Menyambangi Serikat Dagang Kopi di Kota Lama, Gedung Perjuangan Sosok John Dijkstra

Menyambangi Serikat Dagang Kopi di Kota Lama, Gedung Perjuangan Sosok John Dijkstra
Interior dalam Serikat Dagang Kopi. (Inibaru.id/ Isma Swastiningrum)

Jika kamu ke Kota Lama dan pengin merasakan warung kopi yang benar-benar original dan autentik, cobalah datang ke Serikat Dagang Kopi. Berada nggak jauh dari Taman Srigunting, konsep bangunan, suasana, musik, hingga perpustakaan di tempat ini akan mengajakmu bernostalgia ke zaman dulu.

Inibaru.id – Kota Lama menyimpan banyak sejarah, bahkan untuk setiap tapak kaki yang kamu lalui. Di sana banyak berdiri bangunan-bangunan khas little netherland, dengan tembok tebal, jendela kupu-kupu, dan pilar-pilar kokoh. Salah satu bangunan yang buat saya menarik adalah Gedung John Dijkstra atau Gedung Srigunting 10. Penyebutan ini sesuai dengan lokasi gedung ini berdiri yaitu di Jalan Srigunting nomor 10 Semarang.

Saya datang ke bangunan tersebut sore itu setelah hujan deras. Gedung ini terdiri dari tiga lantai: lantai pertama kantor Lembaga Pendamping Usaha Buruh Tani & Nelayan (LPUBTN), lantai kedua markas Serikat Dagang Kopi, dan lantai ketiga saat ini masih dikosongkan penggunaannya. Saya bertemu dengan Anak Agung Gde Putra Dwipayana selaku owner Serikat Dagang Kopi. Dia bersama temannya Saka Apriliadi mendirikan tempat ngopi itu pada 2017 lalu.

Putra menjelaskan, Gedung Srigunting 10 dan LPUBTN merupakan organisasi milik Keuskupan Semarang. Sosok John Dijkstra dahulunya dikenal sebagai aktivis sosial, pastor yang peduli pada kaum miskin dan tersingkirkan. Dia rekan uskup pribumi pertama Indonesia, Soegijapranata. John Dijkstra dulu menggunakan gedung tersebut untuk membantu para buruh, petani, dan nelayan untuk memperjuangkan nasib mereka. 

Putra tengah meracik minuman pesanan pengunjung. (Inibaru.id/ Isma Swastiningrum)
Putra tengah meracik minuman pesanan pengunjung. (Inibaru.id/ Isma Swastiningrum)

“Kalau di bawah kantornya LPUBTN. Kalau lantai 2 tempat fund rising-nya LPUBTN, disewakan ke kami. Dulu di sini ada Romo John Dijkstra, dia salah satu tokoh pergerakan sosial, orang Belanda pernah singgah di sini, dan baru 2000-an beliau nggak ada, tapi meninggalkan spirit yang masih dikerjakan di bawah,” kata Putra.

Bangunan dan interior dari Serikat Dagang Kopi masih dipertahankan sebagaimana bentuk awal bangunan. Kesan homey sangat ditonjolkan dengan pemilihan kursi-kursi, meja, lukisan, hingga menu-menu yang disediakan. Pencahayaan ruang pun dibuat sedikit remang membuat seseorang yang masuk ke dalamnya seperti masuk pada atmosfer tempo doeloe.

“Kita menjaga atmosfer gedungnya, kalau tempat lain mereka punya konsep yang berbeda dan aku juga punya konsep beda. Di sini beberapa hiasan digantung semua, karena memang kita nggak boleh melukai tembok,” ucap Putra.

Yang nggak kalah istimewa adalah sarana perpustakaan yang disediakan. John Dijkstra memiliki beberapa lemari yang berisi koleksi buku beragam genre. Sayangnya, buku-buku ini nggak boleh untuk konsumsi umum. Kali terakhir diperiksa buku-buku tua itu banyak yang rusak. Eman banget ya?

Bagi kamu yang berniat datang kemari, Serikat Dagang Kopi buka dari pukul 2 siang hingga 12 malam ketika weekdays dan pukul 12 siang hingga 2 pagi saat weekend. Di sini ada enam pegawai yang siap melayani dan bisa kamu anggap seperti sahabat sendiri. Putra pengin antara pelanggan dan orang-orang yang ada di bar lebih dekat dan nggak ada sekat kelas.

Wah, menarik juga ya. Tertarik berkunjung, Millens? (Isma Swastiningrum/E05)