Masih Yakin Bisa Untung Cepat lewat Investasi Properti?

Ekonomi Amerika kolaps, yang juga sangat berimbas bagi Indonesia, pada 2008. Harga properti di negeri dengan ekonomi terbesar itu terjun bebas, menggerus kekayaan orang-orang yang “menabung” di investasi properti yang sebelumnya diyakini nilainya akan terus naik. K

Masih Yakin Bisa Untung Cepat lewat Investasi Properti?
1k
View
Komentar

Inibaru.id - Ekonomi Amerika kolaps, yang juga sangat berimbas bagi Indonesia, pada 2008. Harga properti di negeri dengan ekonomi terbesar itu terjun bebas, menggerus kekayaan orang-orang yang “menabung” di investasi properti yang sebelumnya diyakini nilainya akan terus naik.

Kredit macet atau sub-prime mortgage crisis melatari peristiwa tersebut. Lehman Brothers yang meminjam uang begitu besar kepada Federal Reserve (Bank Indonesia-nya AS), mengalami gagal bayar setelah usaha KPR-nya kepada orang-orang yang seharusnya tidak bisa mengajukan kredit (sub-prime) mengalami kredit macet.

Peristiwa semacam ini terdengar begitu familiar di negeri ini. Bank investasi mengajukan pinjaman, kemudian mengambil properti untuk dijual kepada orang-orang dalam bentuk kredit dengan iming-iming harga rumah akan terus naik.

Bahkan, ada bank yang berani membuat program kredit tanpa uang muka. Kemudian, alih-alih hanya menjual kepada kreditur berkompeten (prime), KPR juga dijual kepada orang yang tak kompeten untuk membayar kredit (sub-prime) lantaran yang kompeten sudah habis atau bank begitu serakah ingin menjual KPR sebanyak mungkin.

Tak akan menjadi masalah manakala tiap orang berhasil membayar KPR. Namun, akan menjadi bencana jika mereka gagal bayar. Rumah akan disita. Bank yang seharusnya memperoleh uang untuk membayar pinjaman menjadi kesulitan lantaran yang dimiliki adalah rumah, bukan uang.

Awalnya, bank tidak peduli dengan bisnis penuh risiko itu. Selama banyak pembeli, harga properti akan terus naik. Orang pun akan terus berinvestasi, menjanjikan kemudahan menjual rumah bagi bank.

Namun, apa jadinya jika semakin banyak orang gagal bayar? Banyak rumah disita. Bank akan memiliki lebih banyak rumah dibanding uang untuk membayar hutang. Di samping itu, sudah menjadi hukum ekonomi jika lebih banyak barang ketimbang pembeli, harga barang akan turun.

Pada saat itulah harga properti akan kolaps, sebagaimana terjadi di AS. Sudah barang tentu pihak bank akan mengusahakan sekuat tenaga agar peristiwa yang di AS dikenal dengan istilah “pecahnya gelembung properti” itu tidak terjadi. Tapi, apalah artinya kuasa bank saat itu? Bukankah mereka juga akan mengalami gagal bayar atas pinjaman yang mereka ajukan?

Bank Indonesia (BI) pernah mengingatkan perbankan agar memperketat penyaluran KPR. Hal itu dilakukan setelah BI melakukan survei terhadap 5000 orang pada 2013. Survei menunjukkan, 64 persen responden mengaku akan berinvestasi properti karena yakin harganya masih bisa naik.

BI menduga, ada risiko harga properti masuk periode bubbleatau yang biasa disebut “gelembung properti” yang bisa pecah kapan saja. Kenapa BI memperingatkan perbankan? Ya, karena merekalah yang memiliki kebijakan menawarkan pinjaman KPR. Standar kredit bank yang relatif longgar bisa menyebabkan lonjakan harga properti karena maraknya spekulasi dengan menggunakan utang (leveraged speculation).

Kemudian, kecenderungan investor di Indonesia masih mengikuti tindak-tanduk kelompok (crowd) alias perilaku membebek. Investor properti kian bertambah bukan karena aspek harga, tapi karena anggapan busa untung cepat di pasar properti. (GIL/IB)

Tags :