Omah Boro Pecinan, Kos-Kosan Buruh dan Pedagang Asongan

Omah Boro Pecinan, Kos-Kosan Buruh dan Pedagang Asongan
Suasana Omah Boro di Siang Hari. (Inibaru.id/ Zulfa Anisah)

Seadanya, itu yang saya dapati saat masuk ke Omah Boro. Penghuninya rata-rata merupakan kuli, pedagang asongan atau pembantu. Tarif yang dipatok untuk tinggal di sana pun tak banyak.

Inibaru.id - Siang itu matahari lebih terik dari biasanya saat saya menyusuri kawasan Pecinan Semarang membuat saya menepikan kendaraan di depan bangunan yang tampak teduh. Bangunan tersebut tampak seperti bangunan tua di Pecinan pada umumnya. Namun jika bangungan yang lain punya cat mentereng, hal tersebut nggak saya temukan di sini. Orang-orang menyebut bangunan ini sebagai Omah Boro.

Omah Boro berarti rumah untuk para perantau. Tampaknya saya masuk dari bagian belakang bangunan yang punya aksen ukiran dan jendela kayu yang tampak usang terkikis usia ini. Beberapa barang seperti kaca-kaca berukuran besar juga bersandar pada dinding yang mulai kusam.

Suasana sang itu nggak terlalu ramai, menurut salah satu penghuninya, Sutarmi, para pekerja yang menghuni Omah Boro belum banyak yang pulang kerja. Terlihat nggak terlalu jelas dari luar, saya pun menyusuri rumah tua yang satu ini. Pengap! Nggak ada ventilasi selain pintu belakang dan depan yang terbuka lebar.

Di ruangan utama, terdapat 2 balai kayu superpanjang yang punya ruang di bagian tengah untuk tempat melintas para penghuni. Di balik sekat ruang utama juga ada balai dengan fungsi sama.

Lembab, terdapat beberapa pakaian menggantung di hanger dikaitkan pada utas tali yang dibuat seadanya. Nampak pula beberapa dagangan yang sengaja diletakkan di atas amben (balai-balai) sementara empunya sedang leyeh-leyeh di balai lain. Hingga saya menemui Rahmat yang sudah 5 tahun tinggal di sana.

Rahmat nggak punya pilihan lain selain tinggal di sana. Dirinya yang cuma pedagang pisau keliling mengaku memilih Omah Boro karena tarifnya yang murah.

“Di sini soalnya murah, harian Rp 3000, per bulan Rp 90 ribu,” tutur lelaki 35 tahun asal Klaten ini.

Menolong Perantau

Keplek, semacam kartu
Keplek, semacam kartu "spp" Omah Boro. (Inibaru.id/ Zulfa Anisah)

Murahnya biaya sewa yang dihitung harian ini dibarengi dengan fasilitas seadanya. Meskipun listrik dan air bisa dipakai bebas, untuk beristirahat para penghuninya bakal menggunakan balai panjang yang disediakan secara bersama-sama. Hingga muncul istilah “turu bareng kaya pindang” yang berarti tidur bersama dengan banyak orang hingga seperti ikan pindang.

Meski begitu, Omah Boro yang kabarnya merupakan bekas kandang kuda zaman kuno ini nampaknya jadi pilihan bagi pekerja yang merantau dari jauh. Selain murah, kebutuhan dasar seperti tempat tinggal dengan fasilitas dasar sudah bisa didapatkan. Alasan di balik murahnya biaya sewa ini diungkapkan oleh salah satu petugas Omah Boro, Taryono.

Yono, begitu dia biasa dipanggil, mengatakan bahwa adanya Omah Boro ini bertujuan untuk membantu para perantau yang datang dari jauh. Perantau yang tinggal di sini pun cuma bekerja sebagai pedagang asongan, kuli, atau pembantu.

“Intinya (Omah Boro) ini untuk membantu orang boro atau merantau yang berdagang,” tuturnya.

Menurutnya, dengan tarif Rp 3000 per hari yang dikenakan ke setiap orang, nggak akan ada sisa jika digunakan untuk membayar tagihan listrik, air, dan layanan kebersihan yang didapatkan oleh penghuninya.

“Paling untuk bayar kebersihan, PBB, listrik, dan air ya bak bok nggak ada keuntungan, yang penting bantu orang,” tutup lelaki yang bertugas membantu berbagai keperluan Omah Boro ini selama 12 tahun ini.

Setiap hari, rumah tersebut ramai oleh ratusan perantau. Kini saat corona menjadi pandemi, penghuninya cuma sekitar 80 orang. Meski sekejap dan nggak banyak yang saya temui, berkunjung ke Omah Boro membuat saya menemukan sisi lain dari gemerlapnya Kota Semarang. (Zulfa Anisah/E05)