Nelangsa Masjid selama Corona: Jemaah Sepi, Kas Berkurang

Nelangsa Masjid selama Corona: Jemaah Sepi, Kas Berkurang
Corona membuat banyak masjid jadi sepi, jemaah lebih cenderung beribadah mandiri. (Inibaru.id/ Isma Swastiningrum)

Wabah corona memberikan dampak yang signifikan pada semua bidang, dari pendidikan hingga keagamaan. Di masjid, dampak yang paling terlihat yakni masjid menjadi sepi, nggak ada lagi pengajian, hingga penurunan jumlah kas.

Inibaru.id – Pengurus Takmir Masjid Agung Semarang Choiri mengatakan, dampak wabah corona bagi masjid sangat terasa sekali. Dari kegiatan solat yang mandiri, hingga wiridan, pengajian, dan aneka macam kegiatan yang tiba-tiba nggak diadakan. Selain itu, memberi pengaruh yang signifikan pula pada kas masjid.

“Kalau masjid kecil ada pemasukan infak dan segala macam, mungkin nggak begitu pengaruh karena mereka pengeluarannya juga nggak begitu banyak. Tapi kalau Masjid Agung, Masjid Besar Masjid Baiturrahman, banyak tanggungan. Karyawanlah kalau bahasanya atau apa,” katanya, Minggu (5/4).

Meski begitu, banyak pelajaran yang bisa didapat dari wabah. Semisal jadi lebih memperhatikan ulang pemasukan masjid dengan mengembangkan unit-unit usaha. Jadi punya semangat untuk bekerja lebih keras lagi. Apalagi Masjid Agung Semarang juga tengah membutuhkan dana hingga 50 miliar untuk membangun gedung delapan lantai.

Spanduk Masjid Agung Semarang yang meminta jemaah untuk beribadah di rumah masing-masing. (Inibaru.id/ Isma Swastiningrum)
Spanduk Masjid Agung Semarang yang meminta jemaah untuk beribadah di rumah masing-masing. (Inibaru.id/ Isma Swastiningrum)

Dampak signifikan dialami pula oleh Majid Istiqomah Semarang yang berada di area Stasiun Tawang. Imam masjid Turmudi mengatakan, wabah corona membuat jemaah yang datang ke masjid jadi berkurang secara drastis. Sebelum corona saat hari weekend, jamaah di dalam masjid bisa penuh sampai serambi, tapi saat corona masih bisa dihitung jari.

“Saya nggak di sini 10 hari, termasuk di rumah kerja. Di sini nggak ada apa-apa,” ucap laki-laki yang sudah mengabdi selama 22 tahun di masjid binaan PT KAI tersebut.

Turunnya jumlah jemaah pun berimbas pada pemasukan yang didapat oleh masjid. Hal ini dijelaskan oleh takmir Masjid Istiqomah Abdullah. Uang yang didapatkan dari infak jemaah yang biasanya digunakan untuk membeli kebutuhan masjid, perawatan masjid, hingga memberi makan para takmir jadi sangat berkurang.

“Kita di sini maaf, sebelum ada corona kan sedikit banyak ada pemasukan sedikit dari hamba Allah. Kadang penitipan sini penuh. Sekarang selama ada corona nggak ada sama sekali. Ini kita makan di luar sana ngutang dulu. Nanti habis sebulan bisa bayar,” ujar Abdullah.

Sebab masjid masih di bawah pengelolaan pihak KAI Stasiun Tawang, pemeriksaan ketat lebih terjadi di area masuk stasiun dibandingkan di masjid. Seperti pemeriksaan suhu tubuh yang rata-rata suhunya 35-36 celcius, juga para anggota dari Satpol PP yang menggunakan APD partroli untuk operasi.

Kalau buat kamu, dampak apa yang bisa kamu rasakan dari wabah corona ini, Millens? (Isma Swastiningrum/E05)