Mengais Sisa-Sisa Kenangan Masa Kecil di Vihara Gunung Kalong

Mengais Sisa-Sisa Kenangan Masa Kecil di Vihara Gunung Kalong
Vihara Avalokitesvara Sri Kukus Redjo Gunung Kalong didirikan pada 12 Juli 1965 oleh Djojo Soeprapto. (Inibaru.id/ Dyana Ulfach)

Sebenarnya kunjungan saya ke vihara ini bukan kali pertama. Sekian belas tahun yang lalu, saya sempat menorehkan memori indah masa kecil saya di vihara ini. Hm, kira-kira ada yang berubah nggak ya?

Inibaru.id – Sore itu cukup cerah untuk menikmati kota kelahiran saya. Di sebuah dukuh bernama Gunung Kalong, tepatnya di Kelurahan Susukan, Kecamatan Ungaran Barat, Kabupaten Semarang, terdapat sebuah vihara yang cukup terkenal. Ini karena letaknya yang berada di atas bukit kecil bernama Gunung Kalong.

Nggak hanya itu, vihara ini juga memiliki patung Dewi Kwan Im setinggi 7 meter lo. Selain lokasi vihara yang berada di ketingian 472 mdpl, ukuran patung yang setinggi ini tentu membuatnya tampak jelas terlihat dari kejauhan. Seingat saya, dulu waktu saya kecil sih patung ini belum ada.

O ya,  Vihara Avalokitesvara Sri Kukus Redjo Gunung Kalong lebih terkenal dengan sebutan Vihara Gunung Kalong. (Inibaru.id/ Dyana Ulfach)
O ya,  Vihara Avalokitesvara Sri Kukus Redjo Gunung Kalong lebih terkenal dengan sebutan Vihara Gunung Kalong. (Inibaru.id/ Dyana Ulfach)

Hm, ini membuat saya penasaran tentang perubahan apa saja yang terjadi di vihara ini. Akhirnya saya memutuskan untuk sowan ke tempat ibadat penganut agama Budha, Konghucu, dan kepercayaan Taoisme ini.

Perjalanan saya mulai dari parkiran depan yang luasnya sekitar 4000 meter persegi menuju gerbang bagian depan vihara. Sebelum sampai di gerbang bagian depan vihara, saya harus menaiki 113 anak tangga yang dicat merah.

Ini sungguh perjalanan yang berat untuk orang seperti saya yang jarang berolahraga. Meskipun tangga dibuat berkelok-kelok dan terdapat pagar pembatas yang bisa dijadikan pegangan, saya tetap saja ngos-ngosan.

Anak tangga ini memiliki tiga cabang, yang pertama ke bagian gerbang depan vihara, sisi samping vihara, dan ke pemakaman umum. Jadi jangan sampai salah jalur ya, <i>Millens</i>! (Inibaru.id/ Dyana Ulfach)
Anak tangga ini memiliki tiga cabang, yang pertama ke bagian gerbang depan vihara, sisi samping vihara, dan ke pemakaman umum. Jadi jangan sampai salah jalur ya, Millens! (Inibaru.id/ Dyana Ulfach)

Sesampainya di gerbang bagian depan vihara, ternyata gerbang ini tertutup rapat dan digembok. Bayangkan, seberapa dongkolnya saya saat itu setelah tuntas menaklukan 113 anak tangga!

Tapi rasa penasaran saya lebih besar dari kekecewaan saya. Saya baru ingat kalau vihara ini juga memiliki pintu masuk dari belakang. Setelah beberapa saat beristirahat di gerbang depan yang berbentuk lingkaran ini, akhirnya saya memutuskan untuk turun gunung dan menuju ke parkiran belakang.

Setelah menaiki 63 anak tangga di bagian belakang, akhirnya saya sampai juga. Sependek yang saya ingat, ubin cokelat, kerangka atap yang berwarna merah, lampion, lilin merah raksasa, dan panggung hiburan yang berada di utara bangunan vihara masih tampak sama. Ini mengingatkan saya yang pernah berdesakan untuk menonton barongsai dan mendapat lilin merah gratis di tempat ini. He-he

Alunan musik (mungkin doa) dari ruang peribadatan dan aroma dupa bercampur melati yang menenangkan ini membuat saya deg-degan. Ini karena mengunjungi tempat ibadat agama lain membuat saya tertegun dengan skenario yang Tuhan tulis untuk saya. Saya merasakan kedamaian lain di tempat ini.

Tangga bagian belakang vihara yang nggak sepanjang tangga bagian depan. (Inibaru.id/ Dyana Ulfach)
Tangga bagian belakang vihara yang nggak sepanjang tangga bagian depan. (Inibaru.id/ Dyana Ulfach)

Meskipun sore itu cukup terik, angin kencang dan asupan oksigen dari dua pohon beringin berukuran besar menambah ketenangan saat berada di sini. Dari lantai teratas bagunan ini saya bisa melihat hutan pinus dengan jalan tol yang membelahnya. Juga atap-atap rumah warga sekitar yang kian padat merayap.

O ya, akhirnya saya bisa melihat patung Dewi Kwan Im dari dekat. Meskipun nggak bisa sembarang orang bisa masuk ke area tersebut, saya sudah cukup senang melihatnya dari dekat.

Puas bernostalgia di vihara ini, saya memutuskan untuk pulang. Saya turun bersama seorang ayah yang membawa anak laki-lakinya ke vihara untuk sekadar bercengkrama di area panggung dekat vihara.

Millens punya kenangan juga dengan tempat yang serupa? (Dyana Ulfach/E05)