Sevel Tutup Usia, Ada Apa Gerangan?

Terhitung sejak 1 Juli 2017 gerai waralaba 7-Eleven, atau akrab disingkat Sevel, di Indonesia resmi ditutup. Namun, beberapa gerai sudah tutup lebih dahulu, jauh sebelum pengumuman resmi itu dilansir.

Sevel Tutup Usia, Ada Apa Gerangan?
Sejak 1 Juli 2017 gerai waralaba 7-Eleven atau Sevel, di Indonesia resmi ditutup. (foto: cnbc.com)

Inibaru.id - Terhitung sejak 1 Juli 2017 gerai waralaba 7-Eleven, atau akrab disingkat Sevel, di Indonesia resmi ditutup. Namun, beberapa gerai sudah tutup lebih dahulu, jauh sebelum pengumuman resmi itu dilansir.

Berbagai spekulasi turut mengiringi alasan penutupan gerai yang telah menggurita cukup lama di Indonesia ini. Ada yang bilang ini karena kerugian yang muncul akibat pengguna yang nongkrong terlalu lama di gerai tapi hanya membeli makanan alakadarnya sehingga tidak menutup biaya produksi. Ada pula yang menyebut soal persaingan yang ketat. Yang mana alasan sebenarnya?

Ketua Kadin Rosan Roeslani mengungkapkan alasan pertama. Dilansir dari berbagai media, Rosan mengatakan, "Di Sevel orang beli satu minuman ringan saja nongkrongnya dua-tiga jam,sementara ada pengeluaran sewa tempat yang besar.”

Hal ini, menurutnya, menyebabkan biaya operasional tinggi sementara margin keuntungannya tipis jika dibanding dengan minimarket retail lain dengan volume pendapatan yang lebih banyak dan lebih cepat.

Tak lama, anggapan ini pun segera dibantah Ketua Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo), Roy Mandey, yang yakin tidak ada yang salah dengan konsep nongkrong ala Sevel.

“Nggak bisa digeneralisasi. Apa iya semua yang datang beli air mineral, terus nongkrong tiga jam? Kita lihat ada yang datang beli minum, masuk lagi, beli roti. Itu kan omzet,"ungkap Roy.

Meski pun faktor konsumen yang nongkrong berjam-jam bisa menjadi faktor penyebab tutupnya Sevel, Roy mengatakan, hal itu tidak substantif.

"Situasinya, saat mereka masuk ke Indonesia, belum ada peraturannya,” terang dia.

Roy mengungkapkan, pemilik Sevel adalah orang asing. Tidak menjadi soal ketika mereka memiliki bisnis restoran atau kafetaria. Namun, menjadi masalah manakala ia juga memiliki bisnis retail.

“Ada Perpres 36 Tahun 2010 yang mensyaratkan format retaildi bawah ukuran 400 meter persegi harus local player, bukan dari luar,” terangnya.

Sebagai catatan, Perpres 36 Tahun 2010 merupakan peraturan yang mengatur Daftar Bidang Usaha yang Tertutup dan Bidang Usaha yang Terbuka dengan Persyaratan di Bidang Penanaman Modal.

Sevel kemudian bisa berdiri di Indonesia dengan izin Dinas Pariwisata Kota Jakarta. Namun, Sevel kembali terbentur masalah sewa lahan yang harus diperpanjang.

Tahun 2017, ungkap Roy, bertepatan dengan habisnya masa lima tahun sewa Sevel di tempat-tempat strategis. Sementara, tidak ada aturan baru yang memudahkan model bisnis ini.

"Sewa di area komersial harus memperpanjang, pendapatan malah minus.Cost lebih besar, sementara tidak ada perubahan visi regulator. Ya mau tidak mau harus tutup,"ungkapnya. (GIL/IB)

Tags :