Menelusuri Sejarah Kopi di Kerajaan Mangkunegaran

Menelusuri Sejarah Kopi di Kerajaan Mangkunegaran
Biji kopi. (Hallandwilcox)

Kopi rupanya menjadi salah satu bahan pangan yang membantu keuangan Kerajaan Mangkunegaran. Dari kerajaan ini pula, sistem pengelolaan modern kemudian lahir. Seperti apa sejarah minuman dengan aroma harum ini di kerajaan tersebut?

Inibaru.id – Kopi menjadi minuman favorit banyak orang. Minuman ini rupanya digemari pula pada masa Kerajaan Mangkunegaran. Di kerajaan ini, kopi sudah ditanam sejak 1814. Penanamannya dilakukan di wilayah Gondosini, Desa Conto, Kecamatan Bulukerto, Kabupaten Wonogiri.

Penanaman kopi dilakukan saat Pangeran Arya Gandakusuma menjabat sebagai patih. Pada 1842, Kerajaan Mangkunegaran memproduksi biji kopi sebanyak 1.208 kuintal. Pada 1857, jumlah ini meningkat drastis menjadi 11.1145 kuintal.

Perkebunan kopi kerajaan nggak lagi hanya berada di wilayah Bulukerto, Hanggabayan, Keduwang, dan Karangpandan. Penanamannya tersebar di wilayah Tawangmangu, Jumapolo, Jumapuro, Jatipuro, Ngadirojo, Sidoarjo, Jatisrono, Purwantoro, Girimarto, Eromoko, Nguntoronadi, Singosari, dan Ngawen.

Seiring meningkatnya produksi biji kopi, Mangkunegara IV kemudian membuat sistem manajemen pengolahannya. Di setiap wilayah tersebut, didirikan gudang penampungan yang dikelola seorang penilik atau inspektur. Pada 1867, masyarakat telah menerapkan tata cara pengolahan kopi secara modern.

Sayang, masa kejayaan kopi Kerajaan Mangkunegaran kemudian mulai surut pada 1878. Hingga 1900, keuangan kerajaan merugi lantaran terus mengalami gagal panen. Gagal panen ini disebabkan oleh merebaknya jamur Hemeleia vastarix atau karat daun.

Dengan berkembangnya ilmu pengetahuan, virus ini kini bisa diminimalisasi. Yuk, berharap semoga kopi Indonesia bisa terus berjaya di mata dunia! (IB15)