Mengenal Lebih Dekat Tempat Ibadat Umat Tri Dharma di Vihara Gunung Kalong Ungaran

Mengenal Lebih Dekat Tempat Ibadat Umat Tri Dharma di Vihara Gunung Kalong Ungaran
Teras vihara. (Inibaru.id/ Dyana Ulfach)

Mengunjungi tempat ibadat umat agama lain adalah pengalaman menarik bagi saya. Nggak hanya pengalaman, saya juga mendapat banyak pengetahuan baru tentang berbagai hal dalam kepercayaan mereka.

Inibaru.id – Gerimis kala itu memaksa saya mempercepat laju kendaraan saya agar bisa segera sampai di tempat tujuan saya. Kali ini saya mengunjungi sebuah vihara yang berada di atas bukit yang lebih dikenal dengan gunung kalong. Nggak salah kalau Vihara Avalokitesvara Sri Kukus Redjo Gunung Kalong ini akhirnya lebih dikenal dengan Vihara Gunung Kalong.

Setelah saya menaiki tangga terakhir, sampailah saya di ruang tengah bagian depan yaitu tempat peribadatan utama vihara. Di sisi kiri terdapat tempat peribadatan utama. Di tempat inilah umat Tri Dharma bersembahyang menghadap Tuhan.

Altar ini berada di area terbuka dan menghadap ke timur. Di sampingnya terdapat lilin-lilin berukuran beragam dengan tinggi kurang lebih 1-2 meter.

Kesejukan di vihara ini barangkali bisa menambah kekhusukan dalam berdoa. (Inibaru.id/ Dyana Ulfach)
Kesejukan di vihara ini barangkali bisa menambah kekhusukan dalam berdoa. (Inibaru.id/ Dyana Ulfach)

Di depan altar utama, terdapat tempat peribadatan yang kedua. Di tempat ini, umat Tri Dharma berdoa kepada dewa-dewa dalam kepercayaan mereka.

Sebelum memasuki tempat peribadahan yang kedua, saya melihat sebuah lonceng cukup besar berwarna hitam di sebelah kiri pintu masuk. Sedangkan di sebelah kanan pintu masuk terdapat sebuah tambung (bedug) berukuran panjang 1 m dan lebar 0,5 m, berwarna hitam berlukiskan ular naga.

Oya, masih di area depan tempat peribadatan yang kedua, di sebelah kiri terdapat pagoda kecil. Di samping kanan pagoda terdapat patung macan putih.

Bentuk akulturasi budaya China dan Jawa terlihat dari pintu masuk ruang peribadatan. (Inibaru.id/ Dyana Ulfach)
Bentuk akulturasi budaya China dan Jawa terlihat dari pintu masuk ruang peribadatan. (Inibaru.id/ Dyana Ulfach)

Saya sedikit terheran-heran karena di pintu masuk altar ini terdapat aksara Jawa yang bertuliskan “Mugi Sami Panggih Nugroho”. Menurut keterangan Suhu The Tjue Thwan, aksara ini merupakan suatu permohonan supaya siapa pun yang datang ke tempat ini bisa mendapat keanugerahan.

Yap, siapa pun boleh datang. Saya yang saat itu memakai atribut agama tertentu disambut dengan baik.

Dinding altar ini terbuat dari beberapa material, yaitu kayu, anyaman bambu, dan batu bata. Di samping pintu masuk juga terdapat ukiran kayu berbentuk naga hijau yang melambangkan keperkasaan.

Naga Hijau sebagai lambang keperkasaan untuk mengusir hawa yang kurang baik. (Inibaru.id/ Dyana Ulfach)
Naga Hijau sebagai lambang keperkasaan untuk mengusir hawa yang kurang baik. (Inibaru.id/ Dyana Ulfach)

Sebagai vihara yang menjadi tempat beribadat umat Tri Dharma, tempat ibadat yang kedua ini dibagi menjadi tiga bagian. Sisi kiri untuk umat Taoisme, sisi tengah untuk umat Budha, dan sisi kanan untuk umat Konghucu. Sebuah citra Bhineka Tunggal Ika yang hakiki ‘kan Millens?

Mau berdoa di sini atau sekadar menikmati pemandangan dan hawa sejuk dari ketinggian? Siap-siap menaiki 113 anak tangga ya! (Dyana Ulfach/E05)