Kirab Khitanan Unik Khas Demak

Khitanan adalah salah satu tradisi yang dilakukan oleh Kaum Muslim, khususnya bagi anak laki-laki. Tradisi ini dilakukan dengan cara memotong sebagian alat kelamin untuk menjaga kebersihan dan kesehatannya.

Kirab Khitanan Unik Khas Demak
Prosesi khitanan. (foto: klinikrumahsunatjogja.com)

Inibaru.id - Khitanan adalah salah satu tradisi yang dilakukan oleh Kaum Muslim, khususnya bagi anak laki-laki. Tradisi ini dilakukan dengan cara memotong sebagian alat kelamin untuk menjaga kebersihan dan kesehatannya. Tak hanya berkaitan dengan kesehatan atau tradisi, khitanan juga bisa menjadi acara besar bagi sebagian keluarga.

Bagi masyarakat di kawasan pesisir khususnya yang berasal dari Demak atau Jepara, khitanan bisa menjadi hajatan besar yang sangat unik. Tak hanya selamatan yang dilakukan dengan cara mengundang keluarga atau tetangga, masyarakat di dua kabupaten tersebut juga akan mengadakan semacam kirab keliling kampung yang sangat semarak.

Tradisi ini sedikit mirip dengan budaya sisingaan yang dilakukan pada anak yang juga baru dikhitan. Bedanya adalah, anak yang dikhitan di Demak dan Jepara ini diarak keliling kampung sambil menaiki kuda tunggangan seperti ksatria perang pada jaman dahulu.

Sebelum anak diarak keliling kampung, Ia biasanya akan didandani laiknya pengantin dengan pakaian berwarna semarak dan aksesoris yang gemerlap seperti topi dan sepatu yang berwarna atau bahkan dilengkapi dengan kacamata hitam.

Tak hanya anak yang disunat, beberapa anak pendamping yang juga nantinya akan menaiki kuda tunggangan juga akan didandani dengan pakaian atau aksesoris yang tak kalah gemerlap. Bahkan, kuda yang akan ditunggangi juga dilengkapi dengan kain yang memiliki warna meriah atau bahkan tambahan aksesoris sayap yang tentu terlihat sangat menarik.

Nganten Sunat

Sebelum diarak sekeliling kampung, anak yang dikhitan dan disebut sebagai Nganten Sunat ini biasanya akan dilepas dengan cara diberi doa dari kedua orang tuanya dan diberi semacam “sawanan” atau obat tradisional. Obat yang ditumbuk ini biasanya dibalurkan pada sebagian tubuh anak dengan tujuan memberi perlindungan pada anak dari segala mara bahaya yang bisa saja datang dalam perjalanan hidupnya di masa depan.

Setelah mendapatkan doa dari orang tua, Nganten Sunat dan rombongannya ini kemudian mulai diarak  mengelilingi kampung atau desa. Tak hanya Nganten Sunat dengan pendampingnya dan kuda yang cantik, rombongan ini juga dilengkapi dengan grup rebana atau yang kini lebih sering disewa adalah grup drum band yang berasal dari sekolah atau lingkungan sekitar.

Jika anak yang dikhitan berasal dari keluarga yang cukup mampu, rombongan ini bahkan bisa dilengkapi dengan Reog atau Jaran Kepang. Rombongan arak-arakan ini akan berhenti untuk mendapatkan doa restu dari kepala desa dan kemudian kembali ke tempat tinggal sang anak.

Tradisi ini masih cukup kuat dan dilakukan oleh keluarga di kawasan Demak dan Jepara. Bahkan, cukup banyak keluarga yang sudah merencanakan tradisi ini jika mereka memiliki anak laki-laki sejak sang anak masih bayi. Jika berhasil melakukan kirab ini, ada semacam kebanggaan tersendiri yang didapatkan oleh keluarga tersebut.

Bagi pemilik persewaan kuda atau aksesoris khusus bagi budaya pengiring sunat, adanya tradisi ini tentu menjadi ladang rejeki bagi mereka. Sebagai informasi, untuk 1 hingga 2 jam saja, pemilik kuda bisa mendapatkan Rp 250 ribu. Sementara itu, bagi keluarga yang ingin mengadakan kirab unik ini, setidaknya mereka harus menyiapkan biaya antara Rp 7,5 Juta hingga Rp 12,5 juta. (AS/IB)

 

Tags :