Menyusuri Penggalan-Penggalan Sejarah di Jalan Dokter Cipto Semarang

Menyusuri Penggalan-Penggalan Sejarah di Jalan Dokter Cipto Semarang
Salah satu rumah tua yang terletak di Jalan Dokter Cipto Semarang. (Inibaru.id/ Audrian F)

Selain Gedung Sobokartti, di Jalan Dokter Cipto Semarang ternyata memiliki sejumlah sisa bangunan bersejarah. Di antaranya ada yang menjadi saksi Pertempuran 5 Hari di Semarang dan tempat tinggal Sri Sultan Hamengkubuwono IX.

Inibaru.id - Beberapa waktu yang lalu saya berkunjung ke Gedung Sobokarti yang letaknya berada di Jalan Dokter Cipto Semarang, Kota Semarang. Dari Tjahyono Rahardjo, ketua Perkumpulan Sobokartti, saya diberitahu kalau di sekitar Gedung Sobokartti, atau di Jalan dr. Cipto sebetulnya juga ada tempat bersejarah lain. Salah satunya adalah Penjara Mlaten. Tempat ini menjadi saksi bisu Pertempuran 5 Hari yang juga pernah terjadi di Gedung Sobokartti.

Saat ini, penjara Mlaten digunakan sebagai Rumah Penyimpanan Benda Sitaan Negara (Rupbasan) Kelas I Semarang. Sebetulnya saya berniat masuk untuk memotret bagian dalamnya. Tapi sayang, niat itu batal karena untuk masuk saja perlu melewati proses birokrasi yang ribet.

Akhirnya saya menemui Fauzan Kautsar, pemilik Bersuka Ria Tour. Dia membeberkan berbagai info mengenai tempat bersejarah yang ada di Jalan dr. Cipto.

Penjara Mlaten saat ini digunakan sebagai Rumah Penyimpanan Benda Sitaan Negara (Rupbasan) Kelas I. (Inibaru.id/ Audrian F)

Pada zaman penjajahan Jepang, penjara Mlaten dijadikan sebagai kamp interniran untuk menawan orang-orang Belanda.

“Karena jadi tempat untuk menawan orang-orang Belanda, masyarakat Semarang saat itu hendak membalas dendam, namun dihalang-halangi Jepang dan sampai terjadi pertempuran,” jelas Fauzan.

Geser ke samping penjara Mlaten kamu bakal melihat barisan rumah yang disebut dengan “Rumah Deret”. Rumah-rumah di Jalan Dokter Cipto Semarang tersebut ada yang dihuni dan ada yang dijadikan kantin Rupbasan. Total ada 3 rumah, Millens.  Masing-masing masih terawat dengan baik. Tapi sayangnya, saya nggak tahu seperti apa bagian dalamnya karena ada penghuninya. He

Rumah Deret terletak persis di samping Penjara Mlaten. (Inibaru.id/ Audrian F)

Menurut Fauzan, rumah tersebut juga bagian dari Penjara Mlaten. Dulu bangunan yang pada saat ini menjadi Cagar Budaya tersebut seperti rumah dinas untuk para petugasnya. Yang menarik, rumah deret tersebut sempat dihuni oleh Sri Sultan Hamengkubuwono IX.

“Hamengkubuwono IX pernah tinggal di rumah deret. Dia kan sempat disekolahkan di Semarang selama 1 tahun dan saat itu dititipkan kepada salah seorang sipir gitu. Namun karena adanya ketidakcocokan akhirnya dia pindah ke Bandung,” pungkasnya.

Di depan Rumah Deret tersebut ada sebuah gereja. Nggak besar memang. Namun menyimpan sejarah yang besar bagi Kota Semarang.

Gereja Kristen Jawa Tengah Utara (GKJTU) dinilai sebagai gereja pertama bagi pribumi di Kota Semarang. (Inibaru.id/ Audrian F)

“Gereja tersebut terbentuk pada tahun 1848. Bagi orang-orang mungkin gereja pertama itu adalah Gereja Blenduk. Namun menurut saya, gereja pribumi pertama adalah Gereja Kristen Jawa Tengah Utara (GKJTU),” ujar Fauzan.

Kemudian ada satu lagi tempat yang nggak kalah bersejarah yakni Rumah Sakit Pantiwilasa. Selama ini rumah sakit tersebut memang ada 2, yang satu di Jalan Citarum. Nah, yang berada di Jalan Dokter Tjipto Semarang inilah yang pertama.

Awal terbentuknya umah sakit itu berupa klinik bersalin. Arti dari Panti Wilasa adalah “kasih sayang”. Didirikan tahun 1949 kemudian resmi menjadi rumah sakit pada 1974.

Rumah sakit Panti Wilasa awalnya adalah klinik bersalin. (Inibaru.id/ Audrian F)

Sementara Jalan dr. Cipto sendiri dulu bernama “Karrenweg”. Fauzan mengungkapkan kalau sebetulnya luas Jalan dr. Cipto nggak seperti saat ini.

“Kalau kita dari arah Bubaan, itu kan kelihatan ada rumah-rumah besar dan tua yang nggak punya halaman. Menurutku dulu jalannya nggak kayak gitu. Halamannya mungkin terpangkas dengan adanya pelebaran jalan,” tutup Fauzan.

Jadi begitulah penggalan-penggalan sejarah di Jalan Dokter Cipto Semarang. Kamu sudah tahu belum, Millens? (Audrian F/E05)