Eksotika Membuat Yadnya Kasada 2017 Lebih Istimewa

Bromo selalu menarik untuk kita kunjungi karena bentangan alam dan eksotika budayanya. Setiap tahun, baik turis domestik maupun luar negeri berlangganan untuk menghadiri salah satu hiburan di sana yaitu peringatan Yadnya Kasada. Tahun ini, peringatan ini berjalan lebih meriah dari tahun sebelumnya.

Eksotika Membuat Yadnya Kasada 2017 Lebih Istimewa
peringatan Yadnya Kasada. (foto: hepwee.com)
599
View
Komentar

Inibaru.id - Bromo selalu menarik untuk kita kunjungi karena bentangan alam dan eksotika budayanya. Setiap tahun, baik turis domestik maupun luar negeri berlangganan untuk menghadiri salah satu hiburan di sana yaitu peringatan Yadnya Kasada. Tahun ini, peringatan ini berjalan lebih meriah dari tahun sebelumnya.

Hari Raya Yadnya Kasada adalah hari masyarakat Bromo mengadakan upacara sesembahan kepada Sang Hyang Widhi di setiap hari Kasada (ke empat belas) penanggalan Jawa. Puncak perayaan tersebut diselenggarakan pada Minggu (9/7/2017) malam di Pendopo Agung. Namun sebelum acara puncak, ada acara yang juga tak kalah menarik, yaitu Festival Eksotika Bromo.

“Kali ini, Kasada akan berbeda, ada Eksotika. Kasada harus menyedot wisatawan dan membuat mereka berlama-lama di Bromo,’’ ujar Sidik Wijanarko, Kepala Dinas Pemuda, Olahraga, Pariwisata dan Budaya.

Secara ritual, Kasada tetaplah sama. Tiada yang akan berubah dari tradisi tersebut. Tujuan Eksotika hanyalah memanjakan turis agar berwisata lebih lama di Bromo.

“Harapan kami dengan adanya Eksotika, wisatawan akan menginap, bukan sekadar menyaksikan matahari terbenam, lalu pulang,” tambahnya.

Turut hadir dalam Eksotika adalah Dirjen Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE), Wiratno. Ia mengaku mendukung kegiatan budaya yang dilakukan di obyek wisata sebagaimana dihelat di Bromo ini.

“Ritual ini (Kesada) memang harus dikembangkan, dengan menyertakan kesenian budaya daerah yang dihidupkan kembali,” ujarnya di sela-sela pertunjukan.

Menurutnya, kelestarian tradisi juga akan berimbas pada kelestarian lingkungan hidup dan sumber daya alam di sekitarnya.

“Gunung Bromo adalah obyek wisata internasional yang harus terus dikembangkan. Kegiatan budaya di lautan pasir merupakan sesuatu yang unik dan menarik juga sangat bagus,"tambahnya.

Umumnya, budaya atau tradisi lokal akan mengedepankan unsur-unsur penghargaan terhadap alam sekaligus pemanfaatan hutan sebagai penopang kehidupan mereka.

"Tak sedikit kawasan hutan yang secara adat masih dikuasai dan dijaga untuk kepentingan kehidupan kelompok-kelompok adat mereka," tukasnya.

Asal-Usul

Asal usul Kasada bermula saat pasangan Rara Anteng dan Jaka Seger, yang menjadi cikal-bakal suku Tengger memerintah di desa Tengger. Namun, mereka tidak jua dikaruniai anak. Kedua pasangan itu pun bersemidi kepada Sang Hyang Widhi agar dikaruniai anak.

Doa mereka didengar. Rara Anteng akan memiliki momongan manakala ia mau mengorbankan anak bungsunya di kawah Bromo. Merkeka pun menyanggupinya, lalu dikaruniai 25 anak. Namun, pengorbanan tak jua dilakukan lantaran tidak tega.

Sang Hyang Widhi murka. Gunung Bromo pun meletus, menewaskan anak bungsu Rara Ateng. Untuk mengenang peristiwa itu, warga Tengger pun mengadakan upacara adat di kawah Gungung Bromo tiap bulan Kasada. (OS/IB)

Tags :