Menyelami Profesi Badut dan Menyepakati Jalan Hidup 

Menyelami Profesi Badut dan Menyepakati Jalan Hidup 
Om Badut, alias Joko Wahyono sedang berinteraksi dengan anak-anak. (Inibaru.id/ Audrian F)

Joko menganggap profesinya sebagai badut telah menjadi nasib. Lalu seperti apa keseharian laki-laki ini dalam menjalani pekerjaannya?

Inibaru.id - Saat masih kanak-kanak, saya takut pada badut. Pernah saya menangis setelah melihat badut pada acara ulang tahun seorang teman. Saya sendiri nggak yakin apa alasannya, mungkin karena mekapnya yang terlihat scary buat saya.

Ketakutan itu sudah tanggal seiring bertambahnya usia. Namun dari situ saya jadi tertarik mengetahui bagaimana badut bekerja. Kemudian saya berinisiatif mengikuti "Om Badut", sebutan untuk Joko Wahyono dari Badut Pelangi, saat sedang mengisi sebuah acara ulang tahun di Jalan Lodan Raya, Bandarharjo, Kota Semarang pada Jumat (28/2) sore.

Saya datang lebih lambat setengah jam dari Joko. Begitu saya sampai di lokasi, bapak tiga anak ini sedang merias wajahnya. Ruangan sempit, lalu-lalang pemilik rumah, dan hiruk-pikuk anak kecil yang penasaran dengannya sama sekali nggak mengganggu fokusnya memoles wajah.

Sebelum tampil, wajah harus dirias. (Inibaru.id/ Audrian F)<br>
Sebelum tampil, wajah harus dirias. (Inibaru.id/ Audrian F)

Tangannya cekatan menggambar muka sehingga benar-benar bikin pangling. Jelas saja, 15 tahun sudah dia menggeluti profesi sebagai badut. Saya rasa sambil merem pun dia bisa merias diri. He. Sesekali dia mengelap keringat lantaran ruangan terlalu panas. Inilah bagian yang paling nggak mengenakkan.

"Sudah biasa dengan kondisi seperti ini. Ruangan sempit dan panas, ruangan lebar, ada AC-nya. Semua pernah saya alami. Jadi badut harus siap dengan segala kondisi.," ujar Joko.

Wajah sudah terlihat meyakinkan. Nggak akan ada yang mengira seperti apa rupanya di balik polesan itu. Waktunya kostum dipakai. Ada beberapa bantalan yang sudah disiapkan. Joko mengambil satu dan memasangnya di perut dan pinggang. Anak-anak masih saja mengerubunginya. Karena cukup menggangu saya ikut menggiring mereka keluar. Dandanan ini harus cepat kelar agar pesta bisa dimulai.

Setelah urusan perut dan pinggang beres, Joko memakai rambut brekele warna-warni. Sekarang, dia siap menghibur anak-anak!

Joko Wahyono saat memakai busa agar membentuk perut dan pinggang palsu. (Inibaru.id/ Audrian F)<br>
Joko Wahyono saat memakai busa agar membentuk perut dan pinggang palsu. (Inibaru.id/ Audrian F)

Begitu dia keluar, suasana langsung heboh. Lagu-lagu diperdengarkan. Pada acara itu, Joko menampilkan berbagai hiburan seperti bernyanyi bersama, pemberian hadiah, hingga yang nggak boleh dilewatkan adalah sulap. Saya lumayan lega karena acara lancar dan nggak ada anak yang menangis melihatnya, nggak kayak saya yang cemen. He

Dalam menghibur, Joko memang sesekali menyajikan lagu-lagu yang sudah populer sekalipun itu lagu orang dewasa. Dia sempat mendapat kritik karena hal ini.

Bukannya nggak peduli dengan anak-anak, dia mengatakan anak sekarang banyak yang nggak kenal dengan lagu anak-anak. Dia khawatir mereka akan bosan berada di pesta.

"Sekarang anak-anak referensinya sudah berbeda. Nggak kayak dulu, ya tidak mungkin kalau saya joget-joget sambil menyanyikan lagu "Balonku Ada 5". Lagipula lagu anak-anak yang dipakai itu lagu-lagu anak lama. Bikinan Ibu Kasur. Yang nyanyi zamannya Trio Wek-wek. Ya nggak relevan," ujarnya, Selasa (3/3).

Om Badut alias Joko Wahyono. (Inibaru.id/ Audrian F)<br>
Om Badut alias Joko Wahyono. (Inibaru.id/ Audrian F)

Meski begitu, dia tetap memakai beberapa lagu anak yang cukup familiar. Selain itu biar acara sukses, Joko juga wajib membaca bagaimana kondisi sosial anak-anak. Sebab nggak semua anak memiliki referensi pengetahuan yang sama. Joko juga harus menyesuaikan.

"Anak-anak di kampung, perumahan atau beberapa ras memiliki pemikiraan yang berbeda," kata pria 42 tahun ini. Sebenarnya menjadi badut pesta bukan satu-satunya profesi Joko. Di luar itu dia menjual ikan panggang di Pasar Kranggan dari malam hingga pagi. Memang job untuk mengisi pesta nggak setiap hari datang.

Petualangannya sebagai badut bermula karena bertemu seseorang yang bernama Ida pada sebuah acara radio yakni, "Jumpa Monitor". Dia adalah pemilik sanggar badut Ida Salon. Dari Ida dia banyak belajar. Bahkan saat di penghujung usia, Ida memberi pesan khusus kepada Joko.

Om Badut menari di depan anak-anak. (Inibaru.id/ Audrian F)<br>
Om Badut menari di depan anak-anak. (Inibaru.id/ Audrian F)

"Mbak Ida pernah berbisik kepada saya, 'Yon, aku bayangin kamu jadi badut terus ada anak-anak yang tertawa-tawa lihat kamu. Kalau bukan kamu yang meneruskan ya, siapa lagi'," ungkap Joko.

Awalnya Joko nggak bermaksud jadi badut. Kala itu dia hanya mengambil beberapa baju badut milik Ida, namun karena sering dipanggil dan getok tular akhirnya banyak yang menggunakan jasanya.

"Ya, ini mungkin sudah jalannya. Selain itu saya juga ingin balas budi terhadap mbak Ida," tandasnya.

Sekali tampil dia mematok tarik Rp 400-500 ribu. Beda lagi kalau lokasinya di luar kota ya, Millens. Silakan cek akun Instagram atau Facebook Om Badut. (Audrian F/E05)