Belajar Tanpa Bersekolah di KBQT

Beberapa waktu lalu dunia pendidikan Tanah Air dibuat geger dengan keinginan pemerintah, melalui pernyataan Mendikbud Muhadjir, untuk memberlakukan sekolah lima hari dengan durasi delapan jam tiap harinya. Belakangan, pernyataan itu direvisi.

Belajar Tanpa Bersekolah di KBQT
kegiatan sekolah di KBQT (foto: kbqt.org)

Inibaru.id - Beberapa waktu lalu dunia pendidikan Tanah Air dibuat geger dengan keinginan pemerintah, melalui pernyataan Mendikbud Muhadjir, untuk memberlakukan sekolah lima hari dengan durasi delapan jam tiap harinya. Belakangan, pernyataan itu direvisi.

Sebenarnya, apakah esensi dari sebuah pendidikan? Bersekolah, berseragam, atau apapun itu yang melekat dalam kegiatan sehari-hari, sejatinya hanyalah sarana untuk memperoleh pendidikan. Namun, ada satu hal yang jauh lebih esensial dari itu semua, yakni belajar.

Jika Anda memiliki anak, tanyakan kepada buah hati Anda: “Apabila ada cara untuk belajar tanpa harus bersekolah, apakah Anda akan melakukannya?”

Sebagian dari siswa yang merasa berat hati bersekolah pasti akan mengangguk dengan cepat. Kenapa? Karena sekolah adalah “penjara” bagi mereka. Membelenggu kebebasan. Ada pagar yang begitu tinggi membatasi kegiatan bersekolah dengan bermain. Bayangkan seandainya mereka harus dipenjara selama delapan jam lamanya setiap hari!

Akan tetapi, adakah sekolah tanpa pagar? Atau adakah kegiatan belajar tanpa harus (merasa) bersekolah? Ada! Datanglah ke Komunitas Belajar Qaryah Thayyibah (KBQT) di Desa Kalibening, Salatiga, Jawa Tengah.

KBQT merupakan sebuah komunitas belajar yang mengusung ide pendidikan alternatif dengan mengesampingkan tradisi-tradisi bersekolah pada umumnya, kecuali esensi belajar itu sendiri.

 Berkunjunglah ke Jalan Raden Mas Said, Kalibening, Tingkir, Salatiga, dan saksikan bagaimana para “murid” yang berasal dari lingkungan sekitar KBQT bermain dengan pikirannya dan belajar dengan permainan yang mereka lakukan.

Belajar bukanlah tentang duduk di kursi sembari mendengarkan penuturan guru di depan kelas. Belajar bisa diawali dengan diskusi bersama teman, mencari di internet, dan lain sebagainya. Begitulah di KBQT. Mereka tidak menyediakan guru. Hanya sekelompok murid dan pendampingnya.

 Awal berdiri,KBQT hanya menampung 12 orang setingkat SMP. Namun kini, ratusan siswa setingkat SMP dan SMA belajar di “sekolah” tersebut saban hari.

Bahruddin, pendiri KBQT, mengembangkan konsep “belajar sesuai kebutuhan” dalam kelompok belajar miliknya.Prinsip dasarnya adalah memberi kebebasan siswa untuk belajar apa pun yang mereka sukai, tanpa kurikulum .

Apakah bisa mendapatkan ijazah? Tentu saja bisa. Namun, itu semua kembali pada si siswa, karena untuk mendapatkan ijazah, mereka harus mengikuti ujian Kejar Paket.

Lalu, apakah bisa berprestasi? Ratusan karya berhasil ditelurkan para siswa KBQT selama mereka ber-“sekolah”. Maia Rosyida, misalnya. Sastrawan muda itu adalah alumnus KBQT. Selama menjadi siswa di sana, lebih dari 20 judul buku berhasil ia tulis dan terbitkan. Hm, menarik?

Perdebatan tentang kebijakan Mendikbut terkait sekolah delapan jam sehari baiknya memang tak perlu diperpanjang. Kalaupun pada akhirnya sekolah umum  harus menerapkan kebijakan itu, bolehlah mencari sekolah alternatif yang lebih “bersahabat” bagi buah hati Anda. Begitu?. (GIL/IB)

 

Tags :