Mandi Pengantin dan Penganut Hindu di Dukuh Jengglengan Sragen

Mandi Pengantin dan Penganut Hindu di Dukuh Jengglengan Sragen
Salah satu  tempat sembahyang umat Hindu di Dukuh Jengglengan ( Solopos.com ) 

Dusun Jengglengan menjadi wilayah dengan penganut Hindu terbesar di Sragen. Di tempat ini, ada tradisi mandi pengantin di sebuah mata air yang disebut Sumur Gede.

Inibaru.id - Berada kurang lebih 30 kilometer ke arah timur dari pusat Kota Solo, Jawa Tengah, kamu bisa menjumpai satu wilayah yang sarat nilai sejarah. Sragen namanya, kabupaten yang memiliki situs manusia purba terpenting di dunia, yakni Situs Sangiran. Di situs itu fosil manusia purba ditemukan.

Berkat penemuan tersebut, Sragen kini dikenal sebagai kota destinasi wisata sejarah, padahal Bumi Sukowati nggak cuma itu. Kalau kebetulan tengah berkunjung ke Sragen dan bosan ke Sangiran, cobalah mampir ke Dukuh Jengglengan.

Dukuh yang dihuni 70-an keluarga itu berlokasi di Desa Tlogotirto, Kecamatan Sumberlawang. Yang menarik, sebagian besar warga Dukuh Jengglengan beragama Hindu. Bahkan, sebagian besar penganut Hindu di Sragen bermukim di dukuh ini. 

Umat Hindu di Jengglengan biasa beribadah di Pura Ananta Tirta Dharma Tlogotirto. Jadi, saat kamu menapakkan kaki di dukuh tersebut, nggak ada salahnya mampir sejenak ke pura ini. Waktu terbaik berkunjung ke pura tentu saja pas ada perayaan Hindu seperti Tawur Agung menjelang Nyepi.

Hidup Berdampingan

Pura Ananta Tirta Dharma Tlogotirto. (Solopos/Wahyu Prakoso)
Pura Ananta Tirta Dharma Tlogotirto. (Solopos/Wahyu Prakoso)

Kalau kamu pengin memaknai arti istilah toleransi beragama, bertandanglah ke Jengglengan. Di dukuh ini, penganut Hindu dan Islam bisa hidup berdampingan dan saling menghormati. Saking rukunnya, belum pernah ada kisah perseteruan antarumat berbeda keyakinan terjadi di sini.

Mereka memang sangat ramah. Keramahan itu paling mudah kamu temukan di sawah atau ladang, karena pekerjaan penduduk setempat rata-rata adalah petani. Bertandanglah ke hamparan sawah di dusun ini, maka selain pemandangan nan molek, kamu juga bakal disambut oleh kehangatan mereka.

Oya, para petani Dusun Jengglengan biasanya mengairi sawah dan ladangnya dengan irigasi dari mata air bernama Sumur Gede. Menurut warga setempat, sumber air itu punya nilai sejarah, lo. Sejarah tersebut konon berkaitan dengan berdirinya dukuh tersebut.

Kabar yang berembus, dulu kala para wali yang tengah menyebarkan Islam di Tanah Jawa mampir ke pinggir sebuah mata air untuk beristirahat. Pada pagi harinya, mereka mengentakkan kaki di tanah. Nah, saat mengentak, muncul suara "jenggleng", maka disebutlah wilayah itu Jengglengan.

Sendang yang Menjadi Sumur

Sumur Gede diberi luweng. (Solopos/Wahyu Prakoso)
Sumur Gede diberi luweng. (Solopos/Wahyu Prakoso)

Sumur Gede belokasi sekitar sepelemparan batu dari area persawahan. Kendati berwujud mata air, sendang, atau orang setempat menyebutnya belik, sumber air ini sejatinya lebih cocok disebut sumur lantaran memiliki luweng (bibir sumur), karenanya dinamai Sumur Gede.

Dikutip dari Solopos (4/3/2022), Ketua RT 18 Jengglengan Siswanto mengatakan, sumber air itu semula memang berbentuk mata air kecil atau belik. Suatu hari, penduduk setempat membuat luweng  dari beton agar bisa menjadi sumur.

"Waktu membangun sumur, warga pernah menemukan hambatan berupa batu besar yang sulit diangkat. Sempat berencana untuk menghancurkannya saja, keesokan harinya mereka justru mendapati batu besar tersebut sudah hilang," kata Siswanto.

Hingga kini, Sumur Gede masih digunakan sebagai sumber kehidupan warga setempat. Kalau kamu pengin melihatnya langsung, mata air ini berada nggak jauh dari area persawahan. Tempatnya mudah dikenali karena sudah ada bangunan beton beratap yang menaungi "sendang keramat" ini.

Ritual dan Tradisi di Sumur Gede

Ada jalan beton menuju Sumur Gede. (Solopos/Wahyu Prakoso)
Ada jalan beton menuju Sumur Gede. (Solopos/Wahyu Prakoso)

Beberapa jengkal dari Sumur Gede, ada sebuah pohon besar yang telah mengering. Ini bisa menjadi patokanmu kalau meu berkunjung ke tempat itu. Pohon besar itu tampak kontras dibanding lingkungan sekitarnya yang hijau.

Kemudian, ada jalan beton menuju ke mata air tersebut, jadi nggak perlu takut sepatumu kotor. Datanglah ke sini saat ada ritual bersih dukuh yang dilakukan secara berkala saban tahun. Bagi warga setempat, Sumur Gede memang diistimewakan.

Selain ritual bersih dukuh, warga juga punya tradisi unik lain yang sudah berlangsung turun-temurun di Sumur Gede. Tiap warga yang akan melangsungkan pernikahan wajib mandi dengan air yang diambil dari sana. Namun, calon pengantin kini umumnya mencuci muka dan kaki saja sembari memanjatkan doa. Tujuannya, agar hidupnya adem (nyaman) dan ayem (tenteram).

Menarik, bukan? Silakan datang dan nikmati sendiri kenyamanan di Dukuh Jengglengan ini. Eits, tapi tetap jaga sopan santun dan ikuti aturan setempat yang berlaku ya, Millens! (Sol/IB34/E03)