Melihat Lanskap Kota Semarang dari Atas Ketinggian Gua Maria Sartika

Melihat Lanskap Kota Semarang dari Atas Ketinggian Gua Maria Sartika
Dari Gua Maria Sartika bisa melihat Kota Semarang dari atas ketinggian. (Inibaru.id/ Isma Swastiningrum)

Gua Maria Sartika memberikan pemandangan yang berbeda jika dibandingkan dengan Gua Maria lain yang ada di Semarang. Di tempat ini kamu bisa melihat landscape Kota Semarang dari atas ketinggian.

Inibaru.id – Kali pertama saya menemukan ada wisata religi tersembunyi bernama Gua Maria Sartika memang atas unsur ketidaksengajaan. Waktu itu saya tengah berjalan-jalan pagi di sekitar kompleks Perumahan Jalan Dewi Sartika Barat, perjalanan saya cukup random hingga sampailah saya ke salah satu tempat suci umat Katolik ini.

Untuk mencapai ke Gua Maria Sartika sebenarnya cukup mudah. Nggak jauh dari Makam Sukorejo, tepatnya di depan makam agak ke barat, ada sebuah gang kecil. Masuklah ke gang tersebut hingga menemukan masjid yang di sampingnya ada gang menanjak di sebelah kanan. Naiklah ke tanjakan tersebut dan belok kiri mentok. Gua Maria Sartika telah sampai, letaknya di atas perbukitan yang cukup tinggi.

Penunjuj jalan menuju Gua Maria Sartika. (Inibaru.id/ Isma Swastiningrum)

Tenang saja, ada penunjuk jalan dari papan kecil juga kok menuju titik lokasi. Kalau takut tersesat ada peta daring. Gua Maria Sartika juga berdekatan dengan sebuah makam setempat dengan juru kunci, Pono dan berdampingan pula dengan perumahan penduduk sekitar. Tempatnya sangat adem, cocok untuk menenangkan diri.

Di tempat ini, saya bisa melihat landscape Kota Semarang dengan jelas. Spot-spot seperti Gunung Talang, Pasar Sampangan Baru, Tugu Suharto, Universitas Wahid Hasyim, Perumahan Candi Pawon, hingga Paramount Village terlihat dari atas ketinggian. Kamu dapat memandang pula pergerakan dari mobil dan bus yang lewat di jalan tol. Pun pesawat di atas langit pas lagi terbang. Keren juga menurut saya.

Patung Bunda Maria. (Inibaru.id/ Isma Swastiningrum)

Saya sarankan untuk datang pas pagi hari kala fajar dan senja kala matahari terbenam. Sinar hangat matahari di golden time tersebut sangat bisa kamu nikmati di Gua Maria Sartika. Saya pernah datang ke sana selepas hujan di sore hari. Sayangnya, waktu itu saya nggak melihat senja karena matahari tertutup awan gelap. Namun, saya bisa melihat betapa teduh kota sehabis hujan lewat atap-atap bangunan rumah penduduk.

Di sana saya bisa memperkirakan umur sebuah rumah hanya dari warna atapnya saja, lo. Pengin tahu caranya? Gampang sekali, kalau genteng sebuah rumah berwarna hitam, kusam, dan tua, berarti rumah tersebut sudah berdiri lama. Kira-kira bisa lebih dari sepuluh tahun. Kalau gentengnya masih bagus, kinclong, dan baru, kemungkinan besar rumah itu berdiri belum lama ini. Simpel kan? He he

Bangku tempat berdoa yang di belakangnya terdapat pemandangan Kota Semarang dari ketinggian. (Inibaru.id/ Isma Swastiningrum)

Gua Maria Sartika juga menyediakan beragam fasilitas untuk beribadah umat Katolik. Dari tempat duduk yang nyaman, patung Maria, injil, rosario, jalan salib, hingga fasilitas kamar mandi. Suasananya sangat mendukung buat berdoa.

FYI, dalam kitab Madah Bakti disebutkan ketika seseorang berziarah seperti di Gua Maria ternyata dia nggak sendirian. Persekutuan Gereja yang nampak didampingi persekutuan yang nggak nampak yang terdiri dari Kristus dan para Kudus, terutama Bunda Maria juga menemani.

Meski saya Islam, saya nggak ragu untuk berdoa sesuai agama saya di tempat ini. Tuhan Maha Mengetahui segalanya. Jangan sungkan-sungkan ya, tempat ini bisa dikunjungi untuk semua umat kok. Tertarik mencoba berkunjung, Millens? (Isma Swastiningrum/E05)