Menelusuri Sisa Masa Kolonial di Benteng Pendem Ambarawa

Sisa-sisa masa kolonial Belanda masih terasa kental di Benteng Pendem Ambarawa. Berkunjung ke sana membuat saya seperti berada di zaman kolonial juga.

Menelusuri Sisa Masa Kolonial di Benteng Pendem Ambarawa
Bangunan Benteng Pendem Ambarawa merupakan sisa masa kolonialisme. (Inibaru.id/ Mayang Istnaini)

Inibaru.id – Akhir pekan merupakan waktu yang paling pas untuk melepas penat. Yap, waktunya berlibur! Belum lama ini saya memutuskan untuk menghabiskan akhir pekan di tempat yang nggak terlalu jauh dari Kota Semarang, tapi juga nggak terlalu dekat. Ambarawa, wilayah yang masuk dalam Kabupaten Semarang itu pun menjadi pilihan saya.

Sekurangnya saya menempuh waktu sekitar 45 menit dari Kota Semarang menuju Ambarawa. Tujuan pertama saya adalah Benteng Fort Willem I atau lebih dikenal dengan Benteng Pendem Ambarawa.

Benteng peninggalan zaman penjajahan Belanda itu berada di Kelurahan Lodoyong, Ambarawa. Letaknya hanya sepelemparan batu saja dari RSUD Ambarawa.

Salah satu dinding benteng yang masih autentik. (Inibaru.id/ Mayang Istnaini)

Dari gapura masuk, saya harus melewati jalan setapak dengan sawah dan rumah warga di kanan kirinya. Kira-kira 500 meter, sampailah saya di tempat parkir. Nggak ada biaya masuk ke Benteng Pendem Ambarawa. Saya hanya harus membayar parkir sebesar Rp 5 ribu.

Eksotis, begitulah komentar pertama saya saat memasuki Benteng Pendem Ambarawa. Benteng yang selesai dibangun pada 1845 itu masih berdiri kokoh. Lumut dan tanaman liar yang tumbuh menutupi sebagian bangunan nggak membuatnya terlihat kumuh. Bangunan benteng justru terlihat semakin eksotis.

Peraturan di Benteng

Mengunjungi Benteng Pendem Ambarawa membuat saya seolah bertandang ke masa kolonial Belanda. Bagian-bagian benteng yang masih autentik membuat masa kolonial kental terasa. Saya pun segera berfoto-foto dengan latar belakang bangunan benteng yang khas. Wah, vintage banget deh!

FYI, saat ini separuh bagian Benteng Pendem Ambarawa difungsikan sebagai Lembaga Pemasyarakatan Kelas II A Ambarawa. Nah, bagian yang bisa dikunjungi hanyalah sebagian sisi utara benteng saja.

Tanda larangan untuk pengunjung tertera di salah satu sudut benteng. (Inibaru.id/ Mayang Istnaini)

Bangunan Benteng Pendem Ambarawa terdiri atas dua lantai. Pengunjung hanya diperbolehkan untuk menjangkau lantai pertama saja, Millens. Yap, ini karena lantai dua benteng masih difungsikan sebagai tempat tinggal pegawai lapas tuh.

Pengunjung yang mondar-mandir di lantai dua tentu akan mengganggu kenyamanan warga di sana. Yap, kita tetap harus menghargai privasi mereka, kan? Jadi, kalau kamu berkunjung ke sana, patuhi peraturan yang ada ya!

Puas mengagumi dan berfoto dengan latar arsitektur Benteng Pendem Ambarawa, saya pun bersiap untuk beranjak. Hm, destinasi wisata di Ambarawa mana lagi ya yang menarik untuk dikunjungi? (Mayang Istnaini/E03)