakta, bukan hoax.

Tak hanya Metro TV, sejumlah media mainstream lain juga turut menjadi sasaran empuk para netizen untuk melancarkan hujatan dan kecamannya. Misalnya yang terjadi pada Kompas TV usai mengangkat progam ROSI dengan topik makar dari NKRI Kamis (4/5). Dalam program tersebut, Kompas TV mendatangkan Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo. Diundangnya Gatot sebagai narasumber program tersebut mengacu pasa tulisan seorang jurnalis asal amerika Allan Nairn yang beredar luas di media digital yang menyebutnya terlibat dalam gerakan makar terhadap pemerintah saat ini.

Pasca menayangkan program tersebut, Kompas TV banyak mendapatkan kecamanan negatif dari netizen di media sosial. Banhkan tak tanggung-tanggung juga akan mengancam boikot Kompas TV. Selain itu, hal serupa juga terjadi pada media daring sindonews.com. Sindonews sempat beberapa kali mendapat kecaman dari netizen pasca mengangkat pemberitaan aksi damai dalam mengawal kasus Ahok. Mereka menganggap pemberitaan sindonews.com memuat unsur keberpihakan.

Lebih Bijak

Melihat kasus tersebut dapat diambil kesimpulan bahwa terdapat penyimpangan perilaku netizen dalam bermedia sosial. Pasalnya, sejauh ini masih banyak netizen yang tidak secara bijak merespon berbagai pemberitaan di media sosial. Hal tersebut dapat pula disebabkan adanya doktrin yang menghegemoni pemikiran menjadikan netizen menutup mata terhadap kebenaran yang terjadi. Sehingga kerap kali netizen melontarkan ujaran kebencian tanpa lebih dulu mengroscek kebenaran beritanya

Di era digital seperti saat ini, media sosial memberikan pengaruh yang besar terhadap perubahan suatu bangsa. Melalui media sosial pula sebuah pengetahuan, berita bahkan isu akan tersebar secara massif.

Oleh karena itu, sebagai netizen yang cerdas semestinya harus lebih bijaksana dalam merespon suatu kasus yang muncul. Harus mampu menimbang akurasi berita-berita yang beredar di media. Tidak langsung mengeneralisasi kasus dan menghakimi dengan ancaman boikot media atau dengan pernyataan-pernyataan provokatif yang memicu adanya permusuhan dan perpecahan bangsa. (NA)

 

Tags :