Mengenal Margo Redjo, Produk Kopi Tiga Generasi yang Jaya di Era 'Londo'

Mengenal Margo Redjo, Produk Kopi Tiga Generasi yang Jaya di Era 'Londo'
Widayat Basuki Dharmowiyono di Dharma Boutique Roastery di Jalan Wotgandul 12 Semarang. (Inibaru.id/ Audrian F)

Margo Redjo merupakan produk kopi yang berlokasi di Jalan Wotgandul 12 Semarang atau tepatnya di Dharma Boutique Roastery. Kopi ini pernah jaya di era kolonial Belanda dan membuat pendirinya jadi salah satu orang kaya di Jawa.

Inibaru.id - Di kawasan Pecinan Kota Semarang, ada sebuah pabrik kopi kuno bernama Margo Redjo. Alamat tepatnya berada di Jalan Wotgandol 12 Semarang. Sebutan asli pabrik ini, Koffie Branderij Margo Redjo. Hm, susah juga ya pelafalannya, Millens? He

Mungkin, nama Kopi Margo Redjo nggak terlalu akrab di telinga. Maklum, selama ini tempat ini lebih dikenal sebagai rumah kopi Dharma Boutique Roastery.

FYI, Margo Redjo merupakan produk kopi yang dikelola secara turun-temurun. Saat ini dikelola Widayat Basuki Dharmowiyono. Lelaki ini merupakan generasi ketiga Tan Tiong Ie, sang pendiri pabrik. Yap, tempat ini memang memiliki sejarah panjang. Pernah mengalami masa jaya pada era kolonial, Tan Tiong Ie bahkan masuk dalam daftar crazy rich di Jawa, seperti yang ditulis dalam buku Orang-Orang Tionghoa (1935).

“Kopi ini malah bukan didirikan di Semarang, tapi di Bandung. Kakek saya merantau dulu ke sana,” kata Widayat Basuki Dharmowiyono pada Senin (18/1).

Tan Tiong Ie dan istri. (Dok. Basuki)<br>
Tan Tiong Ie dan istri. (Dok. Basuki)

Bisnis ini bukan yang pertama dilakukan kakek Basuki ketika mengadu nasib ke Tanah Sunda. Sebelumnya, Tan Tiong Ie membuat roti dan berbisnis kayu. Nggak puas melakoni dua pekerjaan, jiwa bisnisnya kembali terpanggil. Dia pengin membuka peluang baru.

Baru pada 1916, Tan Tiong Lee membuka pabrik penyangraian kopi Eerste Bandoengsche Electrische Koffiebranderij Margo-Redjo. 

“ 'Margo' itu jalan. 'Redjo' itu kemakmuran. Maksudnya mungkin Jalan Kemakmuran,” terangnya pada siang yang gerimis itu.

Di Bandung, Tan Tiong Ie nggak bermukim lama. Nggak tega meninggalkan ibundanya di Semarang, akhirnya dia memilih pulang. Alat-alat produksi kopi juga ikut diangkut ke Kota Atlas. 

Saksi kejayaan Margo Redjo. (Inibaru.id/ Audrian F)<br>
Saksi kejayaan Margo Redjo. (Inibaru.id/ Audrian F)

Saya sering mendengar kisah orang-orang yang meraih kesuksesan karena memuliakan ibunya. Nggak jauh beda dengan Tan Tiong Ie yang kembali ke pangkuan ibundanya di Semarang. Benar saja,  kota ini menjadi jalan kemakmuran baginya. Produk kopi Margo Redjo laris manis. 

Tingginya permintaan membuatnya meningkatkan produksi. Saking banyaknya pesanan, dia harus menambah pegawai. Halaman belakang rumahnya pun sesak oleh aktivitas pabrik. 

Selain doa ibu, strategi jitu tentu menjadi koentji. Dalam disertasi Alexander Claver di Vrije Universiteit, Belanda yang berjudul "Dutch Commerce and Chinese Merchants in Java: Colonial Relationships in Trade and Finance, 1800-1942 (2014)", strategi marketing Margo Redjo memang jos. Adalah Tan Liang Hoo, anak dari Tiang Tiong Ie yang menjadi "motor penggerak" pabrik. 

Menurut Claver, Tan Liang Hoo punya ketertarikan besar pada produksi dan teknik pemasaran. Paman Basuki ini memiliki cakrawala luas dalam mengikuti informasi terkini. Dia juga memiliki ide cemerlang untuk memasarkan produk.

Tan Liang Hoo punya peran sebagai copy writer pada desain iklan, flyer, dan poster Margo Redjo. Promosinya pun cukup gencar, baik melalui pemasangan iklan di koran, ikut pameran atau memberi bonus.

Saat berjaya pada 1930-an, Margo Redjo punya beberapa produk dengan variasi harga. Yang paling murah, Tjap Grobak Idjo dan yang paling mahal, Tjap Margo Redjo. Di antara keduanya ada Tjap Pisau, Tjap Orang-Matjoel, Koffie Sentoso, Koffie Mirama, dan Koffie Sari Roso. Banyak juga ya?

Dulu, jenis kopi yang dipilih adalah arabica. Mereka membelinya dari Boja dan Temanggung. Kini, kopi yang mereka sangrai berasal dari berbagai daerah untuk menyesuaikan permintaan pasar. 

Kopi Margo Redjo pernah sampai diekspor. (Inibaru.id/ Audrian F)<br>
Kopi Margo Redjo pernah sampai diekspor. (Inibaru.id/ Audrian F)

Tan Tiong Ie tampaknya memang pandai menangkap peluang. Kala itu, produk kopi bisa dikatakan belum banyak kompetitor. Ditambah kelihaian putranya dalam pemasaran, keluarga ini makin berjaya. 

Produk kopi Margo Redjo kala itu didistribusikan ke berbagai daerah, termasuk wilayah terpencil. Selain itu, kopi ini juga diekspor ke negara tetangga, Singapura. Dalam setahun, ekspor Margo Redjo mencapai satu juta kilogram kopi. Hm, masuk akal kan kalau Tan Tiong Ie menjadi salah seorang pengusaha tajir di Jawa?

Sayangnya, nggak ada masa keemasan yang bertahan selamanya. Berbagai gejolak yang terjadi di Tanah Air ikut menggiring bisnis Tan Tiong Ie ke era keredupan. Meski begitu, Margo Redjo masih bertahan hingga kini. Sebagai generasi ketiga, Basuki enggan menutup bisnis yang telah dibangun pendahulunya dengan darah dan keringat ini.

“Ini adalah warisan. Saya punya ikatan untuk meneruskannya,” pungkas laki-laki yang bakal berulang tahun ke-75 ini.

Dari lelaki ini saya belajar bahwa menjaga warisan merupakan jalan hidup terbaik meski nggak selalu menguntungkan. Peninggalan inilah yang akan terus menghubungkan seseorang dengan "akarnya". Semoga Margo Redjo kembali berjaya ya, Millens. (Audrian F/E05)