Melihat dari Dekat Kampung Pemulung Bambankerep

Melihat dari Dekat Kampung Pemulung Bambankerep
Suasana di kampung pemulung. (Inibaru.id/ Zulfa Anisah)

Berjalan dari rumah ke rumah semipermanen yang tampak sama di kampung pemulung Bambankerep membuat saya menyelami hidup para pemulung. Gimana cerita lengkapnya?

Inibaru.id - Nggak jauh dari TPA, kamu bakal menemui permukiman dengan rumah-rumah semipermanen yang terbuat dari sisa kayu, triplek, bahkan banner yang sudah nggak terpakai. Sering juga saya mendapati rumah yang menggunakan karung sebagai dinding, sekadar menghalau angin dan hujan. Ya, rumah yang saling berdempetan ini membentuk kampung kecil yang terlihat memprihatinkan dari luar. Namanya, Bambankerep atau yang umum dikenal dengan kampung pemulung.

Menurut satu warga kampung pemulung bernama Muhlisin, desa di Bambankerep, Kelurahan Kedungpane Kecamatan Mijen ini sudah ada sejak bertahun-tahun lalu. Penghuninya adalah pemulung yang kebanyakan merantau dari Boyolali atau Purwodadi.

“Yang di sini rumah pemulung semua. Di bawah atas di sana. Kebanyakan dari Boyolali dan Purwodadi,” tutur lelaki ini.

Rumah cuma terbuat dari beberapa barang bekas. (Inibaru.id/ Zulfa Anisah)
Rumah cuma terbuat dari beberapa barang bekas. (Inibaru.id/ Zulfa Anisah)

Lelaki yang sudah bercucu ini mengaku sudah enam tahun tinggal di kampung yang terletak beberapa langkah dari TPA Jatibarang ini. Di sini, para pemulung yang hendak tinggal nggak perlu membeli tanah. Cukup menyewa dan bangunan siap didirikan. Nggak banyak bahan bangunan yang mereka harus beli. Kebanyakan dari mereka biasa mencari barang bekas di tumpukan sampah.

Tarif sewa per tahunnya pun terbilang cukup murah. Besarannya pun tergantung luas petaknya. Menurut informasi yang saya dapat, sepetak tanah paling murah dihargai Rp 200 ribu per tahun. Sedangkan petak yang cukup luas dihargai Rp 350 ribu. Lebih murah dari biaya beli kuota internet bulanan ya?

“Saya sewa dua kapling, setahunnya Rp 700 ribu untuk ditinggali bersama anak cucu,” tutur Muhlisin.

Hidup Seadanya

Menurut saya, hidup di sini sungguh nggak bisa dibayangkan. Jalan setapak untuk lalu lalang dijamin becek sehabis hujan, nggak ada halaman, cuma ada teras yang dijadikan tempat menjemur atau bersantai. Beberapa penghuni yang hidup lebih beruntung biasanya punya televisi bahkan sound system sebagai hiburan di dalam rumah semipermanen mereka.

Markisah, perempuan yang baru dua tahun menghuni rumah kecilnya mengaku datang ke Semarang bersama suaminya dari Purwodadi. Bersama kedua anaknya, Markisah melewati berbagai kisah termasuk kerempongan ketika pindah rumah ke kampung ini.

Bicara soal fasilitas memang nggak selayak di daerah lain, contohnya akses air bersih yang sempat bermasalah. Beda dengan aliran listrik yang bisa mereka dapat dengan mudah.

“Nggak pakai PAM, beberapa waktu lalu sempat mati, jadi cari sumber air baru lagi,” tutur perempuan muda ini.

Nggak punya halaman! (Inibaru.id/ Zulfa Anisah)
Nggak punya halaman! (Inibaru.id/ Zulfa Anisah)

Ada satu keunikan dari kelurahan ini yang saya temukan. Menurut informasi, warga Bambankerep terbagi dua "kelompok" yaitu kampung pemulung dan kampung pengepul. Seperti beda kasta ya?

Beberapa warga membangun rumah semipermanen ini di dekat TPA. Ada pula yang memilih mendirikan bangunan di sekitar sungai di bawah Tempat Pembuangan Akhir. Sayangnya, mereka harus rela tergusur akibat perluasan TPA. Karena itu mereka sering berpindah-pindah.

O ya, meskipun saya nggak melihat sistem drainase yang bagus, warga kampung mengaku nggak pernah mengalami banjir selama musim hujan. Keluhan mereka selama musim hujan adalah genteng dan dinding yang bocor.

Kalau di daerahmu ada kampung kayak gini juga nggak, Millens? (Zulfa Anisah/E05)