Unik! Masjid ini "Dibelah" bagi Umat Islam dan Kristen

Unik! Masjid ini
Interior masjid-katedral di Cordoba, Spanyol (Flickr/John Solaro)

Mengunjungi Spanyol rasanya nggak lengkap tanpa melancong dulu ke Masjid Agung Cordoba. Masjid ini menjadi saksi sejarah dua agama besar, Islam dan Kristen. Gimana kisahnya ya?

Inibaru.id – Spanyol menjadi salah satu negara dengan sejarah Islam yang sangat kaya. Salah satu kota yang sangat kental dengan sejarah Islam adalah Cordoba. Di kota yang ada di Provinsi Andalusia ini, terdapat Masjid Agung Cordoba atau Masjid-Katedral Cordoba (Mosque-Cathedral of Cordoba). Eits, tunggu dulu, kok nama masjid dan katedral bisa ditulis bersamaan untuk sebuah tempat?

Tenyata, bangunan ini menjadi saksi sejarah dua agama besar, yakni Islam dan Kristen. Bangunan ini bahkan kini menjadi warisan budaya UNESCO yang dilindungi.

Menurut UNESCO, awalnya Masjid-Katedral Cordoba adalah kuil Romawi. Setelah itu, bangunan ini dialihfungsikan menjadi Gereja Kristen Visigoth. Gereja dengan arsitektur Renaisans ini didirikan tepat di lahan yang dulunya merupakan masjid paling penting dalam kerajaan Islam di Spanyol.

Saat orang Moor merebut Andalusia dari orang-orang Kristen pada 711, struktur bangunan dibagi ke dua bagian. Satu bagian untuk umat Islam dan lainnya untuk umat Kristen. Keputusan ini diambil sebagai wujud toleransi antar umat beragama pada zaman perang.

Bagian masjid yang digunakan sebagai katedral (Flickr/Fransisco Anzola)
Bagian masjid yang digunakan sebagai katedral (Flickr/Fransisco Anzola)

Sayangnya, pemerintahan pluralis ini nggak bertahan lama. Pada 784, Emir Abd al-Rahman memerintahkan gereja untuk dihancurkan dan diganti dengan masjid besar. Pembangunan konstruksi masjid ini memakan waktu lebih dari dua abad, lo!

Masjid baru selesai dibangun pada tahun 987 dengan penambahan bagian luar dan halaman. Masjid ini pun menjadi masjid terbesar kedua di dunia setelah Masjidil Haram di Mekah pada saat itu.

Fase terakhir pembangunan terjadi pada akhir abad ke-10 di bawah Kekhalifahan Omega, penguasa kerajaan Islam yang dianggap paling kuat saat itu. Sang pemimpin, Al-Mansur, berhasil menguasai wilayah Santiago de Compostela di utara Spanyol. Dia pun memerintahkan peleburan lonceng katedral dari kota tersebut. Hasil peleburan ini kemudian dijadikan lampu kota di Cordoba.

Saat orang-orang Kristen kembali menguasai Cordoba pada 1236, Raja Ferdinand III yang memerintah saat itu meminta lampu-lampu kota untuk diangkut ke Santiago de Compostela. Tujuannya agar dilebur kembali menjadi lonceng katedral.

Bangunan masjid-katedral di Cordoba (Flickr/

Jocelyn Erskine-Kellie)
Bangunan masjid-katedral di Cordoba (Flickr/ Jocelyn Erskine-Kellie)

Nggak berhenti di situ, raja-raja Kristen mengubah dan menambah struktur bangunan masjid. Hanya, bangunan masjid nggak pernah dihancurkan. Sebagai contoh, salah satu ruang masjid yang masih kokoh hingga saat ini adalah aula utama luas yang dihiasi 850 atap melengkung. Ruang ini sering dijadikan sasaran foto wisatawan.

Untuk sementara, Masjid-Katedral Cordoba ditutup sebagai dampak dari pandemi corona. Jika kondisi sudah pulih, bangunan itu akan dibuka kembali setiap hari dari pukul 10.00-19.00 waktu setempat. Tarif masuk per orang untuk memasukinya adalah 11 Euro atau sekitar Rp 182 ribu.

O ya, yang nggak boleh kelewatan, setiap setengah jam akan ada suara lonceng yang didentingkan dari pukul 09.00-18.30 waktu setempat. Lonceng ini dipukul 30 menit sekali.

Tertarik mengunjungi masjid yang sangat unik ini, Millens? (Cnn/MG26/E07)