Pantai Baruna dan Sampah yang Berserakan
Bekas kandang burung terdampar di tepi Pantai Baruna. (Inibaru.id/ Isma Swastiningrum)

Pantai Baruna dan Sampah yang Berserakan

Pantai Baruna terkenal dengan padang alang-alangnya. Selain itu juga sering dijadikan sebagai tempat memancing ikan dan tempat liburan akhir pekan. Sayangnya, masih banyak sampah berserakan.

Inibaru.id – Usai sarapan di dekat Pasar Sampangan Baru, saya memesan ojek online menuju Pantai Baruna. Ketika hampir sampai, ternyata map daring yang merujuk ke lokasi nggak benar-benar tepat. Saya dan pengemudi ojol harus bertanya pada orang sekitar hingga dua kali.

Akhirnya saya sampai juga di lokasi. Sampai pintu masuk, pantai masih belum terlihat. Hanya ada papan kecil dari kayu setinggi sekitar tiga meter bertuliskan Pantai Baruna. Di depan plang kecil itu terdapat pos jaga untuk membeli karcis seharga Rp 3.000.

Sampah tas bekas tergantung di pohon dekat batu pemecah ombak. (Inibaru.id/ Isma Swastiningrum)

Penjaga pos memberi arahan menuju pantai. Saya berjalan sejauh setengah kilometer sambil mengamati kehidupan masyarakat sekitar.

Saya mendapati banyak tambak ikan, beberapa rumah penduduk dari kayu, warung kopi yang diperuntukkan bagi nelayan, dan kandang peternakan kambing. Saya terus berjalan hingga akhirnya melihat laut dari kejauhan. Di jalan saya juga mendapati sampah-sampah tercecer dan mengumpul di bibir pantai dan di batu pemecah ombak. Wah, sayang ya, pikir saya.

Sampah-sampang baju terkumpul di bibir pantai. (Inibaru.id/ Isma Swastiningrum)

Sesampainya di pantai, beberapa orang sedang khusyuk memancing. Teriknya matahari seolah nggak mengganggu aktivitas mereka. Lautan yang luas terhampar di depan saya, dari sebelah kiri terlihat Pantai Marina dan sebelah kanan terlihat Pantai Cipta juga Pelabuhan Tanjung Mas. Udara segar khas pantai menerpa wajah.

Pasir di pantai ini berwarna hitam, saya mendapati lagi sampah-sampah berserakan. Dari baju-baju bekas, kurungan burung, ban bekas, batok kelapa, dan tentu saja plastik dengan semua variannya. Masih di areal pantai, saya menuju padang ilalang dan mendapati beraneka bungkus snack dan botol tercecer, ditinggal pemiliknya. Duh, kebangetan!

Sampah buah pohon kelapa terdampar. Inibaru.id/ Isma Swastiningrum)

Di sana, saya berjumpa Eka Noviani yang dan Vivki Yauli Agustiani. Mereka sengaja jauh-jauh datang dari Mranggen untuk mengunjungi pantai ini. Sayangnya, keindahan Pantai Baruna yang pengin mereka nikmati harus ternoda dengan tumpukan sampah yang mengganggu. “Pemandangan bagus, pantainya bagus, kalau bagian sana kotor banget,” kata Eka menunjuk areal sekitar batu pemecah ombak.

Ban bekas lunglai di atas pasir. (Inibaru.id/ Isma Swastiningrum)

Hal tersebut dibenarkan Vivki. “Pantainya sebenarnya bagus, cuman kotor kayak banyak sampah. Kalau bisa jaga kebersihan, masak habis minum dibiarin kayak gini kan kotor. Trus kalau bisa ngebersihin pantai atau gimana supaya lebih bagus,” katanya menunjuk bekas botol air mineral di salah satu sudut. Hm, memang sayang banget ya, Millens. (Isma Swastiningrum/E05)