Mereka yang Tinggal di Rumah Boro Mengajari Saya Bersyukur

Mereka yang Tinggal di Rumah Boro Mengajari Saya Bersyukur
Penampakan ruang depan Omah Boro. (Inibaru.id/ Zulfa Anisah)

Tinggal bersama dalam satu rumah, para perantau dari berbagai daerah ini mengaku punya berbagai pengalaman. Daripada pengalaman pahit, mereka mengaku lebih banyak hal baik yang patut disyukuri saat tinggal di sana. Bagaimana ceritanya?

Inibaru.id - Miris hati saya saat menyusuri ruangan demi ruangan yang ada di Omah Boro, rumah bagi para perantau yang ada di Kampung Sumeneban Semarang ini. Rumah kuno nan besar ini jadi tempat berteduh para pekerja kasar di sekitar Pasar Johar dan Pecinan Semarang. Kamu bisa mengartikan tempat berteduh literally sebagai tempat berteduh. Nggak ada barang mewah, atau fasilitas di luar dasar layaknya rumah tinggal.

Penghuni Omah Boro yang bisa mencapai puluhan hingga ratusan orang ini biasa tidur berjejer bak ikan pindang di atas balai-balai (amben) beralaskan karpet plastik murah yang bisa dibeli di Pasar Johar. Kamar mandi yang pengap dengan penerangan seadanya harus mereka pakai bergantian. Sebagai hiburan, ada beberapa televisi di beberapa titik yang dibawa oleh para penghuni.

Ya, setiap sudut Omah Boro seakan menggambarkan bahwa para pekerja yang tinggal dengan tarif Rp 3 ribu per malam sedang berjuang mati-matian buat keluarga di kampung halaman. Pada pagi sampai sore, ruangan besar itu kosong, tapi pada malam hari berubah ramai.

Pada bangunan dengan banyak amben tersebut, saya sempat ngobrol dengan beberapa penghuninya. Salah satunya adalah Tasliman. Dia kebagian tidur di loteng. Untuk mencapai loteng yang cukup tinggi tersebut, saya setengah merangkak ketika menaiki tangga tua yang nampak rapuh.

Nyaris Tanpa Duka

Beberapa penghuni Omah Boro yang nampak <i>enjoy </i>tinggal di sana. (Inibaru.id/ Zulfa Anisah)
Beberapa penghuni Omah Boro yang nampak enjoy tinggal di sana. (Inibaru.id/ Zulfa Anisah)

Siang itu Tasliman tampaknya baru saja datang dari kampung halamannya. Dia mengaku sudah beberapa waktu di kampung. Tapi karena tak ada pemasukan, dirinya yang biasa menjajakan rokok di sekitar Simpang Lima ini kembali ke Semarang.

Selama 11 tahun tinggal di Omah Boro, Tasliman berbagi susah senang yang dia alami. Menurutnya, tinggal bersama banyak orang bisa bikin suasana menjadi ramai. Apalagi pekerja di sini berasal dari berbagai daerah.

“Rame-rame banyak teman dari berbagai daerah,” tuturnya.

Selain Tasliman, ada pula Sutrisno yang tinggal di sana sejak 1996. Selama 24 tahun dirinyalah yang menjadi saksi naiknya tarif sewa Omah boro. Menurutnya, awal dia tinggal di sana tarifnya cuma Rp 300, kini penghuni harus membayar Rp 3000 per harinya. Sambil menunjukkan keplek –semacam kartu spp Omah Boro, dia tampak kerasan tinggal di sana.

“Senang di sini karena murah, ringan, ada kamar mandi, wc umum. Bisa mencuci sendiri juga,” ungkap lelaki yang menjadi buruh angkut ini.

Saking kerasannya, Sutrisno enggan sambat apa yang menjadi dukanya di tempat ini.

“Nggak ada dukanya. Kalau sudah lama ya  tinggal balik karena biaya pulang kampung juga murah,” kata lelaki asal Sragen ini.

Diakui Talisman, berada di perantauan dengan banyak orang asing bikin mereka harus terbiasa menolong satu sama lain. Dia mengaku bahwa yang menolongnya ketika susah adalah teman-temannya di Omah Boro tersebut.

“Kalau sakit cuma teman yang menolong,” jawabnya yang seketika bikin saya terenyuh.

Ya, selain mereka berdua, ada pula Sutarmi, Rahmat dan Agus yang nampak enjoy dengan segala keterbatasan di Omah Boro. Semakin saya gali, semakin saya malu pada diri sendiri. Ya, segala yang ada di Omah Boro mengajarkan saya arti bersyukur. (Zulfa Anisah/E05)