Menjelajahi Marba di Sudut Kota Lama, Gedung Klasik yang Instagenik
Gedung Marba selalu jadi tempat favorit buat mengabadikan diri bagi para pengunjung Kota Lama. (Inibaru.id/ Audrian F)

Menjelajahi Marba di Sudut Kota Lama, Gedung Klasik yang Instagenik

Memang nggak salah jika orang terpana dengan Marba. Dari luar bangunan berdinding setebal 20 cm ini mengundang decak kagum. Tapi seperti apa ya bagian dalamnya?

Inibaru.id - Gedung tua di dekat Taman Srigunting itu memang memikat. Bangunan ini kerap dijadikan latar atau objek foto. Jika kamu berdiri di depan gedung dan mendongak ke atas, kamu bakal menemukan kata; MARBA. Sekian tahun hanya menjadi penikmat dari luar, saya memutuskan masuk.

Gedung marba ini dibangun pada abad 19. Menurut Afif dari Bersukaria Walk saat saya temui, Kamis (28/11), “Marba” sebetulnya akronim dari “Marta Badjunet”, seorang saudagar kaya dari Yaman. Dulu sempat digunakan sebagai kantor usaha pelayaran Ekspedisi Muatan Kapal Laut (EMKL). Selain itu pernah menjadi satu-satunya toko modern yang bernama “De Zeikel”.

Taman Srigunting terlihat dari lantai 2 Gedung Marba. (Inibaru.id/ Audrian F)

“Salah satu bagian yang paling menarik dari Marba ini adalah batu-batanya yang depan itu dibuat dengan batu-bata yang sama dari Gereja Gedangan,” ucap Fauzan Kautsar. Sekadar info, Gereja Gedangan letaknya nggak jauh dari Kota Lama, tepatnya ada di Jalan Ronggowarsito.

Saat ini ternyata Gedung Marba dibagi dua bagian yaitu depan dan belakang. Bagian depan kini menjadi kantor pengacara, sementara yang belakang sempat menjadi gudang sang pemilik dari pabrik jamu “Air Mancur”.

Saat saya masuk di bagian depan, tempatnya nggak cukup luas. Ada beberapa ruangan yang disekat-sekat dengan triplek. Menuju lebih ke dalam tempatnya semakin gelap karena nggak ada penerangan sama sekali. Saya harus memakai senter dari ponsel untuk membantu penglihatan. Setelah terlihat ternyata isinya hanya ada motor-motor yang entah milik siapa, kemudian rongsokan berisi banyak botol bekas. Namun meskipun begitu, saya masih bisa melihat sisa kejayaan pada bagian atap.

Gedung Marba sedang direnovasi. (Inibaru.id/ Audrian F)

Saya kira dari ruangan depan tersebut bisa langsung tembus ke belakang, namun ternyata buntu. Jadi saya harus keluar dulu untuk memasuki ruang belakang.

Sampai di belakang ternyata masih direnovasi. Saya bertemu Trimanto, dia adalah pengawas perbaikan Marba. Kebetulan dia adalah adik dari sang pemilik yang bernama Tiki.

“Ini rencanya mau dibikin kafe,” ujar Trimanto.

Salah satu tangga di Gedung Marba yang telah hancur. (Inibaru.id/ Audrian F)

Saya mencoba menelusuri bagian dalam. Tempatnya sudah bersih. Nggak terlihat seperti lama mangkrak. Memang sedikit porak-poranda tapi saya rasa ini karena aktivitas perbaikan.

Di lantai dua bukan lantai beton yang saya temukan melainkan kayu jati. Ada beberapa bagian yang sudah hancur dan tampak lapuk. Was-was juga saat saya meniti lantai itu. Namun menurut Trimanto, kayu tersebut masih sangat kuat sehingga aman. Ah, lega.

Lantai 2 Gedung Marba masih utuh dengan bangunan lamanya. (Inibaru.id/ Audrian F)

Gaya bangunan neoklasik yang mengadopsi arsitektur tropis Hindia Belanda seperti yang tercatat di SitusBudaya.id memang benar adanya. Material bata, kayu, dan sedikit besi tuang juga masih berdiri kokoh menopang atap gedung Marba. Jendela dan kusennya pun masih tertata rapi.

Banyak sumber yang mengatakan kalau dinding gedung Marba memiliki ketebalan 20 cm. Hal itu langsung dibenarkan oleh Trimanto yang turut andil dalam perbaikan gedung ini.

“Ya, benar, tebalnya 20 cm. Tapi hanya bagian depannya saja. Untuk dinding yang lain ketebalannya masih umum,” jelasnya.

Hm, sulit rasanya membayangkan bangunan ini bakal menjadi kafe. Sepertinya memang menarik untuk ditunggu ya. (Audrian F/E05)