Pandemi Corona, Nestapa bagi Penjual Kurma

Pandemi Corona, Nestapa bagi Penjual Kurma
Soerang anak sedang memilih kurma. (Inibaru.id/ Audrian F)

Pandemi corona menyerang berbagai sektor termasuk juga penjual kurma. Karena corona, dagangan mereka mengalami kerugian.

Inibaru.id - Muhsin menepikan motornya di Jalan KH Agus Salim tepatnya di depan Pasar Johar Lama yang pembangunan gedungnya masih mandek. Dia menghampiri pedagang kurma. Kalau melihat waktu saat dia membeli, yakni pada pukul 15.00 sore, ada kemungkinan untuk berbuka puasa.

“Buat takjil di masjid saya,” ucapnya pada Selasa (28/4/2020). Sekaligus membenarkan dugaan tadi.

Menjelang atau saat bulan Ramadan, biasanya bermunculan para pedagang kurma. Terlebih di Kota Semarang yang kental akan tradisi keislamannya ini. Kurma barangkali sudah menjadi simbol momentum yang khas.

Namun pada 2020 ini, situasi jelas sekali berbeda. Pandemi corona melanda. Sudah banyak pihak yang terkena imbasnya termasuk para pedagang kurma.

Indra Bagus salah seorang penjual kurma di Pasar Johar Lama. (Inibaru.id/ Audrian F)<br>
Indra Bagus salah seorang penjual kurma di Pasar Johar Lama. (Inibaru.id/ Audrian F)

Sulatun (51) warga Meteseh, yang kurang lebih sudah hampir 20 tahun berjualan kurma di Pasar Johar Lama turut mengungkapkan setumpuk keluhannya. Ramadan tahun ini sungguh beda baginya. Penuh keprihatinan.

“Hasilnya turun drastis. Sepi,” ungkapnya.

Menurut Sulatun, tahun-tahun lalu dia bisa untung banyak dari penjualan kurma. Bisa dikatakan bisa mencapai angka Rp 5 juta bahkan bisa lebih. Kalau saat ini, mencapai angka Rp 1 juta saja mungkin sudah sangat baik.

Bahkan dengan adanya penurunan penjualan ini, Sulatun mengaku nggak banyak mengambil stok dagangan. Kalau dalam penyetokan dagangan dulu bisa berton-ton, kini dia mengaku hanya bisa beli eceran karena takut nggak sebanding.

“Saya masih punya banyak anak yang harus saya hidupi. Kalau kondisi seperti ini terus saya cuma bisa pasrah,” tuturnya.

Muhsin beli kurma buat takjil. (Inibaru.id/ Audrian F)<br>
Muhsin beli kurma buat takjil. (Inibaru.id/ Audrian F)

Biasanya di sepanjang jalan ini memang dipenuhi pedagang kurma. Terlebih tahun lalu, area tersebut dijadikan lokasi dugderan, para penonton ikut membeli kurma.

Namun tahun ini, terlihat hanya ada dua pedagang. Menurut Indra Bagus, yang juga berjualan kurma, banyak pedagang yang tersendat pembatasan sosial.

“Banyak yang dari luar kota juga soalnya,” pungkasnya.

Indra Bagus juga mengeluhkan keadaan saat ini. Selain karena adanya pembatasan sosial, pengurangan waktu berdagang membuat lapaknya jadi tutup lebih awal.

Sebab memang untuk saat ini Kota Semarang sedang menerapkan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PKM). Sesuai surat edaran Wali Kota Semarang, waktu berdagang Pedagang Kaki Lima (PKL) adalah pada pukul 14.00 sampai 20.00 WIB.

“Habis buka itu langsung sepi, sudah pada tutup,” tandasnya.

Memprihatinkan ya. Yuk, doakan biar keadaan jadi normal kembali. (Audrian F/E05)