Wonodri, Daerah di Semarang Selatan yang Jadi Persinggahan Sunan Kalijaga

Wonodri, Daerah di Semarang Selatan yang Jadi Persinggahan Sunan Kalijaga
Sendang Wonodri. (Inibaru.id/ Audrian F)

Wonodri memang nggak sepopuler wilayah lain di Kota Semarang yang bersejarah. Namun jika dibandingkan, daerah ini tentu nggak kalah.

Inibaru.id - Daerah ini mungkin nggak seterkenal wilayah di Semarang lainnya yang sarat akan sejarah seperti Pecinan, Bustaman, Pekojan atau Kota Lama. Namun jika napak tilasnya dibandingkan dengan wilayah-wilayah tersebut, tentu nggak kalah.

Daerah ini adalah Wonodri. Sebuah kelurahan yang terletak di Semarang Selatan, dekat juga dengan Pleburan. Kalau masih kurang jelas, mungkin tepatnya di sekitar Rumah Sakit Roemani berdiri.

Saat mengikuti jelajah Bersukaria Walk, saya mendapat banyak pencerahan betapa Wonodri punya banyak kisah yang menyangkut tentang Semarang. Menurut storyteller Bersukaria yakni Fauzan Kautsar, usia Wonodri sudah cukup tua.

“Dalam peta Belanda, nama Wonodri sudah terpampang jelas,” ujarnya sambil menunjukkan gambaran peta.

Fauzan Kautsar pemandu Bersukaria Walk. (Inibaru.id/ Audrian F)<br>
Fauzan Kautsar pemandu Bersukaria Walk. (Inibaru.id/ Audrian F)

Karena usianya yang tua itu, di Wonodri terdapat makam dan situs peninggalan lama. Yang pertama tentu adalah makam sesepuh Wonodri, yakni Mbah Rukminah dan Rukmini.

Keduanya merupakan adik tiri Ki Ageng Pandanaran, pendiri Kota Semarang.

“Makamnya masuk ke pemukiman Jalan Singosari 14/16,” kata Fauzan. Namun saya nggak ke makamnya karena pemandu sekaligus pemilik Bersukaria tersebut nggak mengarahkan rute perjalanan ke sana.

Di dekat makam kedua sesepuh tersebut terdapat  sumur tua yang dikenal keramat. Konon di sumur tersebut, dua sesepuh itu menyimpan benda pusaka titipan Kyai Ageng Pandanaran.

Berbicara Kyai Ageng Pandanaran, ada sebuah sendang yang juga berhubungan dengannya, yakni Sendang Wonodri. Lokasinya ada di belakang Rumah Sakit Roemani.

Sendang Wonodri pernah jadi tempat Presiden Soeharto bertapa saat menjadi Pangdam IV/Diponegoro. (Inibaru.id/ Audrian F)<br>
Sendang Wonodri pernah jadi tempat Presiden Soeharto bertapa saat menjadi Pangdam IV/Diponegoro. (Inibaru.id/ Audrian F)

Di sendang ini selain menjadi tempat bertapa, juga sempat menjadi lokasi singgah Sunan Kalijaga saat sedang mencari soko guru untuk Masjid Agung Demak. Sunan Kalijaga menggunakan air sendang ini untuk berwudu.

“Pak Harto, Presiden kedua Indonesia, juga sering bertapa di sini. Waktu itu dia masih menjadi Pangdam IV/ Diponegoro,”  jelasnya.

Sebelum pandemi, biasanya di sendang ini rutin diadakan kirab untuk perawatan dan mengucap syukur. Namanya, Festival Bubur Semarangan. Warga bakal mengadakan tari-tarian dan mengarak berbagai jenis bubur dan tumpeng.

Makam Thio Sing Liong. (Inibaru.id/ Audrian F)<br>
Makam Thio Sing Liong. (Inibaru.id/ Audrian F)

Bekas Pemakaman Tionghoa

Wonodri ini dulunya juga menjadi tempat makam Tionghoa. Namun sekarang sudah berubah menjadi permukiman padat.

Namun jejak bekas makam Tionghoa itu tentu masih ada. Yakni adanya makam keluarga Tionghoa yang cukup superior semasa hidup, Thio Sing Liong.

Jujur saya cukup terkejut ketika masuk. Pasalnya ada dua patung yang dibuat seperti orang duduk di tempat tidur. Saya kira orang betulan.

Kata Fauzan, Thio Sing Liong merupakan taipan kaya raya pemilik usaha properti. Kekayaan Thio Siang Liong diturunkan kepada anaknya, Thio Thiam Tjong. Untuk menunjukkan baktinya, Thio Thiam Tjong membangun mausoleum ini untuk orang tuanya.

Meski Thio Thiam Tjong yang membangun istana makam ini, dia justru dimakamkan di Belanda, tempatnya menetap. Namun karena orang Tionghoa punya kebiasaan mengumpulkan makam keluarga dalam satu tempat, nisan Thio Thiam Tjong turut diletakkan di sini.

Yang bikin salut, mausoleum yang merupakan cagar budaya ini terawat dengan baik. 

“PBB makam ini masih diurus setara dengan rumah. Maka dari itu awet sampai sekarang,” pungkasnya.

Selain Sendang dan mausoleum crazy rich Semarang, apa lagi kira-kira yang ada di Wonodri? (Audrian F/E05)