Melawat Ulang Candi Sambisari dan Kenangan Bersama Kawan

Melawat Ulang Candi Sambisari dan Kenangan Bersama Kawan
Candi Sambisari memiliki satu candi utama dan tiga candi perwara. (Inibaru.id/ Isma Swastiningrum)

Di Candi Sambisari saya nggak hanya belajar akan sejarahnya. Di tempat ini pula kenangan bersama kawan-kawan membuat saya ingin terus menyambanginya.

Inibaru.id – Candi Sambisari merupakan salah satu candi yang cukup bersejarah bagi saya. Kalau dihitung, seingat saya ini adalah kunjungan kelima kalinya. Kali ini saya diantar teman dari Kos Dia di daerah Jalan Timoho Yogyakarta menggunakan motor.

Sebelum ini, empat perjalanan sebelumnya saya tempuh menggunakan sepeda dengan jarak sekitar 10 kilometer dari kos. Dua perjalanan saya lakukan berkelompok dengan beberapa teman di organisasi kampus, satu perjalanan saya lakukan dengan seseorang yang pernah dekat, satu perjalanan saya lakukan sendirian ketika nge-pit Jogja-Solo.

Candi utama yang di dalamnya terdapat arca Lingga-Yoni. (Inibaru.id/ Isma Swastiningrum)
Candi utama yang di dalamnya terdapat arca Lingga-Yoni. (Inibaru.id/ Isma Swastiningrum)

Kunjungan saya kelima sebenarnya lebih ingin memastikan bahwa kondisi candi ini masih sama: rapi, bersih, indah, dan tenang.  Senin (9/3) siang saya benar-benar memastikan memang Sambisari masih sama. Namun kondisi siang itu langit mendung, pengunjung yang datang hanya segelintir karena weekday.

Saya perhatikan ulang candi berbentuk bujursangkar menghadap ke arah barat dengan luas 13,65x13,65 meter dan tinggi 7,5 m itu lagi. Dia berdiri kokoh dan seperti hendak menyapa saya untuk melawat lebih dalam. Sebagaimana yang pernah saya lakukan dulu, saya masuk ke ruang candi utama yang terdapat  arca Lingga-Yoni.

Membaca ulang sejarah candi di ruang pusat informasi, sebenarnya Candi Sambisari pertama kali ditemukan secara nggak sengaja oleh seorang buruh tani yang tengah mencangkul. Tepatnya Juli 1966, cangkul si buruh tani membentur reruntuhan batu candi. Sayangnya yang dicatat dalam sejarah bukan nama buruh tani, tapi malah si tuan pemilik tanah. Kan saya jadi kesal!

Arca-araca yang berada di sisi luar candi utama. (Inibaru.id/ Isma Swastiningrum)
Arca-araca yang berada di sisi luar candi utama. (Inibaru.id/ Isma Swastiningrum)

Lanjut, berita penemuan candi yang berada di Dusun Sambisari, Desa Purwomatani, Kalasan, Sleman ini terdengar sampai Kantor Arkeologi di Prambanan. Candi kemudian diamankan dan dilakukanlah proses penggalian. Candi ini terpendam oleh tanah yang merupakan endapan lahar vulkanis Gunung Merapi. Lewat jasa para arkeolog yang melakukan penelitian sistematis, akhirnya candi bisa diselamatkan.

Untuk kali pertama, candi diresmikan oleh Direktur Jenderal Kebudayaan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Prof Dr Haryati Soebandio pada 23 Maret 1987. Mengeksplor lebih jauh, di candi utama saya menemukan batu-batu pipih di sepanjang selasar. Kabarnya pada 1876 sebuah prasasti emas telah ditemukan di candi utama. Bertulis om siwashtana (hormat, rumah bagi Dewa Siwa).

Main ke candi ini, saya jadi mengingat ulang kawan-kawan saya. Kenangan yang begitu melekat dengan salah satunya, ketika orang itu bercerita tentang keluarganya nun di pulau seberang sana. Saya dengarkan dengan khidmad. Saya tahu dia orang yang tertutup, tapi dia bisa bercerita dengan mudahnya pada saya. Ya, di Candi Sambisari saya memiliki seorang kawan. (Isma Swastiningrum/E05)