Museum Ketenangan Jiwa, Jejak Korban Pertempuran Lima Hari Semarang

Museum Ketenangan Jiwa, Jejak Korban Pertempuran Lima Hari Semarang
Museum Ketenangan Jiwa berada di pinggir Pantai Baruna Semarang. (Inibaru.id/ Isma Swastiningrum)

Jika biasanya monumen berada di tengah bangunan perkotaan, monumen satu ini berada persis di pinggir pantai. Namanya Museum Ketenangan Jiwa yang terletak di sekitar bibir Pantai Baruna Semarang. Penasaran?

Inibaru.id – Siang itu angin di sekitar pantai bertiup segar saat matahari tengah terik-teriknya. Setelah berjalan sekitar 200 meter dari pintu masuk Pantai Baruna, saya sampai juga di Museum Ketenangan Jiwa. Museum ini sederhana, terdapat batu persegi panjang sebagai dasar dan batu hitam besar bertuliskan aksara Jepang.

Kurang lebih tulisan itu bertuliskan sejarah pendirian monumen yang diresmikan oleh Wali Kota Semarang Soetrisno Suharto pada 14 November 1998. Pendirian dalam rangka memperingati arwah korban insiden Pertempuran Lima Hari di Semarang usai Perang Dunia Kedua tahun 1945.

Areal pantai sekitar Museum Ketenangan Jiwa. (Inibaru.id/ Isma Swastiningrum)

Perwira dari Jepang bernama Masafumi Aoki menulis dalam batu monumen tersebut, dalam masa perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia, ratusan orang Jepang yang nggak berdosa diserang atau dipenjara. Mereka merindukan kampung halaman dan pemulangan kembali ke negeri asalnya. Meski ternyata kematian yang menjemput.

“Di dalam kamar penjara terdapat kata-kata tertulis di tembok dengan goresan darah yang mengalir dari raga mereka  ‘HIDUP KEMERDEKAAN INDONESIA’. Surat wasiat itu ditulis sebelum para korban menghembuskan nafas terakhir.” Tulis Aiko seperti keterangan dalam monumen tersebut.

FYI, Monumen Ketenangan Jiwa (Chinkon no Hi) menghadap utara Millens alias menghadap ke negara Jepang. Sebagai doa agar arwah para pahlawan Jepang tersebut dapat kembali dan berbaring dengan tenang di tanah air mereka.

“Dengan ini saya menyatakan bela sungkawa yang sedalam-dalamnya semoga pengorbanan yang mulia dapat menjadikan landasan bagi perdamaian di seluruh dunia dan peristiwa mengenaskan ini tidak terulang kembali. Saya mendoakan dengan tulus hati rantai persahabatan Jepang dan Indonesia agar lebih dipersatukan lagi,” lanjut Aiko.

Madun berfoto di depan Museum Ketenangan Jiwa. (Inibaru.id/ Isma Swastiningrum)

Menurut Madun, warga setempat, monumen tersebut sering didatangi orang-orang dari luar untuk beribadah. “Kepercayaan masing-masing orang berbeda, kadang Chino banyak yang ke sini. Kadang orang biasa, kadang ulama pakai sarung,” kata laki-laki yang bekerja sebagai nelayan tersebut.

Hal yang sama juga dijelaskan oleh Untung, laki-laki yang kesehariannya mencari kerang hijau di Pantai Baruna. "Itu zaman dulu, peninggalan dulu sudah ada. Sering dikunjungi orang yang sembahyang di situ banyak untuk nyekar," tuturnya.

Pas saya perhatikan, bentuk monumen itu memang lebih mirip nisan. Merenung sejenak, saya jadi lebih tahu sejarah Indonesia ini didirikan. Sungguh, perjuangan itu yang penuh darah dan kematian. (Isma Swastiningrum/E05)