Unik!! Ini Beberapa Tradisi Syawalan di Pulau Jawa

Indonesia, khususnya pulau Jawa merupakan salah satu daerah yang memiliki banyak tradisi dan adat kebudayaan. Keberadaan tradisi terkadang menjadi simbol-simbol yang memuat pesan yang ingin disampaikan kepada masyarakat luas. Misalnya, tradisi Syawalan yang hingga kini masih dilakoni masyarakat disejumlah daerah.

Unik!! Ini Beberapa Tradisi Syawalan di Pulau Jawa

Inibaru.id - Indonesia, khususnya pulau Jawa merupakan salah satu daerah yang memiliki banyak tradisi dan adat kebudayaan. Keberadaan tradisi terkadang menjadi simbol-simbol yang memuat pesan yang ingin disampaikan kepada masyarakat luas. Misalnya, tradisi Syawalan yang hingga kini masih dilakoni masyarakat disejumlah daerah.

Sejumlah daerah seperti Semarang, Pekalongan, Boyolali, Jepara, Pati, Rembang, Klaten bahkan solo memiliki tradisi unik dan berbeda untuk mengucap syukur kepada Tuhan Yang maha Esa atau bahkan hanya sekedar untuk merayakan. Berikut ini merupakan beberapa tradisi Syawalan unik yang masih dilakukan hingga kini diberbagai daerah di pulau Jawa.

Sesaji Rewanda Semarang

Sebagai bentuk rasa syukur atas rezeki yang diberikan Allah SWT serta mengenang napak tilas perjuangan Sunan Kalijaga untuk membangun Masjid Demak warga Semarang berduyun-duyun mengadakan ritual Sesaji Rewanda. Sedikit berbeda dengan waktu pelaksanaan tradisi syawalan yang lain, Sesaji Rewanda ini biasanya dilaksanakan pada hari ketiga setelah Idul Fitri.

Dalam ritual ini warga membawa empat gunungan yang berisi sego kethek (nasi monyet), buah-buahan, hasil bumi, lepet dan ketupat dari kampung Kandri ke Goa Kreo. Tak ketinggalan replika kayu jati tiang Masjid Demak juga akan diarak dalam acara ini. Sementara itu ratusan penari dan pemusik tradisional pun turut serta memeriahkan acara ini. Gunungan hasil Bumi akan diberikan pada kera ekor panjang yang menghuni Goa Kreo. Sementara sisanya akan jadi rebutan para peserta upacara ini. Inilah yang jadi daya tarik utama acara ini.

Njimbungan Klaten

Tradisi bulan Syawal di Indonesia berikutnya ada di daerah Klaten. Para warga menyebut acara ini sebagai acara Njimbungan. Njimbungan merupakan kegiatan arak-arakan gunungan ketupat dan hasil Bumi dari alun-alun hingga mengelilingi kota klaten dengan berjalan kaki. Gunungan ketupat dan hasil Bumi ini akan dibagikan ke seluruh peserta yang mengikuti acara ini.

Kegiatan ini dinilai sebagai bentuk rasa syukur atas hasil bumi yang telah di dapat oleh warga. Selain itu njimbunan juga merupakan ajang silaturrahim antar warga dalam rangka merawat nilai toleransi. Mengapa demikian? Pasalnya, tradisi Njimbungan ini berbeda dengan kendurian yang selama ini dilakukan, karena doa bersama tidak hanya dipimpin satu tokoh agama, melainkan dua tokoh agama berbeda yaitu Islam dan Kristen. Meskipun tampak ricuh saat prosesi pembagian ini, sebenarnya ritual ini tetap berlangsung dengan aman. Tradisi ini peninggalan Keraton Surakarta yang digelar enam hari setelah Lebaran.

Lomban Kupatan Jepara, Pati, Rembang dan Demak

Jika biasanya ketupat menjadi sajian ketika lebaran, beda halnya dengan daerah Pati, Jepara dan sekitarnya. Warga baru akan membuat ketupat sepekan setelah lebaran. Warga seringkali menyebutnya dengan nama “Bodo Kupat”. Bodo artinya lebaran, sedangkan kupat adalah ketupat. Sehingga juka di artikan secara keseluruhan adalah Lebaran Ketupat.

Tradisi ini telah berlangsung sejak dahulu dulu kala. Tradisi Bodo Kupat ini biasanya diawali dengan kegiatan kenduri dipagi hari. Kenduri tersebut dilaksanakan di masjid-masjid, musholla atau surau-surau kecil dengan doa bersama sebagai ucap rasa syukur kepada Allah SWT.

Setelah itu, warga biasanya berangkat ke suatu tempat misal pantai untuk sekedar refreshing dan menghabiskan waktu bersama keluarga. Warga menyebut kegiatan ini dengan istilah lomban. Tradisi ini juga biasanya di isi dengan acara larung sesaji ke laut oleh para nelayan sebagai bentuk rasa terimakasih atas hasil laut yang telah menghidupi mereka.

Arak-arakan hewan ternak Boyolali

Syawalan di Boyolali dilakukan dengan menyelenggarakan kenduri di masjid-masjid terdekat dengan membawa ketupat. Ketupat-ketupat itu kemudian dibawa kembali ke rumah. Mereka kemudian bersilahturahim ke rumah-rumah tetangga. Warga mengeluarkan sapi atau kambing milik mereka ke jalan.Beberapa di antaranya dikalungi ketupat dan diberi makan ketupat. Menurut warga setempat hal tersebut dilakukan sebagai bentuk rasa syukur karena sapi di Boyolali sudah berjasa banyak dalam kehidupan.  Tradisi tersebut biasanya dilaksanakan pada hari ketujuh lebaran.

Grebek Syawal Solo

Grebeg Syawal Solo ini diselenggarakan sebagai puncak perayaan Idul Fitri. Tradisi bulan Syawal di Indonesia hadir karena jadi wujud rasa syukur atas rezeki dari Allah SWT serta kebahagiaan umat Muslim setelah menjalani ibadah puasa selama sebulan penuh di Ramadan. Pada acara tersebut, ratusan abdi dalem Keraton Kasunan Surakarta akan membawa dua gunungan menuju Masjid Agung Surakarta. Gunungan tersebut nantinya akan didoakan para sesepuh kraton untuk kemudian diperebutkan para warga. Grebeg Syawal di Solo diadakan pada hari kedua setelah Idul Fitri.

Pemotongan lopis atau lontong ketan raksasa Pekalongan

Ketan sebagai bahan dasar lopis memiliki makna persatuan (kraket atau erat), karena beras ketan yang sudah direbus memiliki daya rekat yang kuat dibanding nasi. Hal tersebut memberi makna bahwa sebagai sesama muslim harus memiliki rasa saling peduli dan saling mengingatkan satu sama lain. Sedangkan beras ketan yang putih, bersih memiliki makna kesucian (kembali fitri) dalam nuansa lebaran.

Bungkus lopis diambilkan dari daun pisang, yang memiliki arti perlambang Islam dan kemakmuran. Bahwa Islam selalu menumbuhkan kebaikan dan menjaga karunia Tuhan. Selain itu ikatan atau tali pembungkus menggunakan serat pelepah pisang, melambangkan kekuatan. Sesuatu yang sudah dicapai (kembali fitri) harus dijaga agar tidak luntur ataupun berkurang. Akan lebih baik jika semakin bertambah atau ditingkatkan. Pengikat ini juga bisa berarti sebagai pengikat kita untuk menjalin silaturahmi antar muslim. (NA)

Tags :