Jilbab di Indonesia dari Masa ke Masa

Jilbab, hijab, kerudung atau apapun orang Indonesia menyebutnya telah mengalami berbagai “perjuangan” di negeri ini. Sempat dilarang di era 1970-an, penutup kepala bagi kaum perempuan muslim ini kini justru kian digandrungi masyarakat tanah air.

Jilbab di Indonesia dari Masa ke Masa

Inibaru.id - Jilbab, hijab, kerudung atau apapun orang Indonesia menyebutnya telah mengalami berbagai “perjuangan” di negeri ini. Sempat dilarang di era 1970-an, penutup kepala bagi kaum perempuan muslim ini kini justru kian digandrungi masyarakat tanah air.

Bisa dikatakan, perkembangan jilbab di Indonesia tengah berada di titik kulminasi atas sekarang ini. Berbagai desain fesyen hijab dibuat melalui para desainer andal negeri ini. Beberapa perancang busana bahkan rela mengkhususkan kreasinya untuk busana-busana bernuansa tudung tersebut.

Dalam beberapa tahun terakhir, pengguna hijab juga kian meningkat. Jilbab tidak lagi dipandang sebagai busana kaum kolot, tapi telah naik peringkat menjadi busana trendi nan sedap dipandang mata.

Sebagai negara dengan penduduk mayoritas beragama islam, para perempuan di negara ini tentu saja tak akan merasa kesulitan mengenakan hijab. Indonesia adalah pusat fesyen untuk busana hijab. Namun, tahukah Anda jika negara kita memiliki sejarah kelam terkait kebijakan mengenakan jilbab?

Kurang begitu jelas kapan kali pertama jilbab masuk ke Indonesia. Diduga, pengenaan jilbab bagi kaum hawa mulai digunakan semenjak agama Islam mulai masuk Nusantara di era kerajaan, khususnya di wilayah Serambi Mekkah Indonesia, Aceh.

Seorang Ratu kerajaan Aceh, Sri Sultanah Ratu Safiatuddin Ta’jul Alam Shah Johan, adalah satu dari bukti pengenaan jilbab di Indonesia. Para perempuan berkerudung juga pernah diperlihatkan para perempuan pada masa perjuangan penjajahan.

Istri pendiri Muhammadiyah, Achmad Dahlan, yang juga merupakan pendiri organisasi sayap Muhammadiyah khusus perempuan Aisyiah, Nyai Achmad Dahlan, juga digambarkan mengenakan jilbab yang menutup kepala dan hanya menyisakan wajah saha.

Pemakai jilbab menemui kenyataan pahit ketika sekitar tahun 1980 pemerintah rezim Soeharto melarang jilbab dikenakan di sekolah.

Mendikbud Noegroho Notosoesanto  menyatakan,  apabila seorang pelajar terpaksa mengenakan kerudung—waktu itu kata jilbab masih menjadi perdebatan—pemerintah akan membantunya pindah ke sekolah yang seragamnya memakai kerudung.

Sebelumnya, Mendikbud juga mengadakan pertemuan khusus dengan MUI, menegaskan bahwa seragam harus sama bagi semua orang. Kalau tidak sama, berarti bukanlah seragam.

Banyak siswi dikeluarkan lantaran mereka enggan melepas kerudungnya. Sebagai bentuk perlawanan, mereka minta dibuatkan surat yang menyatakan ia dikeluarkan dari sekolah karena berjilbab.

Ribuan perempuan muslim juga turun ke jalan menolak aturan itu, yang juga menyebabkan sebagian dari mereka dikeluarkan dari sekolah.

Tags :