Radio-Radio yang Sepakat Menolak Kalah; Kuncinya Adalah Adaptif!

Radio-Radio yang Sepakat Menolak Kalah; Kuncinya Adalah Adaptif!
Berbagai cara dilakukan agar radio tetap didengar. (Inibaru.id/ Audrian F)

Banyak radio gulung tikar di tengah gempuran pelbagai platform baru, tapi nggak sedikit yang menolak kalah. Upaya memikat pendengar terus digarap, mulai dari aktivasi media sosial hingga kolaborasi dengan banyak kalangan.

Inibaru.id - Radio bisa dikatakan adalah media konvensional yang perlahan dilupakan oleh banyak orang. Zaman yang semakin maju, yang juga diikuti oleh semakin variatifnya penyaji arus media informasi, dirasa bikin radio jadi kalah saing.

Namun, kenyataannya sejumlah radio menolak kalah, termasuk sejumlah radio di Kota Semarang. Mereka terus melebarkan sayap guna menjangkau pendengar. Kalau kata Jason Ranti sih, “Yang bagus memang kalau adaptif”. Ha-ha.

Nah, di antara "perusahaan cuap-cuap" yang mengalami transformasi itu adalah Radio Idola. Enggan terbenam dan kalah, radio yang bermarkas di daerah Pedurungan, Kota Semarang, itu mencoba atur strategi.

Radio Idola punya banyak cara. (Inibaru.id/ Audrian F)<br>
Radio Idola punya banyak cara. (Inibaru.id/ Audrian F)

Editor in Chief Radio Idola Heri CS mengungkapkan, beberapa langkah coba dilakukan perusahaanya demi bisa beradaptasi dengan kemajuan zaman. Salah satunya, sejak beberapa tahun lalu Radio Idola mengaktifkan berbagai platform media sosial, dari Instagram, Twitter, Facebook, hingga Youtube.

“Kami ada 3 koridor; secara on-air, off-air, dan online,” ujarnya saat ditemui di Grha Spirit, markas Radio Idola, Selasa (8/9/2020).

Untuk off air, Heri menjelaskan, setiap bulan minimal ada dua even, entah dalam bentuk talkshow atau promosi UMKM. Jenis-jenis acaranya, semisal Panggung Civil Society, yang membicarakan tema-tema yang sedang hangat terjadi.

Acara lain, ada juga Peer to Peer on Stage yang mengundang orang-orang hebat. Lalu, ada pula Idola Business Gathering untuk ajang silaturahmi dan promosi bisnis UMKM.

“Sayang, masa pandemi memaksa kami meniadakan segala macam kegiatan off air,” keluh lelaki murah senyum tersebut.

Salah satu acara Radio Idola ">
Salah satu acara Radio Idola "Peer to Peer On Stage" mengundang Tia Hendi (Kanan) dan Siti Atikoh (tengah). (Inibaru.id/ Audrian F)

Nggak mau seperti pikat kehilangan mata, Radio Idola pun mengubah acaranya menjadi live di Instagram. Kemudian, beberapa siaran yang menarik juga diarsipkan dalam bentuk siniar (podcast). Jadi, berkas media digital dalam bentuk audio itu bisa didengarkan kapan pun.

“Semua itu juga diselingi dengan kolaborasi bersama berbagai tokoh inspiratif dan komunitas,” terang Heri, berpromosi.

Setali tiga uang, Radio Republik Indonesia (RRI) juga terus mencoba menggeliat di tengah arus modernitas. Karno, Kasi Komunikasi Publik RRI Semarang mengungkapkan, salah satu usaha yang dilakukan radio pelat merah itu adalah dengan membuat aplikasi khusus. 

“Ada aplikasi Radio RRI Play Go,” ungkap Karno saat ditemui Inibaru.id di Kantor RRI Semarang di Jalan A Yani No 144-146, Kamis (9/9).

Karno mengungkapkan kalau RRI terus beradaptasi dengan zaman. (Inibaru.id/ Audrian F)<br>
Karno mengungkapkan kalau RRI terus beradaptasi dengan zaman. (Inibaru.id/ Audrian F)

Di dalam aplikasi tersebut, Karno menambahkan, terdapat banyak fitur, mulai dari musik hingga kumpulan artikel. Yang menarik, dalam aplikasi ini, kamu bisa mendengarkan siaran RRI dari pelbagai cabang di seluruh Indonesia.

Kemudian, di tengah pandemi Covid-19, RRI Semarang juga membuat program pembelajaran jarak jauh (PJJ) via siaran audio. Mereka menggandeng para guru, dari TK hingga SMA, untuk menyampaikan pelajaran secara on-air via RRI.

Nantinya, para siswa diminta mengikuti "kelas radio" itu dan mendengarkan apa yang disampaikan gurunya tersebut. Jadi, ini bisa menjadi alternatif PJJ bagi siswa yang kesulitan menggunakan aplikasi digital tertentu atau kesulitan mengakses internet. Hm, menarik ya!

RRI mencoba terus berada di udara. (Inibaru.id/ Audrian F)<br>
RRI mencoba terus berada di udara. (Inibaru.id/ Audrian F)

Sementara itu, Radio Pro Alma FM yang berada di bawah naungan Universitas Diponegoro Semarang menolak tenggelam dengan gencar memanfaatkan media sosial. Setiap siaran, para penyiar akan melontarkan pertanyaan melalui Instastory atau Whatsapp.

Penyiar Pro Alma Thriyani Rahmania mengungkapkan, dengan memberi "notifikasi" di medsos, mereka mencoba menarik orang-orang untuk memantau kanal radio kampus tersebut.

“Kalau nggak dipancing dari sosmed, para pendengar mungkin nggak bergegas untuk merapat,” ujar Thriyani, yang juga mengatakan tahun ini Pro Alma dituntut untuk bekerja lebih keras karena berencana berdiri sendiri sebagai radio swasta, bukan lagi di bawah naungan kampus.

Hm, beragam cara dilakukan radio untuk terus mengudara, termasuk dengan mengendapkannya ke ranah yang jauh berbeda. Tak ada yang salah, karena inti dari sebuah usaha adalah bertahan dan adaptif di segala zaman.

Selamat Hari Radio Nasional, ya, Millens! Meminjam jargon RRI; sekali di udara, semoga radio tetap mengudara dan memanjakan telinga kita semua! (Audrian F/E03)