Hari Pertama Sekolah, Budaya Pungutan Masih Marak

Menyambut tahun ajaran baru, pengamat dunia pendidikan bernama Profesor Ratu Wardarita baru-baru ini mengungkapkan fakta bahwa pungutan saat PPDB atau Penerimaan Peserta Didik Baru di tingkat SMA atau SMK ternyata masih marak terjadi. Memang, pungutan ini memiliki nama sumbangan sukarela dan sudah disetujui oleh komite sekolah. Namun, menurut Ratu, budaya pungutan ini bisa memberikan dampak yang sangat buruk bagi pendidikan nasional.

Hari Pertama Sekolah, Budaya Pungutan Masih Marak
605
View
Komentar

Inibaru.id - Menyambut tahun ajaran baru, pengamat dunia pendidikan bernama Profesor Ratu Wardarita baru-baru ini mengungkapkan fakta bahwa pungutan saat PPDB atau Penerimaan Peserta Didik Baru di tingkat SMA atau SMK ternyata masih marak terjadi. Memang, pungutan ini memiliki nama sumbangan sukarela dan sudah disetujui oleh komite sekolah. Namun, menurut Ratu, budaya pungutan ini bisa memberikan dampak yang sangat buruk bagi pendidikan nasional.

Meskipun bernama sumbangan sukarela, dalam realitanya hal ini bisa menyebabkan kekhawatiran bagi orang tua karena bisa membuat mereka takut anaknya tidak diterima pada sekolah yang bersangkutan. Alhasil, mereka pun memilih untuk memberikan sumbangan yang jumlahnya bisa cukup banyak.

Jika hal ini diteruskan, ada sejumlah anak yang sebenarnya memiliki kecerdasan yang mumpuni dan bisa diterima di sekolah tersebut justru tidak diterima karena orang tuanya tidak memberikan jumlah sumbangan yang dianggap cukup mengingat dalam realitanya masih banyak sekolah yang melakukan perangkingan penerimaan yang tidak transparan dan berdasarkan oleh besarnya sumbangan yang diberikan oleh orang tua.

Menurut Profesor Ratu, adanya budaya sumbangan sukarela ini ternyata bisa membuat orang tua melakukan berbagai cara yang tidak sehat agar anaknya bisa masuk di sekolah yang dianggap favorit. Hal ini tentu bisa berimbas buruk bagi perkembangan dunia pendidikan kita di masa depan.

Tak hanya sumbangan sukarela, Profesor Ratu juga menyoroti budaya sekolah yang memberikan rekomendasi pada penjahit atau toko tertentu yang bisa menyediakan seragam sekolah. Tak hanya itu, seringkali mereka memasang biaya lebih mahal, namun kualitas seragam sekolah yang disediakan seringkali kurang baik.

Realita

Padahal, dalam realitanya banyak penjahit atau toko pakaian yang bisa memberikan seragam yang lebih murah dan lebih bagus di pasaran. Bagi banyak orang tua yang tidak memiliki uang lebih, adanya rekomendasi pada penjahit atau toko tertentu yang memiliki harga mahal ini tentu bisa menjadi hal yang memberatkan.

Profesor Ratu menyebutkan bahwa asalkan rekomendasi yang diberikan sekolah pada penyedia seragam atau perlengkapan sekolah lainnya tidak memiliki perbedaan harga yang signifikan dengan harga di pasaran atau memang bertujuan mempermudah siswa, hal ini sebenarnya tidak masalah untuk dilakukan.

Secara terpisah, salah seorang penjahit yang tidak mau disebutkan namanya mengaku jika kini pemesanan dari sekolah cenderung lebih sepi dari tahun-tahun sebelumnya. Kebanyakan orang tua murid kini bisa langsung membeli seragam sekolah ke toko-toko pakaian atau pedagang musiman karena menganggap biaya seragam dari tukang jahit lebih mahal.

Rido, salah seorang penjahit dari Hikmah Brodir di Pasar Cinde, Jambi, menyebutkan bahwa untuk saat ini, seragam sekolah muslim SMA memiliki harga Rp 90 ribu, untuk seragam sekolah batik dibandrol sebesar Rp 80 ribu. Sementara itu, harga seragam batik SD sebesar Rp 70 ribu. Harga ini sendiri cenderung semakin menurun jika dibandingkan harga tahun lalu demi menarik perhatian pelanggan. (AS/IB)

Tags :