Yey! Modal Sepuluh Ribu Rupiah Bisa Naik Perahu Keliling Pantai Marina
Naik perahu di kawasan Pantai Marina. (Inibaru.id/ Isma Swastiningrum)

Yey! Modal Sepuluh Ribu Rupiah Bisa Naik Perahu Keliling Pantai Marina

Naik perahu nggak harus mahal, Millens. Di Pantai Marina terdapat jasa wisata perahu bertarif murah meriah. Tertarik mencoba?

Inibaru.id - Bagi orang yang terbiasa hidup di daratan seperti saya, naik perahu bisa dikatakan sangat jarang. Kesempatan ini hanya terjadi tatkala saya berkunjung ke wisata laut atau menyeberang ke perairan-perairan tertentu. Seingat saya terakhir naik perahu empat tahun yang lalu saat berkunjung ke Kalimantan Tengah.

Pada hari liburan Sabtu (9/11), saya berkesempatan naik perahu lagi. Kali ini bukan untuk berlayar ke tempat jauh dengan biaya ratusan ribu, tapi ini murni untuk me time bersama laut dengan biaya yang murah meriah. Pengalaman ini saya dapatkan di Pantai Marina yang terletak di pesisir utara Semarang.

Salah satu perahu tertambat di tepi Pantai Marina. (Inibaru.id/ Isma Swastiningrum)

Ketika memasuki Pantai Marina saat weekend, wisatawan dalam dan luar kota akan tumplek menikmati hawa laut yang segar. Banyak kegiatan yang bisa dilakukan di pantai ini, dari memancing, ikut tur dengan kereta sambung khas pantai, menikmati berbagai macam makanan dan minuman menggoda, hingga wisata naik perahu. Memilih naik perahu menjadi pilihan utama saya.

Perahu yang saya naiki terdiri dari tiga warna dominan: biru, merah, dan putih. Panjang perahu sekitar sepuluh meter dengan kapasitas sekitar 80 lebih penumpang. Saat itu saya naik bersama rombongan wisata ibu-ibu dari sebuah perkumpulan tertentu berpakaian hijau yang saya lupa menanyakan nama organisasinya.

Perahu penumpang yang saya tumpangi. (Inibaru.id/ Isma Swastiningrum)

Setelah menunggu sekitar 15 menit (ngetem) sambil menunggu perahu penuh penumpang, akhirnya perahu itu pun dijalankan. Saya memilih duduk di bagian pinggir agar bisa langsung merasakan percikan air laut. Perlahan tapi pasti perahu berjalan, rasanya bergelayut, segar, dan beban-beban hidup terasa hilang.

Dari atas perahu saya menyaksikan ikan-ikan seukuran jempol pipih warna perak meloncat-loncat seperti lumba-lumba. Juga riak-riak debur gelombang yang saling berkejaran. Saat perahu berlawanan dengan gelombang, perahu bergoyang dengan asyik daripada ketika perahu mengikuti arus gelombang yang terkesan datar.

Saat berkeliling, terlihat branjang nelayan di tengah laut untuk menangkap ikan dan udang. Terlihat pula wilayah laut yang coba diurug untuk dijadikan daratan dengan pembatas berupa bambu-bambu. Terlihat pula Pantai Baruna, Pantai Cipta, dan Gedung Marina Convention Center di sekitarnya. Suara debur ombak semakin menambah seru, suaranya yang khas langsung membuat saya tenang.

Naik perahu semakin asyik jika dengan keluarga atau rombongan. (Inibaru.id/ Isma Swastiningrum)

Di tengah perjalanan, seorang laki-laki mencolek bahu saya yang sedang menikmati pemandangan laut, ternyata dia bertugas nariki uang naik perahu. Rp 10 ribu saja. Meski murah, perahu ini lumayan safe karena tersedia perlengkapan pelampung dan ban untuk mengantisipasi jika terjadi hal yang nggak diinginkan.

Setelah 20 menit berlalu, akhirnya perahu kembali lagi di titik awal alias di dermaga. Salah seorang pria paruh baya yang duduk di belakang saya berseloroh pada temannya ketika turun, “durung ning Marina lek durung numpak prau (belum ke Marnina kalau belum naik perahu).” Aih, rasa-rasanya saya sepakat! (Isma Swastiningrum/E05)