Mendengar Jeritan Hati Pedagang Oleh-Oleh di Pasar Wisata Bandungan

Mendengar Jeritan Hati Pedagang Oleh-Oleh di Pasar Wisata Bandungan
Suasana sepi di Pasar Wisata Bandungan. (Inibaru.id/ Zulfa Anisah)

Beberapa pedagang yang masih bertahan mengaku cuma dapat 15 ribu per hari. Nggak jarang pula dagangan mereka sama sekali nggak laku.

Inibaru.id - Tutupnya seluruh obyek wisata yang terdapat di Kecamatan Bandungan membawa dampak yang sangat kentara. Jalan raya yang sedianya dipadati kendaraan para pelancong setiap akhir pekan, kini terlihat lengang. Pasar wisata yang menyediakan berbagai oleh-oleh khas Bandungan juga mengalami kondisi serupa.

Meskipun kecil, pasar yang biasanya jadi rujukan wisatawan saat berkunjung ke kota dingin ini selalu ramai. Namun Sabtu (11/4), suasana sepi yang saya jumpai. Cuma ada suara pedagang yang saling bertegur sapa di balik lapak. Saya yang berjalan sendirian di lorong pasar pun menjadi sasaran para pedagang yang rata-rata menjajakan buah-buahan tersebut.

Saya bertemu Wartinah, Sri, dan Suraiyah. Lapak mereka berdampingan. Mereka kompak mengatakan pasar kini sepi. Wartinah bahkan mengaku manisan dagangannya nggak laku satu pun dalam waktu satu bulan.

Pada perayaan keagamaan dan akhir pekan sekalipun nggak kunjung ramai pembeli. “Sepi, kemarin kenaikan Isa Almasih nggak ada orang,” tambah Wartinah

Bisa Makan, Nggak Bisa Bayar Cicilan

Rata-rata dagangan di sini adalah sayur dan buah. (Inibaru.id/ Zulfa Anisah)
Rata-rata dagangan di sini adalah sayur dan buah. (Inibaru.id/ Zulfa Anisah)

Para pedagang ini mengaku nggak punya pilihan lain selain berjualan. Mereka mengaku nggak punya pekerjaan lain seperti bercocok tanam atau membuka warung di rumah.

“Kalau yang tetap di sini ya nggak punya kerjaan lain,” tutur Suraiyah sambil menata alpukat dagangannya. Kulit buah itu mengilap. Kilau yang jarang saya lihat kalau pas ke sini karena tertutup banyak orang yang hendak menawar atau sekadar melihat-lihat.

Pedagang yang semuanya perempuan ini kompak untuk terus berdagang karena ini merupakan sumber penghasilan utama. Mata saya terasa pedih menahan air mata ketika Sri bertekat untuk terus membuka lapak meski nggak laku.

“Karena kami tulang punggung keluarga,” tutur Sri.

Kondisi sepi ini bikin keuangan mereka superdevisit. Kekhawatiran mulai mereka rasakan seiring pendapatan yang mandek. Tapi, bukan sekadar urusan makan yang mereka masalahkan. Ada hal lain yang juga penting.

"Kalau mau makan masih cukup bisa utang tetangga, namun kan cicilan jalan terus dan harus kita bayar setelah pandemi ini,” pungkas Wartinah.

Meskipun kondisi ini bikin ekonomi keluarga terseok-seok, mereka tetap mensyukuri hasil jualan yang kadang nggak lebih dari Rp 15 ribu. Uang itu masih bisa digunakan untuk bertahan hidup. Mereka berharap agar pandemi ini segera berakhir beserta semua kepayahan yang mereka rasakan.

Buatmu yang masih bisa mengerjakan tugas dari rumah, jangan lupa bersyukur ya, Millens! (Zulfa Anisah/E05)